Ours In Another Story

Ours In Another Story
67. Dukungan untuk Suamiku


__ADS_3

Jevan merasakan Rere seperti sudah setengah sadar. Nafasnya sudah mulai memburu dan keringat dingin mulai bercucuran. Kepalanya juga sudah sempurna bertumpu pada Jevan membuat Jevan langsung berusaha untuk menggendongnya.


"Kuat Je?" tanya Jovan yang masih membantu.


"Insyaallah," katanya dan langsung mengangkat Rere dengan satu hentakan.


"Cantik tahan ya," kata Jevan pada Rere yang sudah menutup matanya.


Jevan dengan segera menggendong Rere menuruni anak tangga dan begitu saja berjalan keluar dari rumah. Jovan masih ada di sana. Dia ikut membantu Jevan membukakan jalan juga membantunya mengawasi apakah Jevan masih kuat atau tidak. Jevan jelas terlihat begitu panik ketika Rere sudah tidak sadar dan Jovan tidak kalah paniknya saat ini karena dia tahu dari Monika kalau Rere masih sangat syok dengan kejadian kemarin.


"Papa...!!!" teriak Nafiza yang melihat Papanya menggendong Mama.


"Shtt..., Nafiza," Haikal mencegah Nafiza menyusul Papanya.


"Mama kenapa?" tangis Nafiza.


"Nafiza jangan nangis dong. Kalau Mama denger nanti sedih lho. Mama nggak papa kok, tadi Om habis ngobrol sama Mama. Mama cuma capek aja, pengen istirahat. Nafiza di rumah dulu sama kak Tirta, sama Abi dan yang lain. Ada om juga kok di sini. Jangan sedih ya, nanti kita sama-sama susul Mama. Ok?" kata Haikal mencoba menenangkan Nafiza sekaligus berusaha menenangkan dirinya sendiri yang tidak kalah paniknya melihat Rere sudah tidak sadarkan diri di dalam gendongan Jevan. Dalam hati dia mulai berdoa agar sepupu juga keponakannya yang bahkan belum lahir itu akan baik-baik saja.


"Nafiza, jangan nangis. Tante Rere pasti baik-baik aja kok. Mungkin adeknya Nafiza mau lahir makanya Om Jevan bawa Tante Rere ke rumah sakit. Soalnya Tante Rere kan nggak bisa lahirkan sendiri. Harus dibantu dokter," kata Tirta membuat Nafiza mulai berhenti menangis.


"Beneran kak? Adeknya Nafiza mau lahir?" tanya Nafiza.


"Iya. Jadi Nafiza jangan nangis ya. Masa ponakan om cengeng sih. Cantiknya hilang lho," kata Haikal lagi.


***


Jevan sampai di rumah sakit dengan waktu singkat. Dia langsung masuk ke dalam IGD mencari bantuan. Dua orang perawat membawa brankar dan membantu Rere untuk turun dari mobil. Dia masih belum sadarkan diri. Rere masih enggan membuka matanya. Membaut Jevan semakin panik dibuatnya.

__ADS_1


Beberapa waktu Rere diperiksa, Jevan bahkan melihat seorang perawat membawa alat USG mendekat ke arah tempat istrinya masih diperiksa. Jevan mulai berharap cemas. Dia hanya mampu duduk menangkup tangannya berharap tidak ada hal buruk yang terjadi pada istri dan putranya.


"Ibu dijaga jangan sampai stres ya Pak. Alhamdulillah bayinya sehat, cuma agak protes saja. Sementara Ibu istirahat dulu di sini selama beberapa hari. Soalnya Bu Rere mengalami anemia jadi butuh perawatan yang agak ekstra," kata dokter menjelaskan.


"Baik dok, terima kasih," kata Jevan.


Rere sudah tenang tertidur di atas bed. Walau dia harus menggunakan kanula nasal dan infus di tangan, tapi Jevan bisa melihat Rere tidak lagi menahan sakitnya. Dia hanya merasakan perut Rere sedikit kaku dibanding biasanya. Anemianya mungkin mudah diobati, tapi kondisi hatinya kalau bukan Jevan sendiri siapa yang akan mengobati. Tapi nyatanya Rere stres karena Jevan. Karena dia merasa tidak mampu membantu apapun padahal suaminya itu tengah mengalami kesulitan dan perjuangan berat.


"Dek, maafin Papa ya. Sehat yuk, biar Mama nggak sakit-sakit lagi," kata Jevan pada perut Rere.


