
“Ahh Jevando, beliin kenapa sih. Satu scoop aja, ya? please, please, please,” kata Rere masih merengek seperti anak kecil.
“Hmm, nggak ah..,” kata Jevan masih ingin menggoda dan kali ini Rere berakhir dengan marah.
“Tau ah Jevan nyebelin,” Rere begitu saja melepas tautan tangan mereka dan lebih memilih untuk berjalan meninggalkan Jevan. Bukannya meminta maaf, Jevan malah membiarkan Rere berjalan meninggalkannya jadi dia bisa mendapatkan foto punggung Rere yang sedang berjalan.
Baru beberapa foto dia dapat, Jevan melihat seseorang menabrak Rere dan membuatnya terjatuh. Bukannya minta maaf, orang itu justru menyalahkan Rere. Jevan berlari mengejar, kemudian membantu Rere untuk berdiri. Dia bahkan melihat siku kanan Rere terluka tapi orang ini masih tetap marah-marah dengan dalih Rere yang salah karena tidak melihat-lihat ketika jalan. Sudah memarahi Rere tidak jelas, dia pakai nada tinggi pula. Rere sudah mulai menunduk dan menutup kedua telinganya. Ayolah sekuat-kuatnya Reva Aulia, dia paling tidak bisa mendengar nada tinggi.
“Pak, sesalah-salahnya istri saya, saya bahkan nggak pernah ngebentak loh. Kok Bapak yang bukan siapa-siapa berani ngebentak?” kata Jevan.
“Mas…,” Rere berusaha menyeret Jevan karena takut suaminya tersulut emosi dan malah membuat Rere semakin takut.
Jevan menurut, mereka pergi begitu saja. Membiarkan bapak-bapak tadi diurus oleh pihak keamanan. Dasar menyebalkan. Gara-gara orang menyebalkan itu Rere sekarang jadi lemas tidak bertenaga. Pak Purnomo yang khawatir langsung berlari untuk mencarikan air putih guna menenangkan Rere. Sedangkan Jevan kini duduk berjongkok di hadapan Rere dan menggenggam kedua tangannya yang masih takut.
“Udah tenang?” tanya Jevan setelah Rere akhirnya berhasil menarik nafas panjang.
Jevan memberikan air putih yang dibawakan oleh Pak Purnomo dan membantu Rere untuk minum. Tangannya masih bergetar, jadi Jevan bantu pegang botolnya.
“Coba lihat sikumu,” kata Jevan kemudian membasuh luka itu dengan air dan mengeringkannya dengan tissue.
“Mas, beneran Mbak Reva nggak kenapa-napa?” tanya pak Purnomo.
“Reva punya trauma pak, makanya bisa gini. Tapi udah nggak papa kok Pak, yang penting udah tenang,” kata Jevan.
__ADS_1
“Mas Jevan…,” panggil Rere.
“Hmm?”
“Ice cream…,” katanya pelan.
Setelah membuat banyak orang panik dia justru minta ice cream. Untung pak Purnomo sabar orangnya, kalau tidak, mungkin sudah ditinggal kedua orang ini. Jevan sih tidak protes. Justru dia bisa tersenyum lega karena Rere sudah ingat tadi dia minta apa berarti dia sudah baik-baik saja. Sebagai reward karena Rere berhasil mengendalikan dirinya, Jevan tidak tanggung-tanggung belinya. Dia membebeaskan Rere untuk membeli berapapun dia mau. Padahal kan udara pegunungan begini dingin tapi Rere sanggup menghabiskan ketiganya dalam waktu singkat. Jevan saja satu tidak habis-habis.
“Wahh kayaknya kalau kamu hamil besok makanmu bisa ngelebihin porsinya Cedar deh Ma,” kata Jevan.
“Nggak mungkin, dia kan sekali makan 1.5 porsi kuli gitu. Nggak akan sanggup aku,” kata Rere.
“Iya kan dia makan tok, kalau kamu makan plus ngemil, mana kalo minum udah kaya unta,” kata Jevan sambil mengelap sisa ice cream di sudut bibir Rere dengan ibu jarinya. Baru mau dia jilat, ehh Rere sudah menahan tangannya, dan Rere yang menjilat jempol Jevan. Katanya dia tidak rela ada setetespun ice creamnya tersisa. Suka-suka kamu sajalah Re, ketimbang rewel Jevan juga yang pusing nanti.
