
Jevan berencana memulangkan Rere dan Nafiza ke rumah Papa Dirga. Dia merasa lebih baik Rere tidak ikut campur lebih banyak lagi. Kondisi Rere belum benar-benar baik dan morning sicknessnya masih parah makanya Jevan membawa Rere ke rumah Papa karena dia tahu di sana akan ada Mbak Tiara dan Mas Reno yang membantunya merawat Rere.
Kekhawatirannya pada kondisi Rere lebih besar dibanding kekhawatirannya pada Jovan. Mau bagaimanapun juga Rere adalah istrinya. Dia tidak mau mengorbankan Rere karena permasalahan yang ada di dalam keluarga besarnya. Terlebih lagi Nafiza, anak itu jadi sering rewel dan tidak napsu makan karena kerap kali melihat Jevan yang diselimuti amarah.
"Cantik, kemasi pakaianmu. Setelah makan malam aku akan membawamu ke rumah Papa," kata Jevan.
"Terus Mas gimana?"
"Pikiranku akan terbagi banyak. Kalau di sini kamu akan terus mendengar curhatan Monika tapi kalau di rumah kamu nggak ada yang menemani. Reva, aku cuma nggak mau kamu kenapa-napa. Ingat bayi kita butuh perhatian lebih dari ibunya. Perasaanmu akan sangat berpengaruh pada kandunganmu. Kondisimu itu berbeda dengan yang lainnya jadi kamu nggak usah mikir yang di sini, tapi kamu pikirkan saja yang di sini," kata Jevan sembari mengelus perut Rere.
"Tapi Monika sendirian Mas kasihan," kata Rere.
"Tirta dan Genta ada di rumah kedua orang tua Monika. Jadi aku akan mengantar Monika ke sana besok. Untuk malam ini biarlah dia ada di sini dulu menenangkan dirinya. Kamu nggak usah khawatirkan apapun. Mas mau kamu hanya memikirkan Nafiza dan adiknya saja. Paham?" kata Jevan.
Rere tidak punya kesempatan untuk mendebat. Jevan memang bukan orang yang selalu memaksakan kehendak tapi jika dia sudah bicara rasanya Rere tidak pernah diberi kesempatan untuk menolaknya. Lebih ke tidak ingin, karena setiap keputusan yang keluar dari mulut Jevan suaminya selalu diikuti dengan alasan yang menurut Rere masuk akal. Laki-laki ini begitu logis dan tidak pernah mengada-ada. Dia akan bicara sesuai dengan isi hatinya dan semua itu akan selalu dia katakan pada Rere.
"Aku percaya sama kamu Mas. Jaga diri ya, maaf aku nggak bisa selalu menemanimu," kata Rere.
__ADS_1
Monika meminta pada Jevan untuk meninggalkannya seorang diri di rumah Mama. Dia mulai merasa bersalah karena dirinya memaksa Rere terus mendengar keluh kesahnya padahal saat ini iparnya itu sedang hamil muda dan berjuang melawan morning sickness-nya. Begitu keluarga Jevan pergi dari rumah, Monika membuat suasana rumah seolah-olah kosong karena firasat Monik berkata hari ini Jovando akan datang ke rumah Mama.
Baru sekitar 1 jam lalu keluarga Jevan pergi. Monik tengah mengoles selai kacang ke atas dua lembar roti ketika dia mendengar suara motor terparkir di halaman rumah. Belum dia melangkah, dia sudah mendengar suara Jovan memanggil namanya.
Monika berjalan pelan ke arah pintu. Dari balik jendela depan dia melihat ada bayangan yang sangat-sangat dia rindukan. Apalagi dia masih mendengar suara Jovan memanggil-manggil namanya juga menggedor pintu.
“Mon, aku tahu kamu ada di dalem. Aku nggak akan maksa kamu buat buka pintu dan menemui aku. Aku cuma mau bilang aku menyesal apapun kesalahan yang pernah kubuat. Aku butuh kamu Mon, anak-anak butuh kehadiran bundanya."
Jovan berhenti sejenak guna menenangkan hatinya juga mendesak masuk air matanya, "Ada masalah di kantor yang harus segera aku selesaikan Mon. Masalah ini menyangkut keluarga besarku jadi aku terpaksa melakukan semua ini demi melindungi kamu, melindungi anak-anak dan saudara-saudaraku termasuk Papa dan Mama, maaf kalau aku sampai mengorbankan perasaanmu tapi kumohon kamu percaya sama aku. Aku nggak akan pernah meninggalkan kamu dan anak-anak. Aku akan pulang ke Singapura setelah ini, aku titip anak-anak ada di rumah kedua orang tuamu. Setelah selesai urusanku di Singapura aku janji aku akan bawa kamu pulang apapun yang terjadi. Monika, aku mau kamu tahu kalau aku sayang sama kamu. Aku butuh kamu Monika, lebih dari yang kamu tahu,” kata Jovan sudah tidak lagi mengetuk pintu.
