
Sepulangnya mereka dari pemakaman, entah kenapa Jovando tiba-tiba menjadi melow. Seusai membersihkan badannya dia nyaman menatap langit malam di balkon lantai dua. Pikirannya berkelana kesana kemari. Banyak kata andai yang dia ucap dan banyak rasa rindu yang dia utarakan. Monika yang berniat memanggilnya untuk makan malam akhirnya juga ikut terhanyut dalam lamunan suaminya.
"Ayah keinget Jevan ya?" tanya Monika.
"Hmm, selama menyelesaikan masalah ini Ayah selalu merasa ada Jevan yang bantu Ayah," kata Jovan sambil menggenggam tangan istrinya.
"Sama. Rasanya seperti Rere juga masih ada di sini. Aku kangen sama mereka berdua," kata Monika.
"Sudah hampir 7 tahun berlalu sejak kepergian mereka tapi entah kenapa rasanya mereka masih ada di sini. Di setiap langkah yang kuambil aku masih merasakan dorongan dan dukungan Jevan," kata Jovan.
"Ayah..., menurut Ayah apa Jevan dan Rere bahagia di surga sana?" tanya Monika.
"Tentu saja."
"Besok adalah peringatan hari kematian Jevan dan Rere. Bisa tidak kita besok ke sana lagi? Hanya kita berdua," kata Monik.
"Tadi kita sudah ke sana. Kamu mau ke sana lagi?" tanya Jovan.
"Aku mau minta izin sama mereka," kata Monika.
"Izin apa?"
__ADS_1
"Anak ini...," kata Monika sambil mengelus perutnya yang mulai besar.
"Aku pengen minta izin ke Jevan dan Rere untuk pakai nama yang pernah mereka buat untuk Nafiza andai dia terlahir laki-laki dulu. Nama itu mau aku pakaikan buat dia. Bagaimana menurut Ayah?" tanya Monika pada suaminya yang kini tersenyum memandanginya.
"Memangnya Bunda tahu siapa namanya?"
"Tahu. Adinata. Rere pernah cerita, ketika dia hamil Nafiza dulu. Dia bilang kalau anaknya ternyata lahir laki-laki akan dia beri nama Adinata. Namanya bagus dan terdengar lembut. Nama yang terdengar hangat tapi tetap memiliki pendirian dan ketegasan. Rasanya seperti benar-benar ada Jevando dan Rere dalam nama itu. Aku ingin anak ini bisa tumbuh jadi anak yang sabar dan pantang menyerah seperti Rere dan begitu penyayang dan baik hati seperti Jevan," jelas Monika.
"Boleh saja. Lakukan semua yang kamu mau Bunda. Jika itu baik pasti akan ayah dukung," kata Jovan kemudian memeluk Monika.
"Aku tahu nggak baik selalu membawa-bawa orang yang sudah meninggal tapi untuk sekali ini saja. Rinduku sudah terlalu menyiksa. Setelah semua yang kita alami kemarin rasanya aku jadi berlipat ganda merindukan Jevan dan Rere. Aku bahkan sudah tidak lagi sanggup jika bukan karena batinku mengingat bagaiman Jevan dan Rere dulu. Aku hanya ingin berterima kasih pada mereka berdua karena keduanyalah kita bisa bersama, karena keduanya kita bisa jadi seperti sekarang ini Yah," kata Monika.
"Sudah ya menangisnya. Jangan dilanjut lagi. Kasihan adek bayi di dalam perut. Protes nih dari tadi nendang-nendang terus," kata Jovan membuat Monika tersenyum. Dia menghentikan tangisannya dengan menarik nafas dalam sebanyak 3 kali kemudian tersenyum pada suaminya.
"Makan yuk, aku laper," kata Monika.
"Yuk kita makan. Aku suapin ya?"
"Masa di suapin. Malu sama anak-anak lah," kata Monika.
