
Hasil persidangan Monika sudah keluar. Melalui surat resmi dari pengadilan dia dinyatakan tidak bersalah atas semua tuduhan. Mengetahui akan hal itu membuat Monika berani untuk datang ke penerbit bersama pengacaranya guna mengajukan gugatan balik atas rumor plagiarisme yang diterimanya. Dia bertekad untuk memutuskan kontrak kerja dengan penerbit rekanannya yang bukannya membantu dia menyelesaikan masalah tapi malah ikut berusaha menjebloskannya ke dalam penjara.
“Bunda yakin sendiri bisa?” tanya Jovan pada Monika yang sedang memoles alisnya di depan meja kaca.
“Lebih baik aku sendirian deh Yah, soalnya kalau ada kamu aku jadi nggak bisa pasang taring,” kata Monika dengan bangganya.
“Bunda jangan sadis sadis ah kasian orangnya nangis nanti. Kemarin saja waktu persidangan kamu gertak gitu orangnya sudah ciut lho. Apalagi ini beneran kamu lakukan,” kata Jovan.
“Nggak peduli. Salah siapa berani nyenggol Monika Arum Sari,” kata Monika sambil tertawa.
Kondisi ketiga menantu Kusuma berangsur-angsur membaik. Monika kini justru menuntut balas, sedangkan Rere ikut mendapatkan keberanian pula untuk melaporkan kasus pembobolan butiknya ke pihak berwajib. Dia juga ingin menuntut dan meminta pelaku melakukan ganti rugi atas apa yang telah dilakukan. Lumayan kan nanti uangnya bisa dia pakai untuk mengganti uang lembur anak-anak yang melayang karena kegagalan mereka mengikuti catwalk.
Jevan dengan setia membantu Rere, istrinya itu memang sudah cukup sehat tapi dia tetap saja khawatir. Saat ini keduanya sedang berada di kamar. Jevan membelikan sepatu baru kemarin berharap Rere akan merasa lebih nyaman karena kakinya saat ini sering bengkak membuat sepatu lamanya terasa sempit. Jevan berjongkok di hadapan Rere membantu cantiknya memakaikan sepatu baru itu.
“Cantik kalau ada apa-apa kabari aku ya,” kata Jevan.
__ADS_1
“Tenang aja Pa, aku pasti akan baik-baik saja. Demi kamu demi anak-anak aku pasti bisa. Lagian berani main-main sama Reva Aulia. Jangan harap dapat sesuatu. Viona aja kalah telak apalagi cuma curut modelan begini,” kata Rere yang tebakar emosi jika mengingat apa yang terjadi.
“Ampun Ma ngeri. Jangan mengamuk kaya Monika ya, kamu lagi bawa si kecil lho. Kalau kamu marah-marah dia pasti ketakutan,” kata Jevan.
"Iya Mas, aku cuma nggak sabar saja bisa ketemu sama pelakunya dan lihat bagaimana dia memohon maaf padaku. Aku nggak punya salah apa-apa lho tapi dia berani macam-macam sama aku, lihat saja nanti," kata Rere.
"Mama sabar," kata Jevan lagi.
"Aku ingin mengajarkan sama anak-anakku Mas, kalau mereka tidak salah mereka tidak perlu takut. Karena aku ingin anak-anakku tumbuh menjadi anak-anak yang berani," kata Rere.
Selain Rere, Lia juga sama. Dia dengan tegas membantah semua tuduhan. Dia bahkan bisa memberi bukti bahwa dia tidak bersalah. Dia memperlihatkan aplikasi pesan singkatnya dan memperlihatkan bahwa tidak ada apapun yang dihapus dari sana. Lia juga bahkan tidak menghubungi siapapun di hari itu kecuali suami dan ibunya. Lia bahkan sampai memperlihatkan riwayat mutasi rekeningnya juga menanyakan pada murid-muridnya kemana mereka harus membayar kunci jawaban itu.
