
"Aku tahu, tapi ini demi Papa dan Mama."
"Kusuma Group mungkin dibangun sama kakek, tapi yang membesarkannya adalah Papa dan Mama. Secara nggak langsung Kusuma Group adalah saudaramu juga. Dia yang selama ini sudah membantumu sampai bisa menjadi sosok sehebat ini. Ayolah, untuk kali ini saja. Aku nggak akan maksa kamu untuk memegang kekuasaan itu setelah masalah selesai. Semuanya akan kukembalikan padamu," kata Monika.
"Monika, memulai semuanya dari nol nggak gampang. Apa kamu memang nggak mau hidup susah? Jujur sama aku Mon," kata Jovan.
"Kalau aku nggak mau bagaimana? Kamu mau apa? Kamu nggak mungkin akan mengembalikan aku kepada orang tuaku kan? Kita sudah berjanji, kamu sudah mengucap akad dengan menjabat tangan Ayahku. Ingat Jov kamu suamiku. Kewajiban untuk memberikan kehidupan yang layak untuk istri dan anak-anak ada padamu. Bukan aku tidak mau hidup susah tapi jika memang memungkinkan untukmu kembali kenapa tidak? Aku janji aku tidak akan mempertanyakan apa lagi sampai meragukan apapun yang akan kamu lakukan di masa mendatang," kata Monika.
Jovan sudah terdiam. Dia tidak lagi menjawab tidak juga melawan. Monika akhirnya menyerah. Dia tidak mau memaksa suaminya. Dia paham sebesar apa ketakutan Jovan saat ini. Dia hancur hanya dalam satu waktu, dan Monika cukup merasa bersalah karena tidak secara langsung ada di samping Jovan ketika dia terpuruk. Monika menarik tubuhnya perlahan kemudian memeluknya. Mendekapnya dan menenangkan hatinya.
"Kamu tahu apa yang terbaik buat kamu dan buat kita," kata Monika di telinga Jovan.
Jovan luluh. Awalnya dia sudah berjanji tidak akan mengorbankan lagi keluarga kecilnya, tapi setelah mendengar penjelasan Monika dia melunak. Dia akhirnya mulai menimbang-nimbang baiknya bagaimana. Apakah dia harus menerimanya atau menolaknya. Di satu sisi dia takut hal yang buruk akan kembali terjadi, tapi jika dia menolak tidak ada jaminan keluarga Jevan dan Junius bahkan seluruh keluarga besarnya akan baik-baik saja.
Jovan, Monika, Tirta, Genta dan pengasuh mereka sudah sampai di Indonesia sejak siang tadi. Sementara waktu pengasuh anak-anak meminta libur dan pulang kampung halamannya di Magetan. Jovan memberinya libur selama 2 minggu sebagai rasa terima kasihnya telah membantu Monika, istrinya untuk mengurus Tirta dan Genta dengan baik. Jovan dan Monika membawa anak-anak ke rumah orang tua Monika lebih dulu agar Jovan bisa meminta maaf secara lebih baik dan lebih sopan pada kedua mertuanya. Baru di hari ketiga sejak kepulangan, mereka pergi ke rumah Papa.
Begitu sampai di sana, Mama menangis menyambut kedatangan keluarga anak pertamanya. Papa Jeff juga begitu, Papa hanya mampu meneteskan air matanya sambil menepuk-nepuk punggung putra sulungnya ketika dia berlutut sambil meminta maaf di hadapan Papa dan Mama.
"Yang sudah terjadi biarlah jadi pengingat agar kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kamu anak sulung Mama. Kamu adalah kebanggaan Papa dan Mama. Mama nggak peduli mau sejauh apa kamu tersesat, kamu tetap anak Mama Jovando," kata Mama memeluk putra sulungnya yang ikut menangis.
__ADS_1
***
Tirta dan Genta tampak bahagia bermain mobil-mobilan di halaman rumah. Nafiza dan Abi yang baru kembali dari sekolah juga menyusul datang dan ikut bermain bersama mereka membuat suasana rumah Papa sekarang menjadi ramai. Rere juga ada di sini, ikut menyiapkan makan siang untuk mereka semua.