“Udah Ma, apalagi? Biar sekalian maketinnya jadi habis ini nggak belanja-belanja lagi,” tanya Jevan.
“Yang buat oleh-oleh cukup sih. Mas mau beli apa?” tanya Rere.
“Beli kaos yuk. Tadi aku liat di sana, ada sablonan kaos gitu,” kata Jevan.
“Boleh sih, tapi aku beli skincare boleh ya,” bujuk Rere.
“Boleh, tapi jangan kebanyakan. Mubazir,” kata Jevan memperingatkan.
__ADS_1
Selesai belanja, mereka menitipkan semuanya ke pak Purnomo karena beliau yang katanya mau membantu Jevan dan Rere untuk membawa belanjaan mereka ke ekspedisi besok. Saat ini Jevan dan Rere sedang makan malam di salah satu warung makan lokal. Alasan mereka ke sana karena Rere tadi sempat mencari-cari rumah makan yang dekat dengan hotelnya dan nyaman untuk dipakai mengobrol sembari menikmati makan malam romantis berdua. Dari sekian banyak yang Rere temukan, Rere memilih tempat itu hanya karena satu alasan. Di sana ada kelinci-kelinci yang dibiarkan berkeliaran menemani para pengunjung.
Bisa ditebak, sekarang Jevando kita yang cemburuan ini tengah cemberut tidak jelas karena Rere lebih memilih bermain dengan seekor kelinci besar berwarna putih yang manut-manut saja dielus-elus Rere. Rere bahkan rela berjongkok di bawah hanya untuk bermain dengan kelinci itu. Jevando boleh saya tidak tergantikan di hati Rere, tapi tetap saja dia akan kalah oleh seekor kelinci.
Setidaknya Jevan bisa lega, sudah lama dia tidak melihat Rere tenggelam dalam dunianya sendiri. Mengobrol dengan makhluk lucu yang sebenarnya tidak bisa diajak bicara tapi seperti bisa mendengar dan merasakan apa yang Rere rasakan. Andai kata rumah mereka tidak di perumahan yang rumah satu dan yang lainnya hampir menempel satu sama lain, Jevan pasti sudah membelikan sepasang kelinci dan membiarkan istri dan putrinya merawat bola bulu bertelinga panjang itu sampai beranak pinak.
Rere berjongkok, mengobrol, dan sesekali tertawa ketika kelinci itu melompat-lompat lalu tidak lama kemudian akan kembali pada Rere lagi. Rere bahkan sempat meminta izin pada pelayan yang kebetulan lewat tidak jauh dari mereka untuk bisa memangku kelinci itu. Rere langsung memangkunya dan terus mengelus-elusnya. Aneh, kelinci itu begitu menurut dan saat ini Jevan lihat mulai memejamkan matanya karena nyaman.
"Cantik, makannya sambil dihabisin," kata Jevan.
"Mas, kelincinya lucu," kata Rere.
"Kaya kamu. Lucu."
"Pengen bawa pulang," kata Rere.
"Nggak bisa sayang, sudah ya biar dia main sama teman-temannya. Yuk kita lanjutkan makannya, ini sudah mulai malam. Kita harus segera kembali ke hotel biar kamu bisa istirahat," nasehat Jevan yang entah kenapa jadi persis seperti ketika dia menasihati putrinya yang sama-sama penggila kelinci.
"Kayaknya aku kalau balik ke hotel sekarang malah nggak bisa istirahat deh," kata Rere.
"Ya gimana, tujuan utama kita kan memang itu cantik. Ya? Mas udah kangen banget nih," kata Jevan.
"Iya, iya," kata Rere.
__ADS_1
Dia kemudian menurunkan kelinci itu dan membiarkannya melompat menjauh, bergabung dengan kelinci-kelinci lain yang tengah memakan kangkung di dekat kandang mereka. Rere kemudian segera fokus kembali ke makan malamnya bersama dengan Jevan yang mulai bersemangat karena dia sudah membayangkan kebahagiaan apa yang akan datang padanya setelah ini.