Ours In Another Story

Ours In Another Story
39. Curhatan Monika


__ADS_3

“Kamu udah berusaha omongin baik-baik belum sama Jovan?”


“Udah tapi aku malah dibentak. katanya aku terlalu nyampuri urusan kerjaan dia,” kata Monika.


Rere merasa kalau masalah ini cukup serius. Seorang Jovando yang dia kenal mana pernah menyakiti Monik. Dia sama persis seperti Jevan, tidak akan bisa menyakiti seorang wanita. Apalagi dia yang disayang rasa hormatnya sama besarnya seperti dia menghormati ibunya.


Monik masih terus bercerita panjang lebar sehingga membuat Rere harus membatalkan kepergiannya. Sebagai gantinya dia memberikan sebuah catatan pada Hanna dan meminta Hanna untuk pergi menggantikannya. Mau bagaimana lagi, Rere tidak tega meninggalkan Monika seorang diri dalam kondisi terpuruk. Bagaimanapun juga dia bukan hanya ipar tapi juga sahabat. Sahabat yang sangat dekat dengannya. Apalagi Rere tahu di sana Monika tidak akan punya tempat untuk bicara selepas Monika bicara pada Rere.


Jevan melihatnya duduk di tangga akhirnya dia mendekati Rere dan bertanya mengapa dia ada di sana padahal Jevan tahu Rere akan pergi. Rere akhirnya ikut serta bersama Jevan menjemput Nafiza dan langsung menuju ke rumah makan tempat mereka akan makan siang. Rere berjanji akan menemani Jevan bertemu dengan salah satu rekan kerja Papa di kantor untuk makan siang bersama sembari membicarakan sesuatu.


“Mas, nanti malem ada acara nggak?” tanya Rere pada Jevan.


“Ngerjain deadline aja sih, kenapa? Mama mau cerita apa? Tadi telpon dari siapa kok kayaknya serius banget?” tanya Jevan.


“Monik, berantem sama Jovan,” jawab Rere tidak bersemangat.


“Berantem? Kenapa katanya?”


“Ya itu, gara-gara cewek kurang bahan. Dia bilang Jovan sering kepergok di pub dan beberapa kali Monik tahu kalau Jovan ngebales chat dari cewek itu. Monika juga cerita, waktu dia negur Jovan dia malah dibentak dan dibilang terlalu mencampuri urusan kerjaan Jovan. Mas, Monik kasian nggak ada temen di sana dia sendirian,” kata Rere.


“Mau gimana lagi, dia udah niat ikut suami. Kamu nggak akan aku kasih ijin ke sana loh Ma. Kerjaan kamu banyak di sini, kita juga udah punya planning. Nanti aku coba ngobrol sama Jovan ya, kali aja bisa bantu masalah mereka,” kata Jevan.

__ADS_1


“Mending jangan deh Mas, aku takut Jovan makin marah karena menganggap Monik ngadu. Biar mereka selesaikan sendiri aja dulu. Aku malah lebih kepikiran anak-anak gimana ya? Waktu itu Jovan pernah marah sama Monik kan takutnya anak-anak susah ilang traumanya, kalau sampe gitu lagi kasihan mentalnya. Tirta sama Genta masih kecil,” kata Rere.


"Ibunya Monik masih di sana kan?"


"Nah itu dia, kemarin waktu mereka ke Indo kan sekalian ibunya Monik ikut pulang dan nggak balik ke Singapur lagi. Jadi ya di sana cuma ada Jovan, Monika, anak-anak sama pengasuhnya aja," kata Rere.


"Tapi kenapa ya? Habis kamu cerita terus firasatku jadi nggak enak," kata Jevan.


"Sama Mas, setahuku Jovan nggak akan pernah ngebentak cewek lho."


