
"Saya tahu jika anda tidak bekerja sendirian di sini. Cara anda menutupi kasus ini terlalu halus jika hanya dikategorikan sebagai kasus korupsi biasa. Lagi pula untuk apa anda menggelapkan produk obat-obatan dalam daftar G jika bukan untuk keperluan ilegal dan untuk melakukan bisnis gelap itu selama bertahun-tahun jelas anda membutuhkan back up yang kuat di pemerintahan jadi anda bisa lolos dari kejaran," kata Jovan.
"Tapi sayangnya anda tidak punya bukti yang kuat untuk menunjukkan jika sayalah pelakunya. Data itu saja tidak akan membuktikan apapun. Itu fitnah, bisa saja kan data itu dibuat sengaja untuk menjatuhkan saya. Keabsahannya tidak berlaku di mata hukum," kata Pak Haryo yang masih berusaha menyangkal.
"Tenang saja, buktinya sudah saya siapkan," jawab Junius yang sejak tadi duduk tenang di belakang.
"Saya juga bisa jelaskan kenapa anda sampai repot-repot berusaha memenjarakan kakak saya yang ketika itu masih bekerja dengan tenang di Singapura," lanjut Junius.
Junius berjalan ke depan, memperlihatkan dokumen rahasia yang dia cari selama ini. Ada untungnya juga dia menjadi pro player dan masih berteman dengan mantan-mantannya dulu. Karena bantuan Siska, mantan kekasihnya jaman SMA yang bekerja di kantor DPR tempat Pak Jamal bekerja, Junius bisa mendapatkan file ini.
"Bukti transaksi ini saya dapatkan langsung dari pihak terkait. Di sini jelas terlihat ada tanda tangan anda Pak Haryo. Anda sudah tidak bisa mengelak lagi. Karena Pak Jamal juga sudah tertangkap oleh KPK jadi cepat atau lambat akan ada pihak berwajib yang menyeret anda ke penjara," kata Junius lagi.
__ADS_1
"Maaf, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kami di sini tidak ada satupun yang tahu tentang ini? Anda menuduh pak Haryo yang sudah setia bekerja pada Kusuma Group selama puluhan tahun? Pak Jeff apa-apaan yang dilakukan anak-anak anda ini? Seharusnya rapat ini membahas pengangkatan Pak Jovan tapi kenapa jadi begini?!" tanya salah seorang dari anggota dewan direksi yang datang.
"Jelas saja anda tidak tahu. Karena selama ini anda semua menganggap Pak Haryo sebagai tangan kanan kepercayaan Pak Jeffrey. Beliau pintar bersilat lidah dan membuat anda mencurigai orang lain, makanya anda sekalian tidak menyadari apa yang terjadi. Karena selama ini Kusuma Group terlihat baik-baik saja dan saham yang ada di tangan anda selalu stabil. Tapi itu hanya bisa dilakukan di jaman pak Jeff saja. Di sini saya yang menjabat dan ditangan saya Kusuma Group harus bersih dari penyelewengan dalam bentuk apapun itu," kata Jovan.
"Saya percaya anda semua yang hadir di sini bukanlah orang sembarangan. Anda semua adalah orang yang mumpuni di bidangnya tetapi kenapa tidak ada satu pun dari anda yang curiga kenapa saham Kusuma Group tidak mengalami kenaikan padahal pamor Kusuma Group terus meningkat setiap tahunnya?" tanya Jovan membuat seluruh yang datang mulai memahami sesuatu.
“Alasan kenapa Mas Jovan di Singapura bisa dipenjarakan karena Mas sudah mencurigai jika Pak Jamal membangun relasi tidak sehat dengan salah satu petinggi perusahaan tempat Mas Jovan bekerja sebelumnya. Mas Jovan sudah hampir sampai pada titik terang jika bukan karena pak Haryo memanfaatkan kesempatan dengan berusaha memecah belah keluarganya dan membuat fokus Mas Jovan terbagi dua,” kata Junius.
“Apa yang dilakukan Pak Haryo Mas Jevan?” tanya salah satu yang lainnya.
“Pak Haryo dan Pak Jamal sengaja menyebarkan isu plagiarisme terkait novel baru Ibu Monika dan menuntutnya dengan berbagai macam denda hak cipta. Seseorang atas suruhannya juga merusak gaun Ibu Rere yang akan diikutkan dalam ajang fashion week membuatnya merugi ratusan juta banyaknya. Keduanya juga ikut bertanggung jawab atas fitnah yang diterima oleh Bu Lia atas kasus jual beli kunci jawaban di tempatnya bekerja,” jelas Jevan.
__ADS_1
"Jika Bapak Ibu semua mengingat undangan kami, seharusnya rapat ini sudah diadakan bulan lalu tapi karena apa yang telah direncanakan oleh kedua orang ini kami semua terpaksa harus menunda penyelidikan," kata Jevan lagi.
"Ya, itulah alasan kami tidak main-main di sini hari ini. Mencoba menumbangkan Kusuma Group saja sudah merupakan kesalahan besar. Perusahaan ini sudah bagaikan adik bagi kami bertiga. Ditambah dengan Pak Haryo dan Pak Jamal yang berani mengusik keluarga kami. Membuat Papa syok hingga berakhir lumpuh juga menyakiti istri dan anak-anak kami. Kesalahan itu saja sudah tidak termaafkan," tambah Junius.
“Semua bukti sudah mengarah kepada anda. Pihak editor yang menerima naskah novel istri saya sudah mengakui jika anda yang datang padanya dan menghasutnya untuk menyebarkan rumor itu. Kesaksiannya juga sudah diterima dan akan segera disahkan oleh pengadilan,” kata Jovan.
“Istri saya juga sudah menemukan pelakunya dan tikus kecil itu langsung mengakui jika anda yang memerintahkan dia untuk menggunting gaun itu hingga rusak dan tidak bisa diperbaiki. Bukankah seharusnya kuasa hukum Ibu Reva Aulia sudah datang ke kediaman anda meminta ganti rugi pagi ini?” tambah Jevan.
“Pihak kepolisian juga mendapatkan bukti jika calo yang menyebarkan kunci jawaban itu melakukannya atas nama anda. Anda juga yang mencurinya dengan bantuan oknum yang bekerja di sana. Saya sudah mengusut semuanya, kaki tangan anda semua sudah mendapatkan hukumannya dan pasti akan menuntut anda. Tidak mungkin kan mereka akan diam saja tanpa protes. Minimal anda harus merasakan apa yang mereka rasakan juga,” kata Junius.
Ketika dia akan melanjutkan kalimat, sebuah pesan masuk ke handphonenya. Ketika membaca pesan itu, Junius langsung kembali menatap pak Haryo dengan tatapan penuh kemenangan. "Anda berencana pergi ke mana pak siang ini? Kabur ke luar negeri? Maaf, visa anda sudah diblokir. Tiket atas nama anda juga sudah dibatalkan. Aset serta mansion milik anda di Perancis juga sedang dalam proses pemeriksaan termasuk juga tabungan anda di bank luar negeri akan mulai diusut sumber dananya Jika semuanya lancar mungkin dalam seminggu ini anda akan mendapatkan surat penyitaan. Anda lupa saya lulusan salah satu universitas bergengsi di sana. Saya mantan ketua perhimpunan Mahasiswa Indonesia-Eropa. Kalau hanya untuk menghubungi kedutaan dan meminta bantuan itu bukan hal yang sulit," kata Junius.
__ADS_1