Ours In Another Story

Ours In Another Story
63. Momen yang tak Terganti


__ADS_3

Menjelang makan siang, ketiga model dadakan itu melangkah ke salah satu ruangan yang memang sudah disiapkan untuk acara makan-makan. Sementara para karyawan semua juga makan siang, Mama menyiapkan tempat khusus untuk keluarganya. Bukan karena beda menunya, hanya berbeda lokasinya saja. Agar tidak kacau dan menumpuk berebut mengambil makan siang.


Rere adalah yang terakhir melangkah masuk bersama dengan Nafiza dan Jevan. Lebih dulu dia mengambilkan piring kemudian dia isi dengan nasi dan lauk pauk untuk putrinya. Setelahnya dia mengajak putrinya untuk duduk bergabung dengan kakek dan neneknya yang makan di salah satu meja dikelilingi oleh cucu-cucu mereka.


Selesai memastikan Nafiza mulai makan dengan tenang, Rere melangkah kembali ke meja prasmanan untuk mengambil makan untuknya sendiri. Ketika dia ada di sana, Jevan masih berdiri bingung memilih antara mau makan ayam atau rendang saja. Rere tersenyum melihat suaminya. Dia memang belakangan ini suka plin plan dalam hal menentukan menu makan. Sepertinya kehamilan Rere berimbas pada suaminya.


Rere tidak mengalami ngidam sama sekali, hanya morning sickness saja yang dia rasakan tapi untuk ngidam Jevan semua yang ambil alih. Sering kali dia akan tiba-tiba ingin sesuatu. Beruntung jika tidak harus Rere yang membuatkan atau mencarikan. Jika mengingat ketika itu dia tiba-tiba ingin ice cream vanilla tapi harus Rere yang membuatkan kan repot. Sudah lelah mengurus semua pekerjaannya dia masih harus meladeni ngidamnya sang suami.


"Ayam aja enak," kata Rere di dekat telinga kiri Jevan.


"Rendangnya melambai-lambai. Ihh rendang buatan Mama tuh top markotop lho. Ambil rendang aja apa ya," kali ini Rere berkata di dekat telinga kanan Jevan.


"Tapi ayam goreng mentega gini jarang ada yang bikin seenak Mama yang buat, ayam aja deh," Rere kembali bicara di telinga kiri Jevan.


"Kamu ngapain sih?" tanya Jevan yang mulai terganggu dengan apa yang dilakukan oleh istrinya.


"Cosplay jadi isi kepalamu yang lagi bimbang mau ambil ayam atau daging," kata Rere sembari meraih sendok untuk mengambil rendang.


"Ada-ada aja tingkahmu Cantik..., Cantik...," kata Jevan geleng-geleng kepala.


"Lagian kamu ni aneh, ambil dua-duanya aja kenapa sih," kata Rere yang lebih dulu mengambil keduanya.


"Pemotretan sudah selesai belum?" tanya Jevan.

__ADS_1


"Hubungannya apa?"


"Ma, kalau pemotretan belum selesai tapi aku sudah makan sebanyak kamu makan, nanti otot perutku ngumpet. Nggak jadi cakep lagi lah aku," kata Jevan.


"Idih, cuma begitu doang?"


"Ya salah siapa kamu bikin pakaianku serba terbuka Cantiknya Jevando...," kata Jevan sembari mencubit gemas pipi Rere yang sekarang sudah berubah bulat seperti bakpao.


"Soalnya badanmu itu sayang kalau di sia-siakan, Gantengnya Rere...," Rere ikut membalas tapi tidak dengan mencubit pipi karena kedua tangannya sibuk memegangi piring yang terasa berat.


Setelah selesai berdebat di meja prasmanan, keduanya duduk membawa piring masing-masing. Keduanya duduk berhadapan dengan Jovan dan Monika yang membantu Lia menyuapi si Rama. Lucu sekali melihat bayi gembul berusia 1 tahunan itu terus berusaha memainkan sendok makannya. Di meja sebelah, Junius sibuk menghentikan putranya, Abimanyu yang terus mengoceh sambil mengunyah makanan sedangkan Lia anteng di hadapannya sembari menyuapi Kresna.


"Rama...," kata Monika sembari menjauhkan Rama dari meja karena anak itu berusaha meraih mangkuk tempat makannya.


