Ours In Another Story

Ours In Another Story
45. Mencari Monika


__ADS_3

Jovando baru saja pulang dari kantor. Dengan kondisi lelah dan kelewat pusing. Dia bahkan berjalan keluar dari tempat parkir dengan langkah yang ogah-ogahan berharap setelah ini Monika akan menyambutnya dengan hangat seperti biasanya. Sayangnya Jovando terluka dengan ekspektasinya sendiri.


Ketika Jovan melangkah masuk ke dalam rumah dia hanya menemukan kedua putranya sedang bermain bersama pengasuhnya tanpa keberadaan Ibunya. Jovan langsung bertanya, namun pengasuh yang tidak tahu apa-apa itu hanya mampu meminta maaf dan berkata dengan menekan ketakutannya. Baru sekali ini dia melihat amarah tuannya dan itu sangat menakutkan hingga dia lebih senang diminta untuk pergi dibanding berada di tempatnya saat ini.


“Bi, kemasi baju buat Tirta sama Genta. Bibi juga, ikut aku ke Indonesia sekarang,” kata Jovan setelah mendengar penjelasan dari pengasuh anak-anaknya.


Jovan langsung sibuk menelpon kesana kemari. Mulai dari Papa, Mama, Jevan, Junius, kedua iparnya, bahkan orang tua Monik dia hubungi. Tidak satupun yang mengetahui keberadaan Monika. Malah dia disemprot oleh kedua mertuanya. Jovan langsung memesan tiket pesawat dan membawa kedua anaknya ke bandara. Begitu sampai di Indonesia, Jovan menitipkan anak-anak di rumah orang tua Monik sekaligus dia meminta maaf sudah lalai menjaga Monika yang selalu menjadi putri kebanggaan kedua orang tuanya.


“Wis, sekarang anak-anak tinggal di sini, kamu coba cari Monika di rumah saudaramu atau di rumah orang tuamu. Dia nggak di sini, Bunda telpon juga nggak ngangkat,” kata Bundanya Monika dengan penuh kesabaran. Berbeda dengan Ayahnya yang memarahi Jovan bahkan hampir memukul menantu laki-lakinya itu jika saja beliau tidak ingat ada dua cucunya menangis di pelukan neneknya.


“Kamu cari anak saya sampai ketemu. Kalau tidak, Tirta dan Gentala nggak akan pernah saya izinkan bertemu denganmu. Walaupun kamu adalah ayahnya,” kata Ayah Monika.


“Jov, kamu sekarang mandi terus makan dulu. Biar pikiran kamu tenang. Baru kamu berangkat cari Monika. Bunda paham anak Bunda seperti apa. Monika tidak akan senekat itu melakukan hal-hal aneh. Alasan kepergiannya mungkin saja karena dia merasakan lelah. Bunda yakin dia tidak akan menyakiti dirinya sendiri, jadi kamu jangan panik ya. Kasihan anak-anak kamu,” kata Bunda.


“Maaf Bunda, kayanya aku mau langsung pergi aja,” kata Jovan.


“Kamu mau kemana nyarinya?” tanya Ayah.


“Aku mau coba ke rumah Jevan dulu baru ke rumah sahabat-sahabat Monika,” kata Jovan.

__ADS_1


“Jov, coba kamu ke rumah Paklik di Bantul. Mungkin Monika di sana. Dia kan dekat sama Buliknya, kamu masih ingat jalan ke sana kan?”


“Iya Bunda, aku masih ingat. Nanti aku coba ke sana. Jovan pergi dulu ya, maaf titip anak-anak,” kata Jovan.


Jovan dengan segera menuju ke rumah saudara kembarnya. Beruntung Ayah mertuanya dengan senang hati meminjami motor jadi Jovando tidak kesulitan karena dia memang tidak punya kendaraan. Mau pinjam mobil Papa pun dia tidak berani. Jika Papa tahu sampai Monika pergi dari rumah, bisa putus kepala dan badannya bahkan sebelum dia melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah orang tuanya.


