Ours In Another Story

Ours In Another Story
50. Hari Mulai Sibuk


__ADS_3

Jevan terbangun dengan badan hampir remuk karena Rere yang memaksanya tidur di sofa. Badannya semakin terasa remuk karena Jevan terbangun setelah jatuh. Jika bukan karena semalam dia malas mandi dan mengabaikan rengekan Rere, dia pasti akan bangun dengan kesegaran maksimal pagi ini. Nah ini, sudah sakit badan, tidak dapat morning kiss, ditertawakan Nafiza pula. Apes sekali Jevan hari ini. Padahal kemarin dia baru kembali dari Singapura berharap mendapatkan pelukan hangat tapi realita yang menyapanya pagi ini berbanding terbalik dengan apa yang dia bayangkan selama di pesawat.


"Kak udah dong ngetawainnya," kata Jevan yang duduk di sofa memeluk bantalnya.


"Hihihi habis Papa lucu. Papa kan sudah besar masa tidur aja jatuh," kata Nafiza.


"Ini gara-gara Mama tahu bikin Papa tidur di sofa," kata Jevan mengadu pada putrinya yang terus tertawa.


"Salah siapa semalem di suruh mandi nggak mau ya Kak? Jadi tidur di sofa kan," kata Rere tidak terima disalahkan.


"Iya. Papa bau kalo nggak mandi. Pokoknya nanti malem kalo Papa nggak mau mandi Papa nggak boleh bobok sama adek. Kasihan adek kebauan," kata Nafiza.


Jevan melotot. Tidak percaya kalau anak kesayangannya ini akan tega membiarkan Papanya tidur di sofa. Dia bilang adiknya kebauan? Ayolah Nafiza, adikmu itu hidungnya bahkan belum sempurna terbentuk. Bagaimana bisa dia mencium bau keringat Papa.


Padahal ketika hamil Nafiza dulu Jevan ingat Rere begitu manja dan terus menempel padanya. Setiap malam Rere selalu minta dipeluk karena katanya bau badan Jevan yang bercampur aroma sabun sangat menyenangkan untuk dihirup. Sedangkan ini? entah si kecil maunya apa tapi kalau Papa bau keringat sedikit saja Mama akan langsung mual-mual. Padahal keringat Jevan tidak sebau itu. Dia bahkan terbilang wangi kalau dibandingkan dengan Jovan dan Junius yang bau keringatnya seperti kambing tidak pernah mandi.


"Dah, mau Papa dulu yang mandi apa Kakak dulu yang mandi?" tanya Rere.


"Aku mandi sama Mama ya," kata Nafiza.


"Kak, kamu kan sudah besar. Masa kalau setiap mandi harus sama Mama? Mandi sendiri ya?"


"Tapi Nafiza mau bantu Mama mandiin adek Ma," kata Nafiza.


"Yaudah sana mandi dulu berdua, Papa mau manasin mobil dulu," kata Jevan pada kedua cantiknya yang akhirnya melangkah ke dalam kamar mandi bersama.


***


"Nafiza, nanti kamu pulangnya nggak usah main ya. Begitu Papa sama Mama jemput kita langsung pulang," kata Rere pada Nafiza yang bernyanyi riang mengikuti lagu anak-anak yang Jevan setel dari speaker mobil.


"Kenapa Ma? Mama buru-buru ya?"


"Iya sayang, maaf ya. Mama harus nemani Papa," kata Rere.


"Yaudah Nafiza di rumah nggak papa kok Ma, adek biar kakak yang jagain," kata Nafiza dengan polosnya.

__ADS_1


"Nggak bisa kakak, kan adek masih di perut Mama. Nanti ya kalau adek sudah lahir baru kakak bisa jagain adek. Kalau sekarang biar Papa sama Mama dulu yang jagain," kata Jevan berusaha memberi pengertian.


"Tapi kalo adek dibawa kerja sama Papa sama Mama terus capek, Nafiza nggak mau adek capek Pa," katanya dengan nada murung.


"Nggak kok. Mama janji nggak bikin adek capek. Kan adek belum bisa dikeluarin sekarang sayang adek masih kecil banget. Nih, perut Mama aja belum besar," kata Rere sambil membuka sedikit outernya agar perut Rere yang terbilang masih rata terlihat oleh putrinya.


"Terus Mama jagain adek berapa lama lagi Ma?" tanya Nafiza.


"Hmm..., 5 bulan lagi."


"Lima bulan itu lama nggak Ma?"


"Nggak kok," jawab Rere.