"Hai si kecil, apa kabar," kata Monika pada perut Rere.
"Baik. Tante juga apa kabar?" kata Rere.
"Alhamdulillah," kata Monika dengan wajah yang bersemu merah.
"Kok mukamu merah? Hayo kamu habis puas main catur ya?" tanya Rere sedikit berbisik.
"Bunda..., kaos Ayah yang warna ijo ditaruh mana?" tanya Jovan dari lantai 2.
"Masih di dalam koper."
"Nggak ada," jawab Jovan.
"Coba dicari dulu jangan asal nggak ada nggak ada aja," jawab Monika.
__ADS_1
"Nggak ada Bunda udah Ayah cari di koper Ayah di koper Bunda juga nggak ada," katanya membuat Monika dengan sangat terpaksa melangkah naik menyusul suaminya. Tentu saja sambil ngomel-ngomel.
"Kamu ini kebiasaan banget. Dari kecil selalu aja begitu. Barang apa aja kok hilang semua. Matamu itu mbok ya dipakai Jovando, kamu ini sudah besar masa sama Tirta sama Genta kalah sih, mereka aja bisa cari bajunya sendiri...," begitulah Monika terus saja bicara membuat Rere tersenyum mendengarnya.
Mama di bawah tertawa bersama Rere. Senang rasanya bisa melihat rumah tangga Jovando kembali baik-baik saja. Selain itu anak-anak juga terlihat baik dan tidak canggung atau malah takut dengan Ayah Bundanya. Apalagi sekarang Mama melihat sendiri bagaimana Jovando bisa berubah begitu banyak. Terlihat jelas bagaimana dia bisa begitu manja dan terus menempel pada istrinya, persis seperti Jevan dan Rere yang ke mana-mana selalu berdua.
Malam harinya, Junius dan istrinya mampir ke rumah Mama. Anak-anak jelas semakin heboh karena kedatangan si kembar Rama dan Krisna. Rama dan Krisna sudah berusia sekitar 18 bulan dan sudah mampu berlari ke sana kemari walau masih sering jatuh. Si duo gembul itu selalu tertawa ketika Abi menggodanya atau menggelitikinya. Monika, Rere, dan Lia mengawasi anak-anak bermain di depan televisi yang sudah disulap menjadi tempat bermain tentu saja. Sedangkan Papa, Mama, dan ketiga anaknya sedang merundingkan sesuatu di dalam ruang kerja Papa.
"Jo, aku nggak mungkin selesaikan ini cuma berdua sama Junius. Aku bisa lepasin urusan percetakan sebentar, tapi Junius nggak akan sanggup. Kerjaan dia banyak banget," kata Jevan.
"Je, kamu tahu sendiri sebesar apa ketakutanku. Kenapa kamu maksa? Bogem dari kamu aja masih nyut-nyutan sampe sekarang tahu nggak?" kata Jovan.
"Jovan, tolonglah. Demi Papa, demi Mama," kata Mama.
"Demi Monika dan anak-anak Jo," kata Jevan.
"Kabar soal kamu masuk penjara sudah sempat menyebar di media masa. Kalau kamu mau kasus itu dilupakan di masyarakat, maka kamu harus bersihkan nama kamu di sini. Bukan demi kamu, tapi demi nama baik Monika, dan demi kenyamanan anak-anakmu. Mereka berdua anak-anak yang cerdas Jo, mereka bisa jauh lebih baik dari Ayahnya. Tapi kalau noda ini nggak kamu hapus sekarang, suatu saat bisa jadi batu kerikil buat jalannya mereka. Monika juga penulis kan? Dia public figure yang banyak dikenal orang. Jangan sampai kariernya terganggu karena noda yang ada di kamu," kata Jevan sukses membuat Jovan terdiam.
"Yang dibilang kembaranmu itu bener Jov," kata Mama.
__ADS_1
"Cukup aku ngomong cuma sampai sini. Sisanya aku serahkan sama kamu. Kalau kamu mau, aku sama Junius akan jadi backing yang kuat buat kamu tapi kalau nggak, jangan tanya seberapa banyak kamu akan rugi di masa depan nanti," kata Jevan kemudian berlalu pergi.