Jovan melihat pagar rumah Jevan sudah tertutup rapat. Lampunya tidak menyala, tapi kondisi terasnya belum di sapu. Banyak sampah daun gugur dari pohon mangga di depan rumah Jevan berserakan di lantai. Pintunya juga tertutup rapat seolah rumah ini sudah kosong beberapa hari. Jovan berusaha menelpon saudara kembarnya juga Rere namun tidak ada yang menjawab panggilannya. Jovan kembali menyalakan motornya lalu menuju ke kantor Jevan. Ketika sampai di kantor, dia melihat Cedar yang dia tahu adalah asisten saudara kembarnya. Jovando langsung mendekatinya sebelum laki-laki itu sempat masuk ke dalam butik.


“Mas Cedar, maaf masih ingat saya kan?” tanya Jovan.


“Eh ini Mas Jovan ya? Iya saya ingat. Bagaimana Mas, ada yang bisa saya bantu?” tanya Cedar memastikan.


“Waduh, Mas Jevannya nggak datang hari ini. Mbak Rere juga kan masih sakit jadi mungkin Mas Jevan bantu Mbak Rere ngemong Nafiza,” kata Cedar.


“Tapi di rumah kosong tuh,” kata Jovan.


“Wah nggak ngerti saya. Mas Jevan nggak semuanya diceritain ke saya sih Mas. Coba saja di telpon. Atau tanya mawon ke Mas Junius, mungkin orangnya tahu,” kata Cedar menyarankan.


“Ya sudah kalau begitu terima kasih Mas Cedar,” kata Jovan.

__ADS_1


Dia kembali melajukan motornya menuju ke rumah Junius. Sebenarnya dia agak pesimis, karena Jovando tahu jika Junius dan Lia tidak akan ada di rumah di jam-jam seperti ini. Junius pasti sedang mendekam di kantor sedangkan Lia ada di sekolah. Nyatanya firasat dia benar. Jovan hanya bertemu dengan kedua orang tua Lia yang sedang bermain dengan si kembar di teras rumah sambil menyuapinya.


“Nggak papa Bu, Pak, nanti kalau sudah di rumah saja saya titip pesan kalau tadi saya kemari mencari Junius dan Lia. Kalau begitu saya pulang dulu, permisi,” kata Jovan.


Sudah habis tenaganya untuk berkeliling. Kepalanya mulai pening dan dia baru sadar sejak semalam dia memang belum makan apapun. Terakhir kali dia menelan makanan adalah ketika makan siang yang bahkan tidak selesai karena ada wanita pengganggu yang menjadi biang kerok masalah rumah tangganya.


Jovan melipir mencari minimarket yang banyak terdapat di pinggir jalan. Dia membeli satu strip panadol dan sebotol air mineral. Dia tenggak begitu saja obat yang dibelinya tadi dengan bantuan air putih yang separuhnya dia siramkan ke kepala demi mendinginkan ubun-ubun yang terasa sudah begitu panas terbakar. Ketika dia akan pergi ke daerah Bantul, teleponnya berdering dan menampakkan nama adik bungsunya di layar. Tanpa pikir panjang Jovando mengangkatnya berniat menanyakan keberadaan Monika.


“Mas, Papa masuk rumah sakit. Mas bisa pulang nggak? Sebentar aja,” kata Junius bahkan sebelum Jovan sempat membuka mulut.


“Apa?!”


“Papa masuk ICU pagi ini, kalau Mas ada wak….”


“Mas ke sana sekarang.”


Pikiran Jovan teralihkan. Mendengar kabar papanya masuk ke rumah sakit membuatnya bingung dan takut. Dengan kecepatan penuh dia menuju ke rumah sakit rintisan Papanya dan mencari di mana Papanya berada. Di sana sudah ada Mama yang menemani Papa di dalam ruang ICU sedangkan Junius ada di luar. Junius sudah menjelaskan kenapa Papa bisa masuk rumah sakit dan hal itu membuat Jovan semakin ingin menangis.


“Papa pagi tadi pingsan dan jatuh di kamar mandi. Dokter bilang Papa stroke. Kondisinya sudah membaik sih tapi belum sadar,” kata Junius penuh kekhawatiran.

__ADS_1


__ADS_2