
Rere mengangkat Nafiza untuk duduk di atas pangkuannya kemudian tangannya meraih tisu basah di dalam tasnya untuk membersihkan sepatu putrinya, “Mama kan sudah bilang tadi. Sepatunya kalau kotor bisa dicuci. Ini udah Mama lap, udah bersih lagi. Jangan nangis dong cantiknya Papa kan pinter."
“Nana…, minta maaf ya Abi nggak sengaja,” Abi mendekati Nafiza sambil membawa sebungkus Oreo Vanilla ditangannya.
Nafiza tadinya ragu mau memaafkan, tapi setelah melihat bungkus oreo itu dia berangsur-angsur berhenti menangis, “Ini Abi punya Oreo, Nana suka Oreo kan? Ayo makan bareng Abi,” katanya lagi.
"Tuh, Abi sudah minta maaf. Sudah ya, jangan marah lagi. Nanti sepatunya kita cuci bersih di rumah ya biar bisa seperti baru lagi, ok?" Rere ikut membantu Abimanyu membujuk saudaranya.
Nafiza kemudian mengangguk lalu turun dari pangkuan Mamanya. Abi menggandeng tangan Nafiza untuk duduk di sampingnya lalu makan Oreo tadi bersama-sama dengan Tirta dan Genta juga. Melihat pemandangan itu jelas begitu menyenangkan. Bagi Monik, Rere, dan Lia, tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding melihat suami dan anak-anak mereka bisa tersenyum, dalam kondisi sehat dan selalu bahagia.
Tidak jauh dari tempat anak-anak duduk, ada dua anak kembar yang tengah mencibir saru sama lain. Mereka sedang membicarakan ajaran Junius yang diserap dengan baik oleh Abi. Bibit-bibit buaya katanya. Padahal maksud Junius mengajari anaknya seperti itu agar jagoannya bisa jadi laki-laki yang gentle dan baik terhadap perempuan, bukannya jadi buaya seperti yang dimaksud oleh kedua kakaknya ini.
“Nah loh mas ngatain anakku buaya. Lihat Tirta noh,” protes Junius tidak terima.
Saat ini ketiganya melihat Tirta sedang mengelus kepala Nafiza biar anak itu tenang. Dia juga menyuapi adiknya itu sepotong biskuit. Jovan sih senyum-senyum merasa bangga pada si sulung karena merasa apa yang sudah diajarkannya berhasil di serap oleh penerusnya, sedangkan Jevan sudah mulai kepanasan karena melihat anak perempuannya jadi rebutan buaya-buaya kecil macam Abi dan Tirta. Kalau Genta? Entahlah, anak itu malah tiba-tiba bilang mengantuk dan mencari bundanya untuk minta dipuk-puk dan tidur.
“Kok nggak ada dino sih?” tanya Nafiza yang mulai galau karena tidak kunjung menemukan hewan-hewan purba kesukaannya itu.
“Na, dino mana ada di sini, dino kan udah nggak ada di dunia,” kata Tirta.
“Kata siapa kak? Itu di sana ada dino besar,” kata Genta.
“Itu kan cuma patung Ta, bukan dino beneran,” bantah Abi.
__ADS_1
“Ihh Nafiza maunya lihat dino beneran,” dia mulai merajuk.
“Mana bisa Na, kan kak Tirta bilang dino udah nggak ada,” kata Abi lagi.
“Tapi di tv ada,” Nafiza masih bersikeras jika Dinosaurus itu masih ada karena dia memang sering menonton kartun yang karakternya merupakan dinosaurus baik berwarna ungu.
Jevan sebenarnya dengar semua percakapan mereka, tapi dia masih enggan mau membantu menjawab. Dia juga sekali-kali ingin mengetes bagaimana keponakan-keponakannya ini bisa menjaga Nafiza yang notabene adalah anak gadis satu-satunya. Jadi jika suatu saat nanti dia harus tutup usia dia bisa mempercayakan putri satu-satunya ini kepada Tirta, Abi, dan Gentala sebagai saudara juga sebagai pelindung Nafiza sebelum dia akhirnya nanti akan bertemu dengan laki-laki yang akan menjadi imam keluarganya.
