Ours In Another Story

Ours In Another Story
57. Terbakar Semangat


__ADS_3

Masuk minggu ke-20, membuat perut Rere semakin terlihat besar dari hari ke hari. Persis seperti ketika dia hamil Nafiza, pergerakannya jadi tidak selincah sebelumnya. Tapi bedanya, dia selalu terbakar semangat. Tidak pernah ada kata lelah dalam kamus barunya. Berbeda dengan ketika dia hamil sebelumnya yang cenderung tidak bertenaga dan mudah kelelahan. Rere juga tidak sesensitif sebelum-sebelumnya. Jujur saja Rere sudah bisa jauh lebih baik menghadapi kehamilannya ini.


"Mandi gih, siap-siap. Sudah ditunggu Nafiza," kata Rere.


Jevan lebih dulu mencium bibir Rere, tidak lupa dengan mata dan keningnya juga ditambah perut Rere. Jagoan kecil mereka memang belum besar, tapi Jevan yakin dia akan mendengarkan setiap kalimat yang diutarakan oleh kedua orang tuanya.


"Tok tok, sudah bangun gantengnya Papa?" tanya Jevan.


"Sudah Papa," jawab Rere meladeni suaminya.


Jevan tersenyum lalu kembali mencium perut Rere kemudian melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan mengembalikan seluruh kesegaran badannya. Selesai mandi, dia bersiap untuk berangkat ke kantor. Dia lagi-lagi tidak akan pergi ke kantornya sendiri melainkan ke kantor Papa dan masih akan berjuang keras untuk menyelesaikan semua permasalahan yang ada. Jevan hanya bisa berharap jika masalah ini akan selesai sebelum Rere lahiran nanti jadi ketika hari menegangkan itu datang Jevan bisa fokus untuk menjaga Rere.


Di tempat lain, Rere sama berjuangnya. Sejak turun dari mobil Jevan pagi tadi, dia langsung kebanjiran pekerjaan. Mengatur dua usaha di waktu yang bersamaan memang tidaklah mudah tetapi mau bagaimana lagi. Dia adalah seorang istri yang harus berbakti pada suaminya. Rere juga sudah berjanji jika dia akan selalu mendukung apapun keputusan yang diambil oleh Jevan.


"Han, ini daftar belanja bulan ini. Jumlahnya sudah aku perbaiki, tinggal dibelanjakan. Aku juga sudah menghubungi pemilik toko kainnya. Kamu tinggal konfirmasi jumlah sama menyelesaikan transaksi. Ini ATM-nya, nanti bukti pembayaran langsung kasih ke aku," kata Rere pada Hanna.


"Ok siap. Terus buat keperluan yang lainnya?"


"Aku sudah minta Doni sama Dwi buat survey. Nanti kamu tunggu kabar dari mereka sekalian kamu ambil pesanan payetku di toko biasanya. Kalau bisa besok barangnya sudah di tempat ya, soalnya mau langsung digarap. Orangnya datang minggu depan buat fitting," kata Rere lagi.


"Mbak Rere semangat sekali pagi ini. Lagi seneng ya Mbak?" kata Hanna.


"Alhamdulillah, habis kalau aku diem yang di dalem protes," kata Rere sambil mengusap perutnya membuat Hanna tersenyum.

__ADS_1


"Semangat ya Mbak Rere," kata Hanna memahami apa yang sedang terjadi di keluarga besar sahabatnya itu.


"Harus semangat dong. Demi masa depan yang lebih baik kita memang harus berjuang keras kan. Aku hanya berharap jika setelah projek ini selesai kamu dan yang lainnya bisa menjadi lebih maju lagi dari sekarang," kata Rere.


"Maksud Mbak gimana? Serem deh Mbak jangan bilang gitu. Kok kaya di-tv tv itu sih, sekarang ngomong gini besoknya mbak kenapa-napa," kata Hanna dengan raut wajah yang sedih.


"Bukan gitu maksudku Hanna. Naudzubillah min dzalik, jangan sampai ada apa-apa," kata Rere.


"Ya terus kenapa mbak bilangnya begitu?"


