Ours In Another Story

Ours In Another Story
65. Perasaan Rere


__ADS_3

Sore hari berikutnya, Haikal datang sesuai janjinya pada Nafiza tempo hari. Hari ini dia akan mengajari Abi dan Nafiza bermain bersama menciptakan harmoni dengan menggunakan alat musik yang berbeda, Abi dengan pianonya dan Nafiza dengan biolanya. Ketika dia sampai di pelataran rumah, dia melihat sang tuan rumah sedang duduk bersama istrinya dan ikut bermain dengan cucunya yang kebetulan sedang kumpul semuanya.


"Assalamualaikum om, tante," sapa Haikal.


"Waalaikumsalam," jawab Papa dan Mama.


"Nafiza, Abi, sini makannya di selesaikan dulu terus masuk ini om Haikal sudah sampai lho," kata sang nenek pada kedua cucunya yang tengah berlarian.


"Maaf tante, Jevan ada di sini? Saya lihat mobilnya di halaman, kok tumben jam segini sudah di rumah?"


"Oh iya orangnya ada di dalam. Rere sakit jadi dia absen dari kantor untuk nemani istrinya," kata Mama.


"Sakit? Sakit apa?"


"Yasudah kamu masuk saja dulu. Tengokin sepupumu sambil nunggu anak-anak selesai makan gimana?," kata Mama mempersilahkan Haikal masuk ke dalam rumah.


Haikal mengangguk kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. Sebenarnya rumah ini tidak terasa asing lagi untuknya karena sejak jaman Rere dan Jevan belum menikahpun dia sudah beberapa kali mampir kemari dan menemani kembar beda orang tuanya itu. Papa dan Mama juga mengenalnya sebagai sepupu protektif karena sering kali menjadi pihak ketiga jika Rere sedang berduaan dengan Jevan. Mama Tiwi dan Papa Jeff sering kali menerima Haikal di rumah mereka saat Rere datang untuk menemui Jevan.


"Hi Jev, katanya Rere sakit," sapa Haikal yang melihat Jevan berjalan ke arah dapur.


"Tuh di kamar atas. Yang pintunya kebuka. Masuk aja. Sekalian lo bujuk biar mau makan. Dari kemarin belum makan sama sekali mana muntah-muntah terus. Bingung aku harus ngadepinnya gimana. Sepupumu itu kalau sudah bilang nggak mau susah banget dibilanginnya," jawab Jevan.


"Ada apa sih? Kayaknya dia sehat-sehat aja kemarin. Habis telfonan juga ngebahas mau ngajukan Nafiza dan Abi buat tampil di acara perpisahan juga," tanya Haikal.


"Gaun yang mau dia ikutkan fashion week hancur kena teror entah dari siapa. Udah gagal ikut, rugi besar-besaran pula dia. Sudah gitu istrinya Jojo sama istrinya Iyus kena teror juga. Monika diadili karena tuduhan plagiarisme, Lia dituduh menyebarluaskan kunci jawaban tes. Suasana rumah kemarin emang agak mencekam. Akhirnya ikut-ikutan stres dia," jelas Jevan.


"Udah lo bawa ke dokter?"

__ADS_1


"Nggak mau. Nafiza juga kalau tahu Mamanya dibawa ke rumah sakit ikut histeris dia," jawab Jevan.


"Yang penting lo kuat kan? Lo pilarnya mereka berdua lho Jev. Jangan lo ikut-ikutan sakit karena ngurus mereka berdua."


"Pasti. Apapun gue usahakan buat mereka," kata Jevan.


"Lo masuk aja dulu. Temenin bentar ya gue mau keluar cariin obat buat Rere," kata Jevan kemudian lebih dulu berlalu pergi.


Haikal naik ke lantai dua dan langsung menuju ke kamar yang pintunya terbuka. Dia mengetuk dulu pintu kamarnya karena takut jika dia salah masuk, kan bahaya. Apalagi dia tahu kamar Jevan-Rere dan Jovan-Monika bersebelahan. Kalau dia salah masuk bisa panjang urusannya.


"Permisi...," kata Haikal memastikan dulu siapa yang ada di dalam.


"Siapa?" jawab sebuah suara dari dalam.


Haikal langsung masuk begitu mengenali suara yang menyahutnya adalah suara Rere. Tadinya dia masih berusaha tersenyum tapi senyumnya langsung luntur begitu melihat kondisi Rere yang pucat tak bertenaga dengan jarum infus menembus tangan.


"Hai sapu lidi. Ya Allah lo kenapa Re?" tanya Haikal.