"Anak-anak Lia kenapa bisa seaktif ini sih heran. Anak-anakku nggak ada gitu yang kaya Abimanyu atau si kembar padahal aku pengen punya anak yang aktif gini jadi aku nggak kuatir gitu lho. Kalau Tirta Genta tu aduhhh mereka diem aja kalau di rumah juga nonton tv doang udah sambil diem nggak doyan ngemil nggak doyan main. Genta lagi udah kenal gadget sekarang game terus," kata Monika.


"Mau dibuatin satu lagi yang aktif?" tanya Jovan.


Penuturan Jovan itu membuat semua yang mendengarnya terdiam. Tapi berbeda dengan Rere yang mulai tersenyum nakal. Pasalnya dia tahu jika Monika diam-diam mendambakan punya anak lagi. Dia berharap anak ketiganya akan seperti Nafiza atau seperti Abi.


"Acc Mon. Gas," kata Jevan.


"Je, ntar malem titip anak-anak ya," kata Jovan.

__ADS_1


"Tenang, anak-anak aman sama kakek neneknya pasti. Butuh tempat ngungsi nggak? Aku ada rekanan hotel bintang 5 yang kebetulan kemarin ngasih aku voucher diskon gede. Tapi karena Rere nggak mau diajak nginep di sana sedangkan vouchernya udah mau kadaluarsa jadi kamu pake aja," kata Jevan.


"Boleh?"


"Kenapa nggak? Paket 2 hari 1 malam di hotel berbintang, gimana? Menggiyurkan kan?" kata Jevan lagi.


"Deal. Gue ambil," kata Jovan.


Monika hanya bisa menatap tidak percaya. Masih saja kedua kembar ini bertingkah seperti ini. Ketika dia menoleh ke arah Rere mencari pembelaan, dia malah harus melihat Rere mengangkat kedua jempolnya tanda setuju. Monika akhirnya hanya bisa geleng-geleng kepala saja.


Selepas acara makan siang, sesuai janji Rere mengajak seluruh keluarga Kusuma untuk berfoto bersama. Jovan dan Jevan membantu Papa untuk berpindah dari kursi roda ke atas sofa sedangkan Junius membantu meletakkan kursi rodanya ke pinggir. Mama sudah duduk di sebelah Papa bersama dengan cucu-cucunya yang berdiri di sekeliling. Di belakang, berbaris rapi Jovan, Jevan, Junius, Monika, Rere, dan Lia.


Selesai sudah seluruh rangkaian acara, sementara semua karyawan merapikan tempat, keluarga Kusuma beristirahat di ruang yang sebelumnya dipakai untuk makan siang. Rere, Monika, Lia dan Mama berusaha membungkus semua makanan yang masih tersisa untuk dibagi-bagikan pada karyawan mereka sembari terus mengawasi anak-anak yang asik bermain. Sedangkan ketiga anak Papa, Jovan, Jevan, dan Junius bersama Papa duduk di salah satu meja sembari menikmati kopi dan teh yang disiapkan oleh istri masing-masing.


"Semuanya sudah siap Pa, kita bisa melaksanakan rapat dewan direksi segera dan menangkap pelakunya," kata Jovan.


"Berkas semua sudah siap. Bukti juga sudah lengkap, dan aku sudah meminta bantuan kepada polisi untuk membawa pelakunya sesaat setelah rapat besok selesai," kata Jevan.


"Papa tenang saja, tidak ada akan ada masalah lagi di Kusuma Group," tambah Junius.


Papa mengangguk-angguk kemudian berterima kasih pada ketiga putranya. Inilah yang sudah Papa idam-idamkan sejak lama. Melihat ketiga anaknya membantu dirinya dalam menyelesaikan masalah di perusahaan dan ikut mengatur jalannya perusahaan. Masalah ini sebenarnya sudah tercium sejak Papa masih menjabat tapi Papa tidak memiliki kuasa sebesar ketiga anaknya. Papa terlalu lemah dan akhirnya menyerah pada perasaannya karena dulu Papa pernah merasa terancam.


"Nak, hati-hati. Jaga keluarga kalian masing-masing," kata Papa kemudian.

__ADS_1


"Pasti Pa," jawab kompak ketiga putra kebanggaannya.


__ADS_2