
Rere dan Jevan begitu sampai di rumah adik bungsunya langsung disambut oleh Junius yang membukakan pintu. Junius tidak lupa memberi selamat setelah mendengar kabar baik dari kakak keduanya ini. Sudah bisa ditebak kalau berita kehamilan Rere akan menyebar dengan begitu cepatnya. Salah siapa Jevan meng-upload hasil USG pertama Rere ke sosial media. Sudah begitu Jevan dan Rere banyak memberi kabar ke sana kemari, baik pada keluarga maupun pada rekan-rekan mereka.
“Nafiza mana?” tanya Rere pada Junius. Pasalnya anak itu tidak ikut menyambut Papa Mamanya yang baru saja datang.
“Masih main sama si kembar tuh di kamar, masuk aja mbak,” kata Junius.
Rere kemudian melangkah masuk ke dalam kamar Junius dan mendapati Abi dan Nafiza tengah menggambar di lantai dekat kasur sedangkan di atas tempat tidur Lia sedang mengganti popok Rama. Begitu melihat ibunya datang, Nafiza langsung berhambur memeluk Mama. Ternyata dia tidak menyadari kedatangannya tadi makanya tidak ikut menyambut.
“Kak…, sini deh Papa kasih tahu,” kata Jevan memanggil Nafiza dari ruang tengah.
“Ada apa Pa?” tanya Nafiza.
“Nafiza sekarang beneran jadi seorang kakak. Tadi om Iyus juga sudah kasih tahu sama Nafiza kan? Di perut Mama ada adiknya Nafiza, jadi kakak yang pinter ya bantuin Papa buat jagain Mama sama adik, mau ya?” kata Jevan pada putrinya.
“Iya tadi om Iyus bilang gitu, terus tadi Nafiza tanya sama Om Iyus kok adik di perut Mama. Om Iyus bilang karena adik masih kecil. Kata om Iyus, adik masih gampang sakit makanya dijagain dulu sama Mama di dalem perut. Kaya dek kembar,” kata Nafiza begitu pintar.
“Duhh pinternya anak Mama…,” puji Rere sambil mencium kedua pipi Nafiza.
“Mas…, dibeliin martabak nih sama Om Jev. Sini keluar dulu kita makan bareng-bareng,” ajak Junius pada sulungnya yang ikut bahagia karena akan memiliki adik lagi.
Berhubung si kembar juga belum tidur, Lia dan Rere membawa Rama dan Kresna ke ayunan mereka di ruang tengah biar bisa diawasi sambil makan. Jevan dan Junius yang membantu memindahkan makanannya ke piring sedangkan Lia dan Rere masih berusaha menenangkan si kembar yang menangis karena mencari botol susunya.
Malam itu kedua keluarga itu makan malam bersama. Selesai makan malam, baru deh mereka pamit untuk pulang karena Rere harus kembali istirahat. Nafiza juga masih memiliki jam malam. Dia harus segera tidur agar besok pagi dia tidak kesiangan bangun dan berakhir ngantuk di sekolah.
__ADS_1
“Mama…, tadi Nafiza diajarin piano sama om Iyus,” kata Nafiza.
“Diajarin piano di mana?”
“Tadi pulang sekolah Abi sama Nafiza ke rumah nenek. Terus om Iyus ajarin Nafiza main piano juga,” jelas Nafiza.
“Kakak pengen bisa main piano?” tanya Jevan iseng, siapa tahu putrinya memang berbakat.
“Iya Pa, pengen bisa main musik dong boleh ya? Mau kaya Abi juga nyanyi cicak cicak di dinding pake alat musik,” kata Nafiza.
Rere tersenyum lebih dulu sebelum menjawab permintaan putrinya, “Boleh, besok Mama cariin les musik ya, biar kakak bisa belajar main musik. Biar keren kaya Abi,” kata Rere membuat binar di mata Nafiza semakin ketara.
“Di tempat Mas Kun coba Ma, kayaknya dosen musik kan? Barang kali tahu di mana les musik yang bagus buat anak-anak,” usul Jevan.
“Kalau yang jelas buka les musik mah Haikal dek. Kalau Mas Kun nggak tahu tuh buka kelas untuk anak-anak atau nggak. Soalnya sibuk juga orangnya,” kata Tiara.