"Nggak papa kok. Cuma kecapekan dikit aja," kata Rere berusaha duduk.


"Eits udah stop, tiduran aja. Jangan dipaksain," kata Haikal mencegah Rere untuk duduk.


Haikal menarik satu kursi kemudian duduk dekat dengan Rere yang hanya bisa tersenyum. Haikal menempelkan tangannya pada dahi Rere dan merasakan suhu tubuh sepupunya ini memang agak tinggi.


"Aku kaya deja vu," kata Haikal.


"Nggak cuma kamu Mbul," jawab Rere.

__ADS_1


"Pasti Jevan juga pernah bilang gitu kan?"


"Haha..., tau aja mbul."


"Apa yang nggak aku tahu tentang kamu sama suamimu? Dari kalian masih malu-malu buat pdkt sampai anakmu udah segede itu juga aku tahu semua," kata Haikal berusaha mencairkan suasana.


Di luar dugaan, Rere malah meneteskan air matanya saat ini. Haikal segera menghapus air matanya dengan ujung jari kemudian menatap Rere dengan lebih intens, "yang kamu rasain sekarang apa? Cerita sama aku," kata Haikal membuat Rere menggeleng.


"Cerita aja. Jevan lagi nggak di rumah. Dia lagi nebus obat buat kamu. Aku yakin kamu nggak 100% jujur sama suamimu soal apa yang lagi berkecamuk di dalam hatimu, kan?" kata Haikal.


"Kal..., kamu jawab jujur pertanyaanku dong. Salah nggak sih kalau aku berusaha mandiri dan nggak bergantung sama suami?" tanya Rere.


"Kok kamu bisa mikir aneh-aneh gini sih?"


"Udah jawab aja...," kata Rere.


"Nggak salah Re. Bukan cuma kamu satu-satunya wanita hebat yang hidup dalam dua peran. Monika, Lia, tante Tiwi, bahkan istriku sendiri juga wanita karir. Kalian semua hebat. Kamu apalagi, dengan kondisi fisikmu yang udah nggak sama dengan wanita lainnya kamu masih semangat untuk melakukan ini itu demi mendukung keluargamu. Aku kenal Jevan seperti apa, dia cuma mau kamu selalu baik-baik aja karena kamu adalah dunianya. Hidupnya juga akan runtuh kalau lihat kamu sampai sakit kaya gini," kata Haikal.


"Tapi aku juga nggak mau lihat dia nyiksa diri terus menerus Kal. Sejak tahu keluargaku lagi nggak baik-baik aja pikiranku terus melayang-layang. Jevan beberapa kali sakit tapi dia selalu ngepush badan dia. Kurang istirahat, kurang makan, dia bahkan tidak tidur di malam hari. Sudah begitu nggak peduli secapek apa dia selalu mendahulukan aku," kata Rere.


"Reva...," Haikal berusaha menghentikan kalimat sepupunya.


"Bukan kaya gini yang aku mau Haikal. Terus fungsinya aku di sini apa? Jadi beban buat dia? Jadi penghalang buat dia? Aku cuma pengen dipandang sebagai wanita yang kuat udah itu aja, tapi dia selalu memandangku seolah-olah aku nggak berdaya. Aku cuma kangen Jevanku yang dulu selalu mendukungku. Aku kangen Jevanku yang selalu ketawa ketika sama aku. Dia bawaannya jadi serius banget, aku mau ini nggak boleh aku mau itu nggak boleh. Aku capek diproteksi seperti ini," kata Rere yang sudah menumpahkan air matanya.


"Kok kamu bisa mikir kaya gini sih, Re? Kamu nggak boleh ngomong begitu. Sudah jadi tugas seorang suami memastikan istrinya baik-baik saja. Aku ke istriku pun sama. Apa pernah aku membiarkan dia naik kendaraan sendirian? Kan nggak Re. Bukan cuma Jevan tapi semua suami di dunia ini yang mencintai istrinya pasti akan menjaga dengan sepenuh hati."


"Padahal dulu kamu selalu bahagia dan bangga menceritakan Jevan yang sangat meratukan kamu, tapi kenapa kamu bisa berpikiran begini sekarang? Bukankah sudah terbukti benar di mata Jevan cuma ada kamu nggak ada yang lain. Kamu sudah tidak perlu merisaukan apapun. Sudahlah Re, jangan dipikirkan kasihan badanmu," kata Haikal yang cukup panik karena kini Rere menangis dengan cukup keras.

__ADS_1


__ADS_2