Ours In Another Story

Ours In Another Story
33. Junius Chandra dan Tingkahnya


__ADS_3

Selesai sudah pekerjaannya hari ini. Hanya tinggal membuang sampah di ujung gang dan beres. Sepanjang jalan dia bahkan sudah membayangkan akan tidur lelap sambil memeluk Lia, eh dia malah bertemu dengan pak RT yang mengajaknya diskusi soal keamanan komplek yang katanya sedang tidak baik-baik saja.


"Mohon maaf pak RT, bukannya saya menolak tapi kan di depan sudah ada pak Satpam yang stay 24 jam. Buat apa juga masih ada siskamling," kata Junius.


“Oiya ding mas saya lupa. Maklum saya dulu waktu masih muda tinggalnya di kampung. Ini mah akal-akalan anak saya saja nyuruh saya pindah kesini. Jadi masih suka kebawa suasana kampung.”


Mulai lagi, untung handphone Junius berdering dan lebih beruntungnya lagi ternyata Lia yang menelepon mencari dirinya yang tidak kunjung kembali. Lepas sudah dia dari jerat curhatan tak terbatas dan melampauinya milik pak RT. Tapi satu ujian baru sudah menantinya, begitu buka pintu dia bisa langsung mendengar kembarnya menangis. Kalau dari suaranya sih Krisna yang menangis. Dia mengompol dan membasahi seluruh pakaiannya memaksa Junius mengurungkan niat untuk segera merebahkan diri. Dia dengan telaten mengganti popok anak bungsunya dan menidurkannya kembali.


Sudahlah sudah lelah dia, mana Lia hanya cengar-cengir menatap dirinya dari atas kasur empuk dengan balutan selimut hangat. Dia hampir saja misuh kalau tidak melihat Lia menyingkap sedikit selimutnya sebagai tanda meminta Junius ikut berbaring di sebelahnya.


“Capek ya?” tanya Lia pada Junius yang langsung memejamkan mata dan masuk dalam pelukan Lia.

__ADS_1


“Banget. Gila Bunda kamu hebat bisa ngurus semuanya sendirian,” kata Junius kembali membuka matanya.


“Makasih. Karena Ayah sudah berjasa besar buat Bunda dan anak-anak, Bunda mau kasih hadiah deh buat Ayah,” kata Lia membuat mata 5 watt Junius bening seketika.


“Bener ya? Bunda udah kasih ijin lo, udah ACC. Nggak bisa ditarik lagi,” kata Junius.


“Nggak sekarang Ayah. Kepalaku masih pusing, aku masih demam juga. Ya kecuali kalau kamu mau besok pagi bangun hidungmu beler,” kata Lia sambil tertawa pasalnya Junius yang kecewa langsung menenggelamkan wajahnya ke bantal begitu saja.


“Iya aku janji, buat Junius Candra Kusuma seorang. Tapi nanti aja ya kalau aku sudah sembuh. Aku nggak mau suamiku yang paling ganteng ini ikutan sakit,” kata Lia lagi.


Awalnya Junius Candra tidak pernah memiliki bayangan apapun tentang kehidupan pernikahannya. Dia selama ini bergonta-ganti pacar ya hanya untuk kesenangan, memuaskan gengsinya yang begitu besar soal status hubungan. Terkadang ada satu atau dua orang gadis yang juga menjalin hubungan dengannya untuk main-main. Asik-asikan saja katanya, tapi terkadang ada juga yang menganggapnya terlalu serius. Junius semasa SMA terkenal sebagai seorang Player. Hampir semua cewek hitz di sekolahnya pernah dia pacari. Bahkan beberapa gadis dari sekolah lain juga masuk dalam daftar panjang mantan pacarnya.

__ADS_1


Reputasinya sebagai seorang vokalis band membuat dia banyak digilai oleh teman-temannya. Dengan suara berat, gaya cool dan karisma keluarga Kusuma membuatnya lupa daratan. Pernah satu waktu ada satu orang gadis yang menamparnya karena tidak terima diputuskan begitu saja. Buat Junius itu sudah biasa. Bahkan dia pernah memberikan seluruh isi dompetnya secara cuma-cuma agar bisa putus dari pacarnya.