"Maksudku, setelah melahirkan nanti kayaknya aku nggak bisa selalu datang ke sini. Aku paling datang di sela-sela waktu saja. Untuk jahit menjahit juga akan lebih banyak aku bawa pulang karena anakku dua nggak ada yang bantu mengurus. Mama sudah sibuk mengurus Papa yang sekarang tidak bisa banyak beraktivitas. Mana mungkin aku ngerepotin orang terus. Lagi pula aku percaya kamu akan bisa menjalankan butik kita ini dengan baik," kata Rere.


"Yakin Mbak hanya karena itu?"


"Iya hanya karena itu. Bukan karena yang lain kok," jawab Rere meyakinkan Hanna.


"Pak, laporannya sudah saya terima dan saya periksa. Tapi masalahnya perbedaan dengan proposalnya terlalu besar jadi tolong dibuat ulang. Saya tidak terima jika laporannya direkayasa. Sesuaikan dengan kondisi di lapangan apapun yang terjadi. Saya butuh tahu yang sebenarnya. Kalau tidak ada ya bilang saja tidak ada, jangan diada-adakan. Ini bukti transaksinya juga tidak sah menurut saya jadi saya minta Bapak menemui mitra terkait dan membuat bukti pembayaran yang sesuai," kata Jevan pada seorang karyawan.


"Baik, Pak."


"Mas. Nih sudah siap," kata Junius sambil memberikan sebuah dokumen pada Jevan.


Jevan membacanya dengan seksama. Daftar keluar masuknya barang dari gudang. Ada beberapa kejanggalan dia temukan di sana membuat Jevan langsung berdiri, memakai jasnya kemudian pergi dari kantor, "mas mau ke mana?" tanya Junius.

__ADS_1


"Sidak ke gudang," jawab Jevan tanpa menoleh ke arah adiknya. Keduanya lalu berjalan menuju ke ruangan tempat Jovan mengerjakan pekerjaannya.


Tok tok tok


"Silahkan masuk," kata Jovan tanpa menoleh ke arah pintu.


"Jo, mau ikut nggak?" tanya Jevan yang mengetuk pintu ruangan ini.


"Ke mana?"


"Sidak ke gudang."


"Lo mau nemui siapa di sana?" tanya Jovan.


"Kepala gudang Jo. Junius tadi kasih aku dokumen yang dibuat sama petugas jaga gudang setiap harinya. Kalau kubandingkan dengan laporan yang masuk ke kantor dalam dokumen ini terlalu banyak perbedaan," kata Jevan.


"Ok good. Kamu bisa ke sana. Terus Je sementara aku buat semua laporan masuk ke kita bertiga langsung tanpa ke kabag dulu jadi jangan kaget kalau balik dari gudang kamu bakal nemuin setumpuk laporan. Kasih tahu juga si Iyus," kata Jovan.


"Oke. Aku pergi dulu. Inget ya, makan siang punyaku jangan diotak-atik. Awas lo berani sentuh," kata Jevan.


"Iya iya, nggak akan ada yang nyentuh sayur jengkol punyamu. Nggak doyan juga aku," kata Jovan dengan nada datarnya.


"Ok nice. Itu buatan cantikku khusus buat aku bukan buat yang lain soalnya," kata Jevan sembari berjalan keluar dari kantornya dengan langkah cuek.

__ADS_1


Jovan melihat saudara kembarnya itu tengah berapi-api sekarang. Dia tidak tahu apa yang terjadi semalam tapi Jovan pikir ada sesuatu terjadi di antara Jevan dan Rere. Jovan tahu jika Rere juga sama bersemangatnya jadi Jovan mengambil kesimpulan bahwa tingkah aneh saudara kembarnya yang memang agak aneh itu tidak lain karena bawaan bayi. Jovan jadi ingin punya anak lagi kan kalau begini caranya.


Bukannya fokus pikirannya sekarang malah mulai bercabang. Dia mulai menimbang-nimbang bagaimana caranya dia membujuk Monik untuk mau punya anak lagi. Mereka kan belum punya anak gadis dan setahu Jovan Monik ingin sekali punya anak perempuan. Mungkin saja kan mereka bisa mendapatkannya kali ini. Mau bagaimanapun juga Jovan iri pada Jevan yang bisa dekat dengan anak perempuannya sedangkan dia dan Tirta, Genta tidak bisa begitu. Keduanya lebih dekat dengan ibunya ketimbang dia.


__ADS_2