"Jovan itu sayang banget sama Monika, nggak mungkin dia ngebentak istrinya. Tapi cantik, ada satu rahasia laki-laki yang kamu harus tahu. Beban di pundak seorang laki-laki itu bukan hanya soal keluarganya saja. Ya tentang kedua orang tuanya, tentang pekerjaannya, apalagi untuk seorang Jovan yang kerjanya di perusahaan multinasional begitu. Bebannya pasti besar seiring tanggung jawabnya. Sedangkan laki-laki itu mudah gelisah. kalau ada yang tidak beres dengan pekerjaannya, dia akan segera mencari tahu bagaimana caranya dia harus segera menyelesaikan masalah itu. Terkadang jadi ada beberapa titik yang terlewat. Contohnya adalah soal bagaimana perasaan istri di rumah," kata Jevan.


"Maksud Mas?"


"Semoga saja Monika dan Jovan hanya saling salah paham ya Mas. Aku nggak mau mereka kenapa-napa," kata Rere.


“Aamiin, semoga masalah mereka segera selesai. Mas percaya sama Monika dan Mas juga percaya sama Jovan. Mereka berdua sudah dewasa dan mampu menyelesaikan masalah mereka sendiri. Kita bantu hanya jika diminta saja ya, nggak usah dipikir banget-banget ya. Aku yakin sama mereka berdua. Mereka itu sama-sama punya tanggung jawab yang besar. Jovan nggak akan pernah ninggalin keluarganya, Monik juga gitu. Kita doakan aja yang terbaik buat mereka,” kata Jevan membuat Rere sedikit lebih tenang. Walaupun setenang-tenangnya Rere dia tetap saja khawatir pada Monika yang harus berjuang seorang diri di sana tanpa ada bantuan siapa-siapa. Anak-anak juga kasihan, kalau kedua orang tuanya tidak segera menyelesaikan masalah mereka, Rere takut psikis Tirta dan Genta akan terganggu.


Malam harinya selepas Rere memastikan putrinya menata tas dan pergi tidur, Monika kembali menghubungi, "Mas, Monika telpon lagi," kata Rere pada Jevan yang sedang bekerja di meja kerjanya.


"Diangkat saja, coba Mas mau ikut dengar kalau boleh," kata Jevan yang kemudian menjeda pekerjaannya.

__ADS_1


"Halo Monika?"


"Rere...," kata Monika di seberang sudah dengan suara yang parau.


"Bentar Mon, di sebelahku ada Mas Jev mau ikut dengar boleh?"


"Boleh."


"Aku loud speaker ya," kata Rere.


"Mon...," panggil Jevan begitu Rere mengeraskan panggilan.


"Jevan..., saudara kembarmu lagi kenapa sih," kata Monika langsung menangis begitu saja.


"Kamu sama Jo kenapa sih?"


"Nggak tahu. Dia aneh akhir-akhir ini. Malam ini saja dia ijin tidak pulang ke rumah. Pikiranku kemana-mana Jev, biasanya dia kalau ijin tidak pulang akan minta dibawakan baju ganti tapi ini dia malah melarangku datang, katanya dia nggak kerja di kantor malam ini. Suamiku kemana Jev," kata Monika kembali menangis.


"Mon, kamu nangis kasihan anak-anak. Tenang ya," kata Rere.


"Nangis dulu, sampe puas. Habis itu baru ngomong. Kalau kamu ngomong sambil nangis mana bisa aku dengar suaramu," kata Jevan membuat Monika akhirnya diam dan menangis hingga puas. Rere tersenyum, Jevan memang selalu berkata demikian pada Rere, Jevan sering bilang pada Rere untuk menyelesaikan tangisannya dulu baru bercerita karena Jevan ingin Rere melampiaskan dulu sedihnya agar emosinya mereda dan kepalanya bisa berpikir secara jernih lagi.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Monika menghentikan tangisannya dan melanjutkan curhatannya pada Rere dan Jevan. Jevan sebenarnya sudah ingin membantu untuk setidaknya bertanya, mungkin saja kalau dia yang bicara Jovan mau mendengarkan karena selama ini yang mereka tahu memang hanya Jevando yang bisa membelokkan ambisi Jovan tapi Monika menolak bantuan dari iparnya. Dia bilang dia hanya ingin curhat bukan minta bantuan. Dia juga menegaskan dia akan segera menyelesaikan masalah ini apapun caranya.


__ADS_2