"Kakak sekarang sekolah dulu ya yang pinter. Nanti kalau adik sudah lahir boleh kok kalau Kakak mau jagain," kata Jevan lagi.


"Iya Pa," jawab Nafiza akhirnya kembali tersenyum.


Jevan dan Rere menurunkan Nafiza di gerbang sekolah, memastikan anak itu sudah bertemu dengan ibu gurunya baru Jevan dan Rere pamit. Selama perjalanan, Rere sempat mengeluh jika dia mabuk. Kepalanya pusing dan membuatnya mual. Jevan jelas saja bingung. Dia sudah melajukan mobilnya dengan sangat pelan, di lajur paling kiri, dan beberapa kali mereka mendapatkan klakson karena di belakang mereka menginginkan Jevan menyetir lebih cepat.


"Tahan ya 5 menit lagi sampai," kata Jevan.


Jevan langsung mematikan AC dan Rere membuka jendela di sebelahnya. Setelah itu Rere bisa sedikit agak tenang. Dia diam menatap keluar dan meletakkan kepalanya pada sandaran kepala. Jevan mengelus kepala Rere yang memang cukup berat melawan morning sickness-nya.


"Mas...,"


"Kenapa Cantik?"


"Kok firasatku nggak enak sih ya?" kata Rere.


"Nggak enak gimana?"


"Nggak tahu kaya rasanya tuh bakal ada sesuatu yang terjadi aja gitu," kata Rere.


"Udah ah ibu hamil jangan mikir aneh-aneh. Mikir yang baik-baik aja ya Mama. Kalau pikirannya mulai aneh-aneh cari pengalihan deh. Main sama kakak atau gambar atau apalah, aku juga akan selalu ada sama kamu. Kalau nggak ketemu telfon deh. Hp-ku on 24 jam," kata Jevan.

__ADS_1


"Semoga keluarga kita semuanya baik-baik saja Mas," jawab Rere.


"Aamiin."


***


Mendekati jam pulang sekolah, Rere meraih handphonenya dan meminta Jevan untuk turun. Selain itu mereka juga harus menghadiri undangan dari seseorang yang mengajaknya makan siang bersama jadi Rere tidak lupa untuk pamit pada pegawainya.


"Hanna, nanti kalau ada yang datang suruh nunggu dulu ya aku kembali jam 2," kata Rere.


"Eh Mbak tunggu sebentar, ada yang mau aku omongin," kata Hanna menahan langkah Rere keluar dari ruang kerja mereka.


"Ada apa?"


"Soal projek kita, saya ada beberapa usulan design. Tapi bingung ini mau dipakaikan ke siapa. Mbak Rere keburu nggak?" tanya Hanna dengan ragu.


"Mana design-nya?"


"Ini mbak."


"Lho ini sudah kamu plot," kata Rere ketika melihat ada catatan kecil di setiap design yang dibuat asistennya.


"Cuma yang untuk Mas Junius saja. Yang untuk Mas Jovan dan Mas Jevan kan belum, Mbak."


Rere diam-diam tersenyum. Mau bagaimanapun juga dia tahu masa lalu Hanna dan Junius. Dia tidak bisa melupakan itu walaupun saat ini Hanna sudah bahagia dengan Cedar dan Junius sudah bersama dengan Lia. Bahkan Rere bisa bilang jika untuk membuat pakaian untuk Junius Hanna lebih pintar dibanding dirinya. Hanna bisa mengenali dengan baik selera Junius dan membuatkan model pakaian yang pas ketika dipakai.


"Untuk yang satu ini ke mas Jevan, yang ini Jovan, Jovan, Jevan, Jevan, sisanya bebas saja," kata Rere memberikan catatan kecil di setiap designnya.


"Nih sudah," kata Rere.


Hanna menatap catatan-catatan itu kemudian kembali menatap bosnya, "Mbak yakin?"


"Kenapa?"


"Ini kenapa yang bakal dipakai sama mas Jevan yang terbuka semua begini? Mbak nggak papa nih badan suaminya diekspos ke publik?" tanya Hanna.

__ADS_1


"Ini cuma pekerjaan. Aku nggak sekolot itu kok jadi istri. Yang aku tahu hati dan perhatian Mas Jevan tetap buat anak istrinya, itu sudah cukup. Selama aku dan anak-anakku masih jadi prioritasnya aku tidak masalah dengan apapun yang dia lakukan," kata Rere membuat Hanna mengangguk.


"Sembari nunggu aku balik kalian boleh langsung buat pola dan cutting," kata Rere sebelum dia kembali melangkah keluar dari butik.


__ADS_2