"Yang aku suapin yang di dalam perut bukan cuma Bundanya. Tirta sama Gentala nggak akan protes kok. Aman pokoknya," kata Jovan. Dia tiba-tiba ingat ajaran Jevan soal bagaimana memanjakan istri. Jujur, Jovan memang banyak berguru padanya soal bagaimana dia bersikap pada Monika. Bagaimana caranya dia harus meredam emosi Monika dan bagaimana caranya agar dia bisa membuat Monika bahagia dan tidak menyesali keputusannya menjadi menantu keluarga Kusuma sekaligus istrinya.
__ADS_1
Keduanya kemudian turun dan bergabung bersama yang lainnya. Mata Jovan menatap Nafiza yang sedang asik duduk di pangkuan Junius sambil terus membaca buku bergambar yang baru dia beli beberapa waktu lalu. Buku yang mengisahkan tentang seorang gadis baik hati yang hidup dengan dua saudara tiri dan ibu tirinya itu terus dia bawa ke mana-mana.
Gadis kecil itu masih murung sejak pulang dari pemakaman tadi. Padahal seluruh keluarga besarnya sengaja berkumpul hari ini untuk merayakan ulang tahunnya. Tapi Nafiza tetap saja sedih. Anak itu harus melalui kerasnya dunia seorang diri tanpa kehadiran orang tuanya. Walaupun Jovan yakin Junius dan Lia sudah memberikan kasih sayang yang lebih dari yang dia butuhkan, tapi kekosongan hatinya akibat ketidakhadiran Jevan dan Rere pasti membuatnya sedih. Hanya dia satu-satunya di sini yang tidak bisa memeluk kedua orang tuanya.
Jovan ingat dia menentang keputusan Junius yang tetap ingin mengenalkan Jevan dan Rere pada Nafiza, namun setelah dia pikir-pikir lagi mungkin memang sebaiknya begitu. Anak itu adalah anak yang sudah diusahakan mati-matian oleh Jevan dan Rere. Akan jadi tidak adil jika putri mereka ini malah tidak mengenali siapa orang tua kandungnya. Jovan hanya bisa berdoa agar putri kecilnya itu bisa diberikan kekuatan dalam melalui kerasnya kehidupan.
"Cantik, saudaramu yang lain lagi pada makan kamu nggak mau ikut makan juga?" tanya Jovando sembari berjalan mendekati Nafiza yang masih anteng dalam pangkuan Junius.
"Nanti dulu Ayah, Nafiza belum selesai baca bukunya," kata Nafiza.
"Baca nanti lagi ya, nanti Ayah bacain sampai selesai deh waktu Nafiza mau tidur," kata Junius.
"Nggak mau Ayah Nafiza maunya baca sendiri sampai selesai," katanya dengan raut wajah yang sedih.
"Ya tapi kalau Nafiza nggak makan nanti kamu sakit. Katanya besok Nafiza ulang tahun kan. Kita besok mau jalan-jalan lho cantik. Nanti kalau Nafiza sakit kita malah tidak jadi jalan-jalan," kata Jovan masih berusaha membujuk.
"Bener tuh Ayah Jovan bilangnya. Makan dulu ya."
"Nggak mau," katanya yang malah menangis.
Junius menutup buku itu kemudian beranjak dari duduknya. Dia kembali menggendong Nafiza dan membawanya mencari angin segar di pelataran rumah. Jovan menatap Junius yang berusaha menengangkan Nafiza. Miris terasa di dalam hatinya. Dia tahu diam-diam Junius menyimpan rasa pada Rere dulu. Bahkan mungkin bisa dibilang Rere adalah orang pertama yang mengenalkannya pada ketertarikan lawan jenis. Tapi apalah dayanya, dia tidak setega itu merebut apa yang menjadi milik kakaknya karena Junius sendiri tahu jika selain Rere Jevan tidak memiliki apapun lagi yang bisa menguatkan langkahnya.
__ADS_1