"Mas...," panggil Rere yang terbangun begitu mendengar suara Jevan.


"Gimana? Apa yang kamu rasain? Perutnya sakit, kepalanya pusing atau ada yang lainnya?" tanya Jevan.


"Jangan berlebihan dong. Pikiranku lagi kemana-mana nih, aku bingung," curhat Rere yang kembali menumpahkan air matanya.


"Kamu mikir apa? Omongin semua sini, biar legaan," kata Jevan. Dia terus mengusap ujung kepala Rere sedang tangan yang satunya dia pakai untuk menggenggam tangan Rere.


"Banyak banget Ma ya pantes kepalamu pusing," jawab Jevan.


"Ya habis gimana...," kata Rere yang tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.


"Cantikku sayang, masalah butik kan sudah diurus sama Hanna. Cedar ada dipercetakan. Terus tentang Monika, Jovando kan ada di sampingnya. Junius juga selalu mengawal kasusnya Lia. Kamu cukup mikirin aku, kakak, sama adek aja. Udah jangan mikir yang lainnya," kata Jevan mencoba menenangkan Rere sambil terus mengelus perut besar istrinya.


"Terus urusan Kusuma Group gimana?"


"Nggak usah kamu pikirin juga. Kan ada triple J ini yang selalu digadang-gadang bisa menyelesaikan urusan tersulit sekalipun. Kita bertiga sudah turun tangan, mana mungkin ada yang terlewat. Otak Jovan sudah bergabung sama bibir manisku dan mata elangnya Junius, apa sih yang perlu kamu takutkan?"

__ADS_1


"Tapi aku masih tetep takut kalau kalian terluka gimana? Monika sama Lia juga terkenal sadis Mas tapi mereka berdua kalah telak tetep aja," kata Rere.


"Lawan kita memang nggak main-main Ma. Dia brutal dan nekat. Tapi kamu percaya kan sama suamimu? Kita pasti bisa melalui ini. Kaya Papa pernah bilang kan, Selama menara Kusuma Family masih kokoh berdiri mau rudal segede apa juga nggak akan bisa merobohkan. Sedang kamu tahu sendiri kan tiang menara itu masih berdiri kokoh. Nih lho suamimu masih sanggup berdiri menahan atap Kusuma Family kok kamu nggak usah kahawatir ya," kata Jevan sambil membanggakan dirinya.


"Ada ada aja Papa mah. Jangan terlalu sombong Pa, kalau kesandung sakit," kata Rere.


"Kan ada kamu, yang jadi penunjuk arahku. Aku yakin aku nggak akan kesandung selama kamu masih berjalan di sampingku. Kamu adalah perempuan yang terbaik yang aku pilih bukan hanya untuk mendampingi langkahku tapi juga untuk menjadi mataku. Kita kuat karena kita bersama-sama, kan?" kata Jevan membuat Rere akhirnya tersenyum.


"Tuh kan adek juga setuju," kata Jevan yang baru saja merasakan tendangan putranya dari dalam perut Rere.


"Adek pelan-pelan dong nendangnya kan Mama jadi kaget," kata Rere ikut bicara pada perutnya. Jevan tersenyum mendengarnya. Tangannya kembali tergerak untuk mengelus perut Rere sekali lagi.


"Mas Jevan...," panggil Rere sambil menggenggam tangan Jevan yang setia di atas perutnya.


"Ya cantik?"


"Segera selesaikan urusan kantor. Biar nanti waktu aku lahiran kamu bisa fokus di sini," kata Rere.


"Insyaallah. Doakan aku ya," kata Jevan diangguki oleh Rere.


"Pasti."


Jevan mengecup kening Rere kemudian beralih ke bibirnya juga. Setelah itu tidak lupa dia kecup perut Rere untuk menyapa putra mereka, "kalian berdua tidur ya. Istirahat, aku akan menjaga kalian di sini," kata Jevan.


"Mas temani aku ya. Aku nggak mau sendirian."


"Tadi katanya mau jadi wanita mandiri, masa tidur aja masih minta ditemani suami," kata Jevan mencoba menggoda Rere.

__ADS_1


"Ya udah kalau nggak mau aku tidur sendiri aja. Sana pulang," kata Rere pura-pura marah.


"Nggak cantik, iya aku akan menemanimu. Tidurlah sayang, sleep well beauty," kata Jevan pada Rere sebelum dia menutup matanya untuk tidur.


__ADS_2