
Jevan dan Rere melewatkan waktu makan siang karena terlalu lelap tertidur, bahkan Rere dan Jevan baru bangun ketika Pak Purnomo datang menjemput keduanya untuk diajak berjalan-jalan. Rere adalah yang pertama selesai bersiap, sedangkan Jevando saat ini sedang mandi. Setelah pamit pada suaminya, Rere pergi menemui Pak Purnomo yang sedang duduk menunggu di lobby hotel.
“Eh Mbak Reva,” sapa Pak Purnomo.
“Iya pak, maaf ya Mas Jevan masih mandi. Maaf ya sudah bikin bapak nunggu,” kata Rere dengan sangat sopan.
“Wah ternyata Mbak ini bukan hanya cantik tapi sopan juga ya, oiya Mbak kalau boleh saya tanya sudah berapa lama nikah sama Mas Jevan?”
“Kemarin lusa genap 7 tahun pak. Bapak lama ya kerja sama Papanya Jevan? Kayanya akrab banget pak,” tanya Rere untuk basa-basi.
“Lumayan Mbak, saya ikut kerja sama Bapak sejak saya lulus SMK. Tadinya sih saya kerjanya bukan supir. Saya magang di kantor Bapak, tapi karena satu dan lain hal saya malah jadi supir pribadinya Pak Jeff,” kata Pak Purnomo sambil tertawa.
“Terus Bapak sekarang kerja di sini?”
“Iya Mbak, ibunya anak-anak asli Bali dan saya memilih ikut kesini. Saya kerja di biro wisata mbak, sama bangun penginapan kecil-kecilan dibantu Bapak Jeffrey,” katanya lagi.
"Wah, kalau tahu begitu kita menginap di tempat Bapak saja. Bapak jadi tidak repot antar jemput jauh begini," kata Rere.
"Duh jangan Mbak, penginapan saya bukan hotel. Biasanya yang menyewa adalah rombongan anak-anak sekolah atau backpacker yang mencari tempat menginap murah meriah. Penginapan saya nggak besar dan nggak nyaman kalau untuk honeymoon," kata Pak Purnomo merendah.
"Ah Bapak bisa saja."
"Saya sudah banyak dibantu sama keluarga Pak Jeff. Dulu saya belum bisa membalas apa-apa tapi untuk kali ini saya ingin sekali bisa membantu Mbak dan Mas bisa enjoy liburan di sini," kata Pak Purnomo.
__ADS_1
“Keluarga Kusuma baik ya pak? Saya juga kalau tidak dibantu sama Mas Jevando dan keluarga sudah tidak tahu akan bagaimana,” kata Rere yang tidak sengaja malah curhat.
“Memangnya mbak kenapa?”
“Saya ini pernah mau bunuh diri pak, tapi waktu itu saya ketemu Mas Jevan. Coba kalau ketika itu Mas nggak minjamkan jaket ke saya, mungkin saya sudah tinggal nama,” kata Rere menerawang masa lalu.
“Loh tunggu dulu, Mbak ini cewek yang pernah mau bunuh diri di jembatan Gondolayu itu mbak? Yang dipinjami mas Jevan jaket terus sehabis itu sering bawakan bekal nasi goreng buat Mas Jevan makan siang?” tanya pak Purnomo.
“Iya, kok bapak bisa tahu?”
“Mas Jevan itu sejak kecil agak tertutup mbak. Karena Bapak sama Ibu sibuk jadi kalau ada apa-apa ya ceritanya sama saya. Sejak masuk SMA, Mas Jevan mulai banyak cerita dan semuanya soal Mbak, setiap pulang sekolah pasti Mas Jevan akan cerita ke saya dengan senyum lebar dan muka cerah. Orang itu ternyata Mbak Reva to? Maaf saya nggak mengenali mbak soalnya seingat saya Mas Jevan cerita bukan pakai nama Reva.”
“Panggilan saya waktu SMA dulu memang bukan Reva, Pak. Tapi Rere.”