Diketahuilah sudah jika ternyata Lia hanya dijebak oleh pihak sekolah. Entah siapa yang memulai Lia tidak peduli, kemarahannya kini tertuju kepada seluruh sekolahan bahkan termasuk juga siswanya. Pihak kepolisian akhirnya menarik kembali surat penangkapan Lia. Dia dinyatakan bebas dari segala tuduhan membuat Lia langsung menghubungi pengacara Papa untuk membantunya mengembalikan nama baiknya.
Pagi ini, Junius diminta menemani Lia datang ke sekolahnya. Dia bilang dia ingin membalas dendam dan dia ingin suaminya ada di sana sebagai penguat langkahnya. Lia tidak memakai seragam guru seperti biasanya padahal dia sudah mengiyakan permintaan rekan kerjanya yang memohon dia bisa kembali ke sekolah dan kembali mengajar melalui pesan semalam.
__ADS_1
Lia terlihat cantik dengan menggunakan kemeja berwarna merah dan rok berwarna hitam. Sepatunya juga bukan sepatu yang dia pakai biasanya. Dia mengenakan heels tinggi. Polesan make up-nya juga Junius akui agak lebih menor dengan lipstik merah dan rambut terurai indah. Lia benar-benar seperti seseorang yang berbeda. Dandanannya begitu berani dan mengisyaratkan begitu banyak dendam di dalam hatinya.
“Bunda, kamu itu mau mengundurkan diri atau mau menggoda pak kepsek?” tanya Junius yang melihat Lia berkaca sembari membetulkan lipstick-nya di dalam mobil.
“Ini pakaian perangku. Aku harus tampil sempurna biar mereka tidak lagi menyepelekan aku. Enak aja minta aku balik bermodal pesan wa padahal kemarin udah menghujat sebegitunya. Kurang ajar itu namanya. Dasar kepala sekolah t*i. Selama kerja di sini aku hampir setiap hari lembur tidak pernah dia berikan apresiasi, malah mendapatkan fitnah sebegininya, sekarang dia masih mau pakai tenagaku untuk meningkatkan reputasinya sendiri? Huh! Sorry ya, aku tidak serendah itu,” kata Lia.
Junius yang mendengar hanya mampu menelan ludah. Awalnya dia mengkhawatirkan istrinya, tapi beberapa detik kemudian dia jadi mengkhawatirkan orang lain. Sepertinya akan ada yang binasa pagi ini di ruangan yang tampak mewah itu. Sejak makan siang bersama kakak iparnya kemarin sorot mata Lia berubah. Dia tidak lagi kacau seperti biasanya bahkan Junius akui belum pernah dia melihat Lia seperti ini lagi setelah masalah dengan Ning Ning ketika itu. Tunggu dulu, kalau diingat-ingat lagi ketika menghadapi Ning Ning pun dia tidak semenakutkan ini. Junius mulai bergidik ngeri melihat penampilan istrinya.
"Bunda kamu yakin?"
"Aku yakin. Aku tidak peduli jika aku dihujat tapi jika sampai ada yang berani mengusik keluargaku. Akan kuhaj*r habis-habisan orang itu. Aku adalah ibunya anak-anak jadi aku tidak boleh terluka atau mereka akan terluka juga. Seluruh sekolah ini sudah berani main-main denganku, mengacaukanku dan membuat anak-anakku menangis. Awas saja, akan kubuat mereka menangis juga," kata Lia sebelum dia turun dari mobil.
Junius menemani Lia sampai ke ruang kepala sekolah. Lia menggandeng lengan Junius dan berjalan di koridor bak model yang sedang bergaya. Keduanya sukses menjadi sorotan semua mata yang melihat. Bagaimana tidak, Junius itu tampan dengan postur tubuh yang tinggi tegap dan kulit yang putih bersih bergandengan dengan Lia yang kini tampak begitu cantik dengan dandanannya. Begitu sampai ke ruang kepala sekolah, Lia langsung masuk tanpa mengetuk pintu, dia meletakkan surat pengunduran dirinya begitu saja di atas meja.
“Apa-apaan ini Bu Lia? Kenapa anda masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu?" tanya kepala sekolah pada Lia yang sudah berdiri di hadapannya dengan angkuh.
__ADS_1