Ours In Another Story

Ours In Another Story
64. Teror


__ADS_3

Hari ini sesuatu yang tidak disangka-sangka terjadi. Jevan yang sedang berada di kantor bersama dengan Jovan dan Junius langsung berlari dan sesegera mungkin menuju ke butik. Dia baru saja mendapat kabar dari Cedar jika sesuatu terjadi. Busana yang akan Rere ikutkan catwalk fashion week lusa koyak, rusak, dan sobek di sana-sini. Ketika Jevan sampai di sana, dia menemukan Hanna yang berusaha menenangkan Rere yang syok berat dengan apa yang terjadi.


"Mama...," panggil Jevan kemudian mendekati Rere.


"Apa yang terjadi?" tanya Jevan.


"Mas..., gaunku. Gaunku rusak, nggak tahu kenapa," kata Rere yang berusaha menahan tangisannya.


Jevan menoleh, dia melihat sendiri bagaimana menyedihkannya gaun itu sekarang. Butuh waktu berbulan-bulan untuk menyempurnakannya. Dia sendiri tahu gaun ini dibuat langsung dari tangan Rere. Dibuat dengan sepenuh hati dan penuh harapan dalam setiap detailnya.


"Mama..., lihat Papa sini," kata Jevan yang berusaha menenangkan Rere yang mulai menangis. Jevan tidak mampu memenangkan atensi istrinya, jadi dia dengan terpaksa langsung menggendong Rere masuk ke dalam ruang staff agar bisa dia tenangkan. Hanna masuk membawakan air minum kemudian melangkah keluar meninggalkan kedua bosnya itu.


"Cantik, istighfar. Kasihan adek di dalam kalau kamu kaya gini terus," kata Jevan yang mendekap Rere yang begitu lemas.


"Tapi gaunku Mas..., aku harus bagaimana," kata Rere masih saja menangis dengan tubuh yang mulai gemetar.


"Shtt..., tenang cantik. Tenangkan dirimu dulu," kata Jevan.


Rere mengeratkan pelukannya pada Jevan. Dia menyembunyikan wajahnya dalam ceruk leher Jevan dan menangis meluapkan semua emosinya. Ketika itulah seorang gadis kecil berlari masuk ke dalam ruang staff dan ikut menangis.


"Papa..., hiks..., Mama kenapa?" tanya Nafiza.


"Shtt, sini sayang deket Papa," minta Jevan.


"Nggak mau Nafiza takut Mama," kata Nafiza.

__ADS_1


"Nggak papa. Mama cuma nangis kok sayang, Mama nggak kenapa-napa. Sini Nafiza kalau mau peluk Mama," kata Jevan penuh pengertian.


Nafiza langsung berjalan mendekat, masih sesenggukan dia naik ke pangkuan Mamanya dan memeluk Mama sekaligus memeluk adiknya yang masih ada di dalam perut Mama. Dia merasakan perut Mamanya kaku, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia hanya bisa menangis di pelukan Mamanya yang masih meluapkan amarahnya yang tertahan.


Beberapa waktu kemudian, Jevan mendapatkan kabar yang tidak begitu mengenakkan juga. Jovan yang menghubunginya dan memintanya segera datang bersama Rere dan Nafiza ke rumah Mama. Begitu mereka sampai di rumah Mama, di sana sudah ada Jovan yang sedang menenangkan Monika yang juga tampak syok. Tak lama, Junius juga datang. Wajahnya sudah penuh dengan emosi dan kemarahan entah apa yang terjadi.


"Kakak sama Mama ke kamar dulu gih. Nanti Papa susul ya," kata Jevan meminta Rere dan Nafiza pergi ke kamarnya.


"Bunda temenin Rere ya Yah," kata Monika pada suaminya.


"Anak-anak, sebenarnya ada apa ini?" tanya Papa yang duduk di kursi rodanya.


"Gaun yang akan Rere ikutkan dalam fashion week besok rusak. Aku sudah menghubungi polisi dan sedang dilakukan pencarian siapa pelaku sebenarnya," kata Jevan.


"Lia dituduh menyebarkan kunci jawaban UAS pada siswa dan akhirnya dia dihukum keras oleh kepala sekolahnya. Dia bahkan sampai dijatuhi SP dan harus bersedia memberikan segala keterangan kepada kepolisian. Sekarang dia sedang berada di Polsek untuk diinterogasi," kata Junius.


