Ours In Another Story

Ours In Another Story
51. Ada Masalah di Perusahaan


__ADS_3

Jevan dan Rere langsung menuju ke sekolah Nafiza untuk menjemput putri kecil mereka. Ketika sampai di sana tepat ketika bel sekolah dibunyikan. Nafiza menurut pada semua kata-kata yang diucapkan kedua orang tuanya pagi tadi. Setelah pulang sekolah, dia langsung berpamitan pada Abi yang dijemput oleh ayahnya. Jevan dan Rere sempat bertemu dengan Junius yang terlihat canggung dan menjaga jarak dari kerumunan ibu-ibu. Ketika melihat kedua kakaknya, Junius kemudian menggandeng Abi untuk memberi salam dulu sebelum pulang.


"Mas, diundang makan siang juga sama Pak Haryo?" tanya Junius.


"Kamu juga?" tanya Jevan diangguki Junius.


"Yaudah Mas, Mbak, aku pulangin Abi dulu, nanti aku nyusul ya," pamit Junius.


"Hati-hati Yus," jawab Rere.


Di jam makan siang, Jevan dan Rere pergi ke salah satu restoran di Jogja untuk memenuhi undangan dari salah satu orang kepercayaan Papa. Jevan sebenarnya dari awal sudah merasa aneh. Kenapa orang kepercayaan Papa yang menjabat sebagai salah satu dewan direksi perusahaan tiba-tiba ingin menemuinya dan Junius itu bukan suatu hal yang wajar. Apalagi kalau mengingat pesan yang pak Haryo kirimkan kemarin malam. Terkesan seperti ada pembahasan penting yang akan mereka lakukan.


"Selamat siang Mas Jevan dan Mbak Reva, silahkan duduk," kata Pak Haryo dengan begitu sopan menyambut kedatangan Jevan yang diikuti oleh Rere istrinya.


"Santai saja Pak, sebenarnya ada apa sampai Bapak tiba-tiba mengajak saya dan istri makan siang? Sepertinya kita tidak hanya akan makan siang biasa, apakah terjadi sesuatu di kantor?" tanya Jevan akhirnya mengutarakan kecurigaannya.


"Kita bicarakan setelah makan siang tidak apa kan Mas? Sekalian menunggu Mas Junius," kata Pak Haryo.


Beberapa waktu kemudian Junius sampai. Dia datang seorang diri dengan tergesa karena sudah merasa terlambat. Setelah meminta maaf pada Pak Haryo, mereka langsung memulai acara makan siangnya. Pak Haryo sudah memesankan satu set menu makan siang mulai dari appetizer sampai ke dessert. Pak Haryo berusaha mencairkan suasana agar mereka bisa lebih menikmati makanan dengan menanyakan kabar Rere dan Lia juga anak-anak. Begitu selesai makan siang, sisa makan mereka ditarik oleh para waiters menyisakan hanya minuman saja di meja.


"Jadi Pak, ada apa?" tanya Jevan langsung pada intinya.

__ADS_1


"Sebelumnya saya ingin meminta maaf karena ke-tidak profesional-an saya menyebabkan masalah di kantor," kata Pak Haryo.


"Apa masalah apa Pak? Katakan saja, andai saya bisa membantu pasti akan saya bantu," jawab Junius.


"Begini Mas Jevan dan Mas Junius, setelah Bapak sakit dan lepas tangan dari urusan kantor, terjadi beberapa gesekan kepentingan. Saya sendiri sudah berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan saham Kusuma tetap pada posisinya. Hanya saja, tempo hari gudang obat kita disabotase dan menyebabkan begitu banyak produk rusak dan hilang. Kerugiannya sudah lumayan besar. Selain itu pihak manajemen sedang fokus untuk mengusut kasus penggelapan yang ternyata terus terjadi selama beberapa tahun terakhir," kata Pak Haryo dengan raut wajah sangat serius.


"Pak Haryo bilang beberapa tahun terakhir? Tepatnya berapa tahun Pak?" tanya Jevan.


"5 tahun Mas," jawab Pak Haryo.


"Pas ketika Nafiza lahir. Itu kan tahun di mana Papa mulai pensiun Mas," bisik Rere yang menyadari sesuatu.


