
Sepulangnya Jevan dan Rere dari Bali, pekerjaan mereka berjalan seperti biasanya. Setiap pagi Rere akan bangun membuat sarapan dan bekal untuk Nafiza. Tangan kanan menggoreng, yang kiri menyiapkan dua lembar roti yang ditumpuk dengan selai coklat kacang kesukaannya di tengah. Selesai menggoreng, dia beralih ke mesin cuci dan mencuci pakaian kotor mereka hari kemarin. Kembali ke dapur untuk membuat susu hangat dan kopi untuk Jevan lalu kembali lagi ke mesin cuci, mengambil pakaian yang sudah bersih untuk dia jemur di belakang.
Selesai dengan cuciannya, Rere melangkah masuk ke kamar mandi untuk mandi dan bersiap sedangkan Nafiza dan Jevan akan duduk di meja makan untuk menghabiskan sarapannya. Selesai sarapan, Jevan pergi ke garasi untuk memanasi mobil sambil sesekali memastikan Nafiza memakai seragam dan sepatunya dengan benar.
“Papa, tolong bantu Nafiza cek isi tasnya dong. Kemarin bu guru minta Nafiza buat bawa krayon sama buku gambarnya kan, udah masuk tas belum?” teriak Rere dari dalam kamar.
“Udah Ma. Semalem Nafiza udah masukin tas,” jawab putrinya.
“Botol minum mu sudah ada isinya kak? Kalau belum minta tolong Papa bantu ngisi, Mama ganti baju bentar ya,” kata Rere lagi.
Setelah ketiganya siap, Rere memastikan lagi pekerjaan rumah sudah beres semua baru dia menyusul Nafiza dan Jevan yang sudah lebih dulu keluar. Selama perjalanan Rere terlihat sibuk menerima telepon dari Hanna. Semalam Rere sudah meminta izin pada Jevan kalau dia butuh bawa mobil untuk belanja.
“Mas, kamu hari ini nggak kemana-mana kan? Tolong jemput Nafiza ya,” kata Rere.
“Siap Mama. Kak, nanti pulang sama Papa ya,” kata Jevan pada Nafiza yang duduk tenang di kursi belakang.
“Iyah…, Papa nanti beliin ice cream ikan dong. Kakak pengen,” kata Nafiza.
“Nanti ya habis makan siang.”
“Papa kalau mau ngajak kakak makan siang jangan yang aneh-aneh ya. Kakak habis flu loh Pa. Harus makan nasi pokoknya, Papa juga. Kalau bener mau lembur ya jaga kesehatan.” kata Rere mengingatkan.
“Iya Ma, nanti kita makan di KFC aja ya Kak. Mau kan? Atau Kakak mau makan apa?” tanya Jevan.
“Mau Paha atas Pa,” kata Nafiza riang.
“Iya nanti ya, sekalian beliin makan siang buat Mama nggak?” tanya Jevan pada Rere.
“Nggak usah Pa, aku makan sama anak-anak aja. Soalnya hari ini jadwalnya pasti bakal kacau. Pokoknya nanti habis makan siang sama Papa Nafiza anteng ikut Papa ya jangan nakal. Mama minta maaf nggak bisa nemenin Nafiza main, tapi Mama usahain nanti malem nemenin belajar,” kata Rere.
“Mama, jangan capek-capek. Nanti Mama sakit lagi,” kata Nafiza.
__ADS_1
“Iya sayang, Mama janji nggak capek-capek.”
Setelah mengantar putrinya dan memastikan dia sudah bersama gurunya di sana, Jevan dan Rere pamit. Sampai di butik, Rere langsung meminta kunci mobil Jevan lalu masuk ke butik untuk briefing sebentar sekalian bagi tugas untuk hari ini. Rere sudah Acc keikutsertaan mereka dalam Fashion Week mendatang. Dia juga mulai membagi tugas pada ketiga karyawannya ini untuk segera mempersiapkan pendaftaran.
"Han, sepertinya kita harus memperbarui brand deh," kata Rere pada Hanna asistennya.
"Brand kita mau diperbarui gimana mbak?"
"Kita branding lagi, nyalakan semua sosmed dengan foto-foto rancangan terbaru kita. Mas Jev bilang akan bantu pemasarannya," jawab Rere.