“Telselah kamu ajalah. Kalau Nafiza mau lihat dino ya di sana itu, kalau nggak mau yasudah,” kata Tirta kemudian.
“Iya mau, tapi dinonya besar banget Nafiza nggak berani sendiri. Nanti kakak temenin ya,” kata Nafiza langsung diangguki oleh Tirta.
“Ta, lihat deh harimaunya besar. Abi juga mau tumbuh besar kaya harimau itu,” kata Abi sambil menggoyangkan lengan Genta.
“Nafiza juga. Nafiza mau ngelindungin Mama dari orang-orang yang jahat sama Mama.”
“Eii, kamu kan cewek. Kamu nggak harusnya ngelindungi Mama kamu, harusnya kamu juga ikut dilindungin. Ayahku sering bilang, kalo anak cowok itu harus bisa jagain anak cewek jadi Tirta aja yang jagain Nafiza sama Mamanya Nafiza, kalo Bunda kan udah dijagain sama Genta. Nanti adeknya Abi juga biar Tirta ikut jagain. Pokoknya semuanya Tirta yang jagain,” kata Tirta dengan mantapnya.
Setelah cukup puas berjalan-jalan di dalam kebun binatang, mereka memilih untuk keluar dan mencari tempat makan terdekat untuk makan siang. Tadinya sih Jovan sudah merekomendasikan makan di food court yang ada tapi ditolak mentah-mentah oleh Jevan. Dia memang paling sensitif soal menentukan menu makan, karena Nafiza putrinya gampang sakit, dia juga perutnya sensitif. Akhirnya sekarang Jevan yang memilih tempat makan mereka mau di mana.
Letaknya tidak jauh dari kebun binatang sehingga mereka tidak perlu menahan lapar terlalu lama. Tempatnya sejuk, enak dipakai untuk makan bersama keluarga dan rasanya jangan ditanya. Jevan tidak pernah gagal menentukan tempat untuk makan. Begitu sampai di tempat, Jevan langsung mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya diikuti Junius dan Jovan di belakangnya.
“Nafiza…, bangun dulu cantik kita makan,” kata Jevan mencoba membangunkan Nafiza yang tertidur di pangkuan ibunya.
__ADS_1
“Pules banget tidurnya, biar aku gendong aja masuk.”
“Tunggu sini,” Jevan mendahului Rere turun dari mobil lalu berputar membukakan pintu untuk Rere. Bukan hanya itu, dengan perlahan dia mengambil alih putrinya dari gendongan Rere lalu menggendongnya masuk bergabung dengan yang lain yang sudah menunggu.
“Keren tempatnya Je, tau dari mana?” tanya Jovan ketika mereka sedang menunggu pesanan sampai.
“Paling dari internet,” kata Junius.
“Enak aja. Kamu kaya nggak pernah ketemu client di luar kantor aja Yus. Bukannya kamu tuh bandarnya tempat nongkrong ya?” kata Jevan.
“Ya ngapain meeting di kantor, flat banget hidup. Untung kerjaanku bukan kaya mas Jo yang cuma duduk di belakang meja. Bisa botak sebelum saatnya aku,” jawab Junius.
“Kebalikannya, aku nggak suka kerja pindah-pindah. Ribet. Enakan duduk anteng kerjaan dianter, begitu selesai dikerjain ada yang ambil, beres.”
"Iya iya, yang udah jadi bos besar," cibir Junius.
“Jo berapa lama di sini?” tanya Jevan kemudian.
“Lumayan lama sih, 1 mingguan. Tapi ya gitu, kerjaan tetep jalan. Jadi di tempat Mama kalau pagi ya tetap kerja sampai sore cuma kerjanya bisa kukerjain dari rumah. Untuk meeting-meeting yang harus kudatengi semua kuwakilkan ke sekretarisku di sana. Dia nanti yang laporan dan aku yang eksekusi." kata Jovan.
"Ribet," komen Jevan.
"Mau gimana lagi. Kalau nggak gini nggak akan bisa pulang juga kan aku. Kasihan anak-anak juga sudah berapa lama mereka nggak pulang ke kampung halamannya. Aku nggak mau anak-anak lebih nyaman di negeri orang dan lupa sama tanah airnya," kata Jovan.
__ADS_1