"Terus anak-anak gimana? Abi, kembar, Tirta sama Genta juga. Mereka baik-baik saja kan? Nafiza bagaimana Jev?" tanya Mama.


"Anak-anak baik-baik saja Ma, Mama nggak perlu khawatir," kata Jovan diangguki oleh Jevan dan Junius.


"Sudah kuduga hal ini akan terjadi. Harusnya Papa tidak meminta kalian menyelesaikan kasus ini. Pagi ini Papa dapat surat kaleng yang intinya meminta kalian untuk menghentikan penyelidikan itu. Papa yakin pelakunya pasti orang yang akan kalian jatuhi hukuman dalam rapat dewan besok," kata Papa.


"Backing-an pak Haryo kuat juga," kata Jevan yang baru selesai membaca surat kaleng itu.


"Kalau dia tidak punya backing dia nggak akan mampu memberikan ancaman dengan cara seperti ini. Merusak nama baik, memfitnah, bahkan sampai membobol butik bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Apalagi timingnya terlalu pas jika dikatakan semua ini tidak ada hubungannya," kata Jovan.

__ADS_1


"Kita tidak bisa menundanya. Buktinya sudah cukup kan Mas? Kenapa nggak sekarang kita datang ke kantor saja selesaikan semuanya sekalian?" tanya Junius.


"Tunggu Yus, jangan gegabah. Kalau kita menghubungi dewan direksi sekarang, nyawa mereka juga akan ikut terancam. Baiknya memang kita tunda dulu selama beberapa waktu," kata Jovan.


"Kurang ajar. Dia bahkan sampai bermain kotor begini, tidak akan pernah kumaafkan," kata Jevan yang sudah emosi langsung meremat kertas ditangannya begitu saja.


"Mama, Rere pingsan...!!" teriak Monika dari lantai atas membuat Mama dan Jevan langsung berlari naik disusul oleh Jovan dan Junius.


Begitu masuk, Jevan langsung membantu Monika membetulkan posisi Rere sedangkan Mama mencoba menyadarkan Rere dari pingsannya. Mama juga memeriksa denyut nadi si bayi dan denyut nadi Rere yang memang lemah. Nafasnya juga pendek dan Rere mulai demam. Jevan di sampingnya tidak pernah sedikitpun melepaskan genggamannya. Dia begitu khawatir dan ketakutan.


Kelihatan jelas sekali dari raut wajahnya yang ikut memucat. Rere dipasangi selang oksigen juga infus di tangannya membuat Nafiza ketakutan dan tidak mau mendekati Mamanya sama sekali. Rere akhirnya tidak bisa beristirahat karena terus mendengar tangisan Nafiza yang ingin memeluk Mama tapi dia takut pada Mama yang kondisinya memang menakutkan.


"Mas..., anakmu dulu itu," kata Rere.


"Nafiza ada Monika sama Mama yang jaga, tapi kamu sama adek siapa yang jaga?"


"Mas jangan gitu lah. Sana temui dulu Nafiza. Aku juga nggak akan bisa tenang kalau denger dia nangis terus Mas. Cuma kamu yang bisa tenangin dia," kata Rere.


"Tapi...,"


"Mas ayolah..., badanku rasanya udah nggak karuan jangan ditambahin beban pikiran juga dong. Aku nggak kuat," paksa Rere yang kembali menangis.


"Shtt..., iya iya jangan nangis ya cantik. Aku keluar dulu," Jevan menyerah. Dia melepaskan genggamannya pada Rere kemudian mengecup punggung tangan dan dahinya sebelum melangkah keluar.


Di sofa ruang tv, Jevan melihat Nafiza masih sesenggukan dalam gendongan neneknya. Jevan langsung meminta Nafiza dan membawanya ke halaman depan. Dia mengajak Nafiza berjalan-jalan di sekitar rumah sambil terus menenangkan dan setidaknya menidurkan Nafiza yang ikut-ikutan demam. Setelah Nafiza dia pastikan tertidur, Jevan merebahkan putrinya di samping Rere yang juga sudah masuk ke alam mimpi. Satu kelemahan Jevando adalah kedua cantiknya juga putranya yang saat ini masih terus bersama istrinya. Jevan tidak peduli sehebat apa badai menghadang jalannya, tapi jika sudah menyangkut Rere, Nafiza, atau Nata putranya dia akan melemah sepenuhnya.

__ADS_1


__ADS_2