“Aku juga sayang sama kamu Jovan. Lebih dari yang pernah kamu bayangkan. Aku cuma nggak mau kamu terjatuh,” kata Monika mulai meraung dalam tangisannya.
Jovan hanya memberi tahu Junius soal kepulangannya ke Singapura juga memberi kabar tentang Tirta dan Genta yang dia tinggalkan di Indonesia. Begitu kedua kakinya mendarat di Singapura, dia langsung menuju ke rumahnya dan mencari tahu apapun yang bisa menyadarkan dirinya tentang kesalahan apa yang sudah memaksa Monika hingga pergi dari sisinya. Jovan tidak menemukan apapun kecuali tumpukan skrip novel terbaru Monika yang tergeletak di atas meja. Dia meraih skrip itu, dia tahu jika Monika sering diam-diam memasukkan semua yang dia alami ke dalam naskahnya.
Mata Jovan teralihkan pada sebuah note kecil berwarna oranye di pojok meja. Dia membacanya dan menemukan kalimat yang lebih dari cukup membuat air matanya tumpah.
“Asal kamu tahu, aku percaya sama kamu apapun yang akan kamu lakukan. Jadi aku harap kamu percaya sama aku. Jovan, aku minta maaf tidak bisa menjadi istri yang baik buat kamu,” kata Monika dalam catatan itu.
__ADS_1
“Monika, hubungan kita mungkin dimulai dari perasaanmu padaku. Tapi kamu juga harus tahu kalau seiring berjalannya waktu, aku juga menyukaimu. Apapun keadaanmu aku akan ada di sisimu. Karena aku membutuhkanmu, karena aku tidak bisa hidup tanpamu,” kata Jovan menyesali kebodohannya.
Sekretaris Jovan memberi kabar padanya jika ada masalah di kantor. Dia bilang tanda tangan Jovan disalahgunakan untuk meraup keuntungan. Polisi sedang mengusut kasus korupsi yang terjadi di kantor Jovan dan namanya terseret ke dalamnya. Jovan dengan secepat kilat pergi ke kantor dan menemukan ada dua orang tim penyelidik mulai menggeledah ruang kerjanya.
“Anda yang bernama Prasetya Jovando Kusuma?” tanya salah satunya.
“Yes. I am,” jawab Jovan.
“Bapak terduga terlibat dalam kasus korupsi. Jadi saya minta kerja samanya untuk ikut bersama kami dan kami mintai keterangan.”
Jovan begitu saja dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Dia hanya meminta sekretarisnya untuk membantunya memberi kabar pada saudara kembarnya, Jevando. Jovan percaya Jevan akan mampu membantu dirinya untuk setidaknya menghadirkan Monika di sisinya. Jujur, Jovan sudah tidak sanggup. Jika dia bisa memilih dia akan memilih untuk menyerah sekarang. Kesalahannya terlalu fatal dan tidak bisa lagi diperbaiki. Dia hanya bisa mengandalkan kemungkinan kecil Monika mau datang membantunya. Atau jika tidakpun dia akan memohon untuk bisa bertemu dengannya untuk yang terakhir kalinya.
"Kamu punya kontak Jevando. Hubungi dia dan minta dia datang bersama istriku. Kuharap kau masih mau membantuku. Aku tidak akan meminta apapun padamu setelah ini. Cukup datangkan Jevan dan istriku setidaknya selama persidangan," kata Jovan pada sekretarisnya sebelum dirinya memasuki mobil polisi.
Jovan menyesali semuanya. Dalam perjalanannya dia hanya bisa menatap kosong borgol yang melingkari kedua tangannya. Belum sempat dia melakukan apapun malah dia sudah kalah. Jovan sudah menduga jika semua ini akan terjadi. Kecurigaannya sudah lama dia rasa dan hal itulah yang membuatnya selalu mengawasi gerak gerik rekan kerjanya yang baru. Sayangnya Jovan kalah cepat, Jovan kalah mulai menyadari jika dia salah mengambil keputusan.
"Seharusnya aku tidak melangkah sendirian tanpa restumu Monika," batinnya sembari meneteskan air mata.
__ADS_1