
Hari ini mereka akan berkeliling Bangli. Jarak 1 jam dari hotel. Selama di perjalanan, Rere terdengar bersenandung. Dia bahkan meminta pak Purnomo untuk menyalakan musik. Syukurlah mood Rere selalu baik selama seminggu ini. Semoga setelah ini tidak ada lagi yang membuatnya stress. Jevan juga kan ingin Cantiknya ini bisa menikmati kesibukannya seperti Monik dan bersantai seperti Lia tanpa beban apapun.
Saking senangnya dia bahkan sampai menelepon Monik dan menceritakan semuanya. Rere sepertinya lupa kalau saat ini di sampingnya ada Jevando yang mendengarkan percakapan dua saudara ipar ini.
“Eh vidcall yuk, mumpung kamu lagi perjalanan kan. Bentar aja, ajak Lia gih,” ajak Monik.
“Ok, aku invite ya, wait,” kata Rere kemudian mengotak atik sedikit handphonenya sampai tidak lama kemudian Lia ikut bergabung.
“Ngobrolnya jangan keras-keras ya, si kembar baru aja bobok. Aku di rumah sendiri nih,” kata Lia pada keduanya.
“Iya-iya, gimana kabarmu dek? Si kembar sehat kan?”
“Baik mbak, alhamdulillah. kemarin juga baru di imunisasi.”
“Lia, habis ini si kembar beneran punya adek deh kayanya. Lihat tuh mukanya mbakyumu berseri-seri gitu. Pasti semalam puas dia berduaan sama suaminya,” kata Monik.
“Hus, Mon filter dong filter. Aku ngga bawa headset. Ini ada Jevan ada pak Purnomo juga, malu aku. Ngomongin yang lain aja yah,” kata Rere.
“Sok-sokan malu. Kan yang ngegas duluan kamu,” kata Jevan berhadiah cubitan super manis dari Rere.
__ADS_1
“Ahhhhh…., Mama lenganku bisa putus ini,” kata Jevan.
“Salah siapa ngomong nggak dipikir dulu.”
“Iya ampun Ma, ini dilepas duohh Mama, tulung ini sampe biru gimana,” akhirnya Jevan merengek.
Di seberang sana, ada dua orang manusia yang sedang menertawakan Jevan. Siapa lagi kalau bukan Monika dan Lia. Dua iparnya ini bakal maju paling depan kalau diminta menggoda dirinya. Kenapa sih cuma dia yang kena padahal kan ada Junius, eh tapi muka dia yang polos-polos minta ditabok itu membuat orang jadi tidak tega sih, tapi Jovan juga ada, Tidak lah sudah, dia jauh lebih seram. Pada akhirnya ya Jevan lagi Jevan lagi yang kena.
Seperti hari sebelumnya, Jevan dan Rere memanfaatkan pengetahuan pak Purnomo untuk menceritakan semuanya. Mulai dari adat, budaya, makanan, sampai kebiasaan dan pantangan yang ada di Bali. Apalagi mereka saat ini sedang ada di salah satu desa wisata yang penduduknya masih sangat-sangat mengedepankan budaya dan adat istiadat mereka.
“Nah kalau ini namanya Karang Memadu Mas, jadi ini fungsi awalnya adalah buat mengasingkan penduduk laki-laki yang berani melakukan poligami,” jelas pak Purnomo.
“Karena sudah puluhan tahun tidak dipakai Mbak. Sebenarnya sih bagian ini termasuk angker, letaknya saja di pojok desa begini. Tapi karena desa ini dijadikan desa wisata jadi tempat ini juga ikut diperbaiki, toh masyarakat sini patuh Mbak, tidak ada yang pernah berani poligami,” jawab pak Purnomo.
“Di Hindu benar-benar dilarang ya pak?”
“Saya ndak begitu tahu mbak, saya kan Islam kaya Mbak. Tapi iya mbak, orang Bali asli ndak akan mungkin berani poligami apapun alasannya mbak, sama kaya railok di Jawa, disini juga sama,” jelas pak Purnomo, Rere hanya manggut manggut mendengarkan semua cerita pak Purnomo.