"Benar Mas Junius. Dan saya di sini untuk meminta bantuan pada anda berdua putra Bapak Jeffrey untuk datang ke kantor dan membantu kami menyelesaikan masalah ini. Saya tidak memiliki hak penuh atas perusahaan, jadi untuk menggerakkan dewan direksi juga sulit, tapi di bawah kendali Mas Jevan dan Mas Junius sebagai pemegang saham terbesar setelah Bapak semuanya mungkin dilakukan," kata Pak Haryo.


Di bawah meja Rere menggenggam tangan Jevan, dia jelas kaget dengan situasi yang terjadi. Tidak menyangka jika ternyata banyak lubang di perusahaan Papa yang terbilang bersih. Rere sendiri sedikit banyak tahu seberapa besar usaha Papa mempertahankan dan mengembangkan Kusuma Group hingga menjadi perusahaan sebesar ini. Karena selain Kusuma Group memiliki usaha di bidang kesehatan, Kusuma Group juga terbilang lancar memberikan beasiswa pendidikan bahkan tidak segan membantu menyeponsori penelitian banyak ahli medis baik di Jogja maupun di luar Jogja.


"Pak, saya harus membicarakan ini dengan anggota keluarga saya. Saya mohon bantuan Anda untuk membantu kami mempertahankan Kusuma Group sementara ini bagaimanapun caranya," kata Jevan.


"Baik Mas, silahkan anda boleh membicarakannya. Saya pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu. Karena Pak Jeffrey juga sudah banyak membantu saya di masa lalu, tentu saja saya harus membalas budi. Lagi pula Kusuma Group sudah seperti rumah untuk saya. Dari awal karier saya ada di Kusuma Group dan Bapak adalah salah satu yang berjasa besar terhadap hidup saya hingga saya bisa sampai di titik ini," kata Pak Haryo.


Mendengar ucapan Pak Haryo entah kenapa justru membuat Jevan semakin curiga. Ada yang aneh dengan gerak gerik pak Haryo. Ada yang sepertinya disembuyikan dari Jevan. Entah karena kondisi perusahaan terlampau kacau dan Pak Haryo tidak sampai hati mengatakan segalanya atau karena ada masalah lain yang tidak perlu Jevan tahu.

__ADS_1


Ketika perjalanan pulang Jevan hanya diam. Di kepalanya banyak pikiran-pikiran jelek mulai muncul. Apalagi mengingat kalimat Rere pagi tadi soal firasat buruk yang dia rasakan. Agaknya Jevan jadi yakin jika memang akan ada yang terjadi di keluarga besarnya. Kemarin Jovan terseret dan kini Ayahnya yang mendapatkan masalah. Dia hanya berharap jika masalah ini tidak akan menganggu target yang sedang Rere kejar. Mana dia sudah terlanjur menawarkan bantuan pada Rere soal fashion weeknya.


"Mas...," panggil Rere.


"Hmm?"


"Fokus nyetir dulu," katanya seolah tahu apa yang sedang Jevan pikirkan.


"Maaf. Pikiranku kemana-mana," kata Jevan.


"Pelan-pelan saja Mas. Kamu nggak sendiri, jangan seperti Jovan Mas. Apapun masalah yang akan kita hadapi nanti kamu nggak boleh melangkah sendirian, ya?"


"Pasti. Aku akan selalu butuh restumu, Cantik. Aku akan selalu membutuhkan persetujuanmu. Karena aku yakin kedepannya aku semakin sering meninggalkan kamu dan anak-anak sendirian di rumah," kata Jevan.


"Aku selalu merestuimu, Mas. Selama yang kamu lakukan baik untukmu aku akan selalu merestuimu," kata Rere membuat Jevan tersenyum. Tangannya kemudian tergerak untuk mengelus kepala Rere lalu turun untuk menggenggam tangannya. Rere merespon dengan tersenyum kemudian ikut menggenggam tangan Jevan dan mengelusnya.


"Aku tidak mau menjadi alasan tertahannya langkah kakimu, sayangku," kata Rere.


"Nggak sayang, kamu justru adalah sumber semangatku. Sejak pertama kali aku bertemu denganmu hingga detik ini dan tidak akan berubah sampai di masa depan nanti. Kamu sudah diikrarkan untukku dan akan terus begitu baik di dunia maupun di akhirat," kata Jevan.


"Aamiin, semoga kita dipersatukan kembali setelah kematian nanti," kata Rere.

__ADS_1


__ADS_2