"Tapi untuk photoshoot kan butuh waktu mbak. Kita harus cari model, sewa studio, make up juga," kata Hanna mulai merancang.
"Nanti sebelum jam pulang kerja kita kumpul sama anak-anak atas ya. Aku sama Mas Jev akan membentuk tim untuk photoshoot dan pameran. Biar terbagi rata," kata Rere diangguki oleh Hanna.
Selesai briefing, Rere dan Hanna langsung pergi ke jalan Solo untuk belanja bahan. Mereka janjian dengan client untuk langsung bertemu di sana dan Rere juga Hanna hingga lewat tengah hari masih sibuk mengikuti si client ke sana kemari mencari yang cocok. Rere pikir hanya satu atau dua yang menjadi perwakilan saja yang datang tapi ternyata borongan mereka datang.
“Assalamualaikum, Pa…, Papa sama Kakak sudah makan kan? Maaf ya Pa, mobilnya jadi aku bawa,” kata Rere.
“Belum Pa, nggak tau sampai jam berapa. Papa, Nafiza tolong jangan ditinggal ya. Kalo nggak ngerepotin Nafiza biar ikut main di atas aja. Terus diminta tidur siang bentar, biar nanti malem nggak rewel,” kata Rere.
“Iya Ma, beres. Kamu selesain kerjaanmu aja. Yang di sini aman terkendali,” jawab Jevan.
“Makasih Pa.”
“Love you Ma,” kata Jevan tumben-tumbenan.
Setelah mendekati ashar akhirnya selesai juga. Mereka sudah deal dan Rere langsung memasukkan 2 gulung kain itu juga beberapa potong yang lainnya ke dalam mobilnya dan segera berpamitan dengan ibu-ibu yang menjadi clientnya ini.
“Mbak Rere, kita mau makan-makan nih Mbak nggak mau ikut sekalian?” ajak salah satunya.
“Maaf bu, next time saja. Soalnya ini masih ada pekerjaan, butik juga saya tinggal,” tolak Rere dengan sopan.
__ADS_1
Mereka akhirnya berhasil berpisah dari ibu-ibu itu. Sebelum pulang, Rere berjalan menuju salah satu Drive Thru untuk membeli makan siang. Rere dan Hanna segera kembali ke butik dan segera mengerjakan pesanan barusan di samping juga menyelesaikan beberapa pesanan sebelumnya.
“Dwi, pesanan Bu Sonya sudah selesai?” tanya Rere.
“Masih finishing mbak, gimana?”
“Siapin sebelum jam 5 ya, orangnya mau ambil kesini,” perintah Rere.
“Ok.”
“Mbak, ini pesanan Bu Ratna polanya sudah jadi. Tapi masih ragu motongnya. Takut salah mbak, seragamnya pakem banget,” kata Putri sambil berjalan ke arahnya.
“Mana coba sini lihat. Aku kasih tips ya…,” kata Rere kemudian mulai fokus mengajari si bungsu Putri.
“Mbak Rere, ini contoh design ibu-ibu tadi sebagian udah masuk langsung aku kerjain ya. Terus ada 4 orang yang besok mau ke sini buat ketemu Mbak,” kata Hanna.
“Duh lusa aja gimana? Besok mbak ada rencana sama Mas Jev. Pokoknya besok jangan terima client datang ya. Kalau mau buat janji diarahkan ke hari berikutnya aja,” kata Rere diangguki Hanna.
Rere benar-benar sibuk hari ini. Dia bahkan harus lembur dan melupakan Nafiza yang sedang menunggunya di lantai 2. Rere baru ingat setelah Jevan mengirimkan pesan membuat Rere segera bergegas naik.
“Dar, Mas Jev ada di dalem kan?”
“Ada mbak, masuk aja.”
“Makasih ya,” Rere langsung melangkah masuk ke ruangan Jevan. Dia melihat Jevan duduk di sofa dan menjadikan pahanya sebagai bantalan kepala Nafiza yang sudah tertidur. Rere langsung mendekatinya dengan langkah tenang berusaha tidak membangunkan putrinya.
“Mama lembur?” tanya Jevan dengan berbisik.
“Iya.”
“Duh, gimana ya. Aku juga harus lembur, tapi kasihan kakak kalau nggak segera pulang.”
__ADS_1