Selepas berkeliling di desa Penglipuran, mereka pergi ke Danau Batur. Di sini Rere dan Jevan kembali hanya berdua. Untuk yang satu ini Rere katanya mau mencoba pemandian air panasnya, tapi tergantung sih ramai tidak, kalau ramai dia tidak akan mau. Jevan juga tidak akan rela ada orang lain yang melihat tubuh istrinya. Walau masih pakai baju lengkap tapi kalau basah kan tetap saja membentuk tubuh.
__ADS_1
Beruntung ketika sampai di sana suasananya masih sepi. Ya lagi pula ini sudah hampir maghrib. Sudah pasti banyak wisatawan yang pulang, ini hari kerja lagi. Rere dan Jevan berada di tempat yang terdapat pancurannya. Kata pengelola yang ada di sana bagus untuk meredakan stress. Tepat sekali dengan tujuan awal Rere. Hanya saja Rere tidak mau terlalu lama berendam. Katanya kasihan Jevan nanti masuk angin seperti tempo hari selepas mereka pulang dari air terjun.
Selesai membersihkan badan, keduanya pergi ke restoran apung yang lokasinya tidak jauh dari sana. Katanya sih Jevan sudah memesan satu meja untuk mereka berdua, tapi Rere tidak percaya. Karena Jevan 24 jam bersamanya. Kapan dia menyiapkannya coba. Ternyata ketika keduanya sampai, seorang pelayan membawanya ke sebuah meja yang sudah disulap begitu apik berada outdoor tanpa atap di tengah danau membuat Rere mulai bertanya-tanya bagaimana cara Jevan melakukannya.
Suasana malam plus pemandangan yang indah membuatnya terlihat begitu romantis walau sederhana. Jevan menggandengnya berjalan menuju ke meja itu, membantu Rere untuk duduk baru dia duduk di hadapannya. Rere tidak habisnya tersenyum, entah kenapa. Dia memang tidak begitu menyukai hal-hal berbau romantis seperti Monik, tapi untuk yang satu ini dia akui dia terpesona. Pemandangannya langsung menatap hamparan luas Danau Batur. Bahkan Rere bisa merasakan goyangan-goyangan kecil ketika ombak menyapa.
Rere dan Jevan belum memesan apapun, tapi pelayan sudah membawakan dua gelas jus yang terlihat sangat cantik. Tidak lama kemudian, beberapa makanan juga datang. Rere sukses dibuat bingung, apa ini pelayannya salah melayani atau bagaimana tapi dia berani bertaruh, makanan-makanan yang berjejer rapi di meja saat ini 80% adalah makanan-makanan yang dia ingin makan sejak mendarat di Bali beberapa hari lalu.
Dia bilang ingin mencoba masakan jawa dengan citarasa Bali. Aneh kan? Ya begitulah, dia ini kalau soal makanan suka aneh seleranya. Katanya dia ingin mencoba sate bumbu Bali, atau mie ayam khas Bali. Padahal kan sama saja. Nah ini dibelikan oleh Jevan ikan bakar dengan bumbu khas Bali. Pokoknya dia pesan yang ada bau-bau Balinya namun yang masih mampu mereka makan.
“Kamu kapan pesen semua ini Mas? Kan kamu 24 jam sejak mendarat sama aku,” tanya Rere penasaran.
“Ada deh, kamu nggak perlu tahu. Yang penting kamu suka kan?”
“Tapi aku kepo.”
Jevan menghela nafas sebelum menjawab, “Aku minta tolong sama pak Purnomo. Pas hari pertama kita sampai aku langsung tanya kita mau kemana aja. Pak Purnomo bisa ngajak kita kesana kemari juga karena aku merekomendasikan beberapa tempat. Nah berhubung kamu suka banget sama wisata air, aku mau kasih pengalaman baru ke kamu dengan makan di atas air. Di Jogja kan nggak bisa kita begini,” kata Jevan sambil tersenyum.
Mendengar penuturan Jevan bukannya tersenyum Rere malah menangis. Jevan ini mungkin bukan tipe orang yang terang-terangan memperlihatkan sisi romantisnya seperti Jovan, tapi dia paling bisa menyenangkan orang. Tidak perlu banyak bicara tapi hasilnya tidak pernah mengecewakan.
__ADS_1