“Yah Mbak, Haikal kejauhan. Masa tiap seminggu sekali aku harus ke Jakarta cuma buat ngantar Nafiza les? Kasihan adeknya dong,” kata Rere.
“Astaga iya kamu sekarang lagi hamil ya dek, duh lupa. Eh bentar dulu, kamu lupa ya Haikal kan mau pindah ke Jogja? Dia kan sekarang jadi dosen Musik di kampus dia dulu," kata Mbak Tiara.
"Lho jadi diambil tawarannya? Aku pikir nggak. Kerjaan dia di Jakarta sudah enak lho. Lili juga katanya kerja," kata Rere agak kaget mendengar kabar itu.
"Jadi diambil. Baru kemarin sore ngabari Papanya anak-anak, minta tolong dicarikan kontrakan. Coba kamu hubungi, tanya aja dia mau pindah ke Jogja kapan," kata Mbak Tiara lagi.
__ADS_1
Rere tidak pikir panjang, dia langsung menghubungi Haikal sepupu rasa anak kembarnya itu, "Gembul kok jahat banget nggak kasih kabar kamu mau pindah ke Jogja?" semprot Rere langsung begitu Haikal mengangkat teleponnya.
"Astaga Ibu, mohon sabar ya jangan marah-marah kasihan itu bayi masih segede kacang kamu ajak marah-marah. Aku tuh bukan nggak mau ngabarin, cuma belum. Kabar jadinya aja baru kemarin sore. Aku niatnya mau kabari kamu kalau sudah dekat-dekat waktu pindahan biar nggak heboh. Males denger ocehanmu. Ocehan istriku aja udah bikin pening di kepala, apalagi ditambah kamu yang mulutnya ada sembilan," kata Haikal.
"Jahat banget sumpah. Terus kapan pindahnya?"
"Kalau aku sih pindah tinggal pindah ya. Yang ribet urusan ibu negara sama anak-anak nih. Harus ngurus resign sama nyari sekolah dulu. Paling nggak sebulan deh, bulan depan insyaallah udah di Jogja. Emang kenapa sih? Ngebet banget pengen ketemu? Kangen? Apa gimana? Atau kamu lagi ngidam dijajanin cimol lagi kaya waktu itu?" tanya Haikal.
"Soal jajan cimol itu bisa diatur, cuma ini anakku pengen bisa main musik. Kakaknya Mbak Tiara sibuk makanya nggak buka les-lesan makanya aku calling kamu," kata Rere.
"Oh kalau soal les musik sih aku nggak mau buka ya, tapi kalau buat kelinci kesayangan apa sih yang nggak. Dateng aja ke rumah biar latihan sama anak-anakku. Besok kalau aku udah di Jogja kita atur jadwal, oke?"
"Ok siap. Thanks Kal," kata Rere sebelum menutup telepon.
Begitu Nafiza dengar kalau yang akan mengajarinya adalah om gembul dia langsung berjingkrak senang sampai melupakan di mana dia sedang duduk sekarang. Untung Nafiza tidak terlalu bergembira dan membuatnya oleng karena berjingkrak di mobil yang sedang berjalan. Jevan melihat anak dan istrinya bisa begitu senang dan bahagia juga ikut bahagia. Tanpa sadar tangan kirinya sudah menggenggam tangan kanan Rere dan menciumnya.
"Papa kok cium tangan Mama?" tanya Nafiza membuat Jevan tersenyum.
"Kan Papa sayang sama Mama, masa mau cium nggak boleh?"
"Nggak boleh. Mama kan punya Nafiza sama adek bayi. Mulai sekarang Papa kalau mau cium Mama harus minta izin Nafiza dulu," kata Nafiza yang tidak terima ibunya dibagi.
"Iya iya, suka suka tuan putri aja deh," kata Jevan kemudian tertawa melihat Nafiza berdiri dari duduknya kemudian mencondongkan badannya ke depan hanya untuk mencium pipi Mama. Untung Jevan sedang berjalan pelan dan kondisi lalu lintas sedang lengang, coba kalau tidak anak ini bisa nyungsep ke depan dan menangis karena benjol.
__ADS_1