“Bukan Mbak, bukan Rere tapi Mas Jevan selalu nyebut ‘Si Cantik’. Mbak ini cinta pertamanya Mas Jevan lo mbak. Soalnya sebelum Mbak belum pernah Mas Jevan menceritakan tentang teman perempuannya. Mbak adalah nama pertama yang Mas Jevan ceritakan sepanjang perjalanan berangkat dan pulang. Begitu setiap hari sejak hari pertama masuk sekolah sampai terakhir kali saya mengantar Mas Jevan sebelum resign, Mas Jevan ada saja ceritanya dan selalu dengan wajah berseri dan bahagia,” kata pak Purnomo lagi membuat Rere terdiam.
“Cantik, kamu kenapa kok diem?” tanya Jevan yang bingung karena Rere tidak merespon kata-katanya.
“Mbak Reva kayanya kaget Mas,” kata Pak Purnomo santai.
“Kaget kenapa Pak? Ada apa sih?”
“Barusan saya bilang kalau Mbak ini cinta pertamamu Mas, ndak papa to?” kata Pak Purnomo dengan nada sedikit nakal.
__ADS_1
“Oalah tak kira apaan,” kata Jevando menjawab enteng seperti tidak ada yang terjadi.
“Kok kamu nggak pernah ngomong ke aku Mas?”
“Nggak penting juga itu. Lagian kan kamu udah sama aku sekarang,” kata Jevan lagi.
“Ayo Pak, saya manut mau dibawa kemana aja,” kata Jevan kemudian berdiri lebih dulu dan berjalan mengikuti Pak Purnomo sambil menggandeng Rere yang masih terdiam tidak percaya.
Hari itu pak Purnomo membawa Jevan dan Rere ke Nusa Dua. Setelah sampai, Pak Purnomo kembali meninggalkan keduanya dan berjanji akan menjemput ketika mereka sudah memberi kabar. Jevan dan Rere memilih duduk di pinggir pantai menggunakan sandal mereka sebagai alas duduk. Jevan dan Rere mencari tempat yang tidak begitu ramai, kemudian asik mengobrol menghabiskan waktu berdua. Tadinya Rere hanya duduk seorang diri melihat Jevan sibuk dengan kameranya, dan sesekali mengambil gambarnya juga. Hobi yang tidak pernah hilang dari Prasetya Jevando Kusuma. Kemanapun dia pergi selalu saja membawa kamera.
“Cantik, lihat sini dong,” kata Jevan.
“Nggak mau, silau,” kata Rere menolak.
“Sebentar doang, lagi bagus nih angle-nya.”
Rere mengikuti kemauan Jevan. Dia menoleh ke arah Jevan yang berdiri membelakangi arah sinar matahari sambil berjongkok untuk mengambil gambar Rere yang sedang duduk di pinggir pantai. Setelah mengambil beberapa jepretan, Jevan ikut duduk di samping kanan Rere. Rere meletakkan kepalanya di bahu Jevan dan memejamkan matanya untuk merasakan suara deburan ombak dan hembusan angin yang membuainya.
“Mas Jevan…,” panggil Rere.
“Hmm?” jawab Jevan tanpa menoleh karena sibuk dengan kameranya.
“Makasih ya,” kata Rere.
__ADS_1
Jevan menoleh, dan tersenyum manis pada Rere yang sedang bergelayut manja di lengan kirinya, “Buat aku nggak ada yang lebih baik dibandingkan ngeliat kamu sehat dan bahagia kaya gini.”
“Makasih karena kamu mau bertahan, makasih karena kamu mau sama aku, makasih juga untuk segalanya yang udah kamu kasih ke aku. Aku akui sekarang, 17 tahun lalu aku mulai suka sama kamu. Suka sama gadis pendiam yang selalu duduk menunduk di bangku paling belakang dekat jendela. Pada gadis bernama Ananda Reva Aulia yang begitu banyak lukanya, dan sekarang aku juga masih suka sama kamu, aku juga bisa jamin untuk puluhan tahun yang akan datang aku akan tetap suka sama kamu, karena cuma ada kamu di duniaku. Nggak akan ada perempuan lain di hatiku.” kata Jevan.