Di sisi lain, ada seorang gadis biasa, namanya Julia. Dia bisa sekolah di tempat seelit ini karena kerja keras dari kedua orang tuanya. Julia juga sama seperti gadis-gadis lainnya, menggilai Junius dan hadir di setiap perform-nya. Dia biasanya akan berdiri paling depan meneriakkan nama Junius paling kencang. Junius sadar, dia mengenal Julia sebagai salah satu gadis yang mengidolakan dia. Tapi entah kenapa untuk yang satu ini Junius enggan bermain dengannya.


Bukan karena derajatnya, Lia ini bukan dari keluarga kekurangan kok. Ayahnya adalah seorang PNS, ibunya tidak bekerja tapi dari hobinya menanam tanaman hias menghasilkan lah sedikit-sedikit. Lia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Dia adalah anak sulung. Lia cantik, baik, pintar juga. Dia juga salah satu anak OSIS yang terkenal dekat dengan guru-guru. Secara reputasi dia masih mampu mengimbangi Junius.


Sore ini Junius pulang dengan keadaan seragamnya basah karena disiram es teh sehabis memutuskan Jasmine, dari kelas XI IPA 3. Dia sih bodo amat, Mama juga sudah hafal kalau anak bungsunya itu pulang dalam kondisi begini berarti dia baru saja putus. Bahkan saking biasanya, kedua kakaknya kerap kali menjadikan momen ini sebagai salah satu ajang taruhan. Jovan bertaruh dia akan dapat pacar baru besok, kalau Jevan bilang 3 jam lagi dia akan keluar kencan sama pacar baru.


Taruhan kali ini dimenangkan oleh Jevan. Setelah pulang, mandi dan berganti pakaian Junius hanya rebahan sambil chatting entah dengan siapa. Setelah 3 jam, dia ijin sama Mama mau kencan katanya dan ketika Jovan tanya dia menjawab baru saja jadian dengan Wulan anak X IPS 2. Kali ini bukan teman seangkatan, Wulan adalah seorang anak bawang di club basket. Tapi lumayan lah buat menemani malam minggunya kali ini.


Taruhan berlanjut, Jevan bertaruh mereka hanya akan pacaran selama 1 bulan, sedangkan Jovan bertaruh selama 2 minggu, di samping kedua kembar yang sedang asik bertaruh sembari duduk di sofa itu Mama malah nyeletuk “Paling berapa hari udah putus.” dan ternyata benar, belum sampai weekend berikutnya keduanya putus. Jevan tidak sengaja melihat Junius duduk di sudut cafe dekat Tugu bersama seorang gadis bernama Indah yang Jevan tahu rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari rumah mereka.

__ADS_1


Jeffrey sebagai seorang ayah cuma bisa geleng-geleng. Kenapa dia punya 3 orang putra tidak ada satu saja yang normal benar-benar normal. Jovan si sulung kalau sudah yang namanya punya target tidak akan pernah bisa dibelokkan. Anak itu ambisius parah, dan terkadang hingga mengorbankan hal lain demi targetnya itu. Jovan juga keras kepala persis sepertinya. Perfeksionis dan selalu ingin semua hal berjalan sesuai dengan rencananya.


Kalau Jevan si tengah, mau dia dicambuk sekalipun kalau dia tidak mau ya tidak akan dia lakukan. Dia juga tidak pernah terlihat ambisius seperti saudara kembarnya. Jangankan ambisius, bisa melihat Jevando mengerjakan tugasnya tepat waktu saja sudah merupakan suatu keajaiban. Kalau si bungsu, benar sih dia ini tipikal anak yang cerdas dan populer. Dia banyak ikut kegiatan ini itu, tapi nilainya tidak pernah melorot sedikitpun. Ya sayangnya hanya satu ini, si bungsu terlalu pintar memanfaatkan ketampanannya sampai di cap sebagai seorang pro player. Untung saja anak itu tidak sampai berbuat terlalu jauh. Dia hanya akan sekedar bermain-main tanpa menyentuh pacar-pacarnya.


__ADS_2