
2 jam kemudian mereka sempurna mendaratkan kaki di Bali. Rere berjalan pelan dengan Jevan disampingnya menyamakan langkah sambil mendorong troli yang berisi koper mereka berdua. Ketika keduanya melangkah keluar, Jevan melihat seseorang yang familiar. Dia berdiri seorang diri mencari-cari seseorang. Jevan jadi ingat kata-kata Jovan sebelum keberangkatannya tadi, “Udah tenang, aku nggak akan nyuruh orang sembarangan kok.”
Orang yang sedang celingak-celinguk itu bernama Pak Purnomo, dia pernah menjadi supir pribadi Papanya, tapi dari kabar yang dia tahu selama 15 tahun terakhir ini beliau sudah tidak bekerja untuk Jeffrey Kusuma. Dia resign dengan alasan menikah dan Jevan sudah tidak tahu lagi bagaimana kabarnya. Padahal dulu ketika dia sekolah dia sering diantar jemput oleh Pak Pur.
“Mas Jevando ya?” tanya pak Purnomo.
“Iya, maaf ini benar pak Purnomo ya?”
“Mas masih ingat sama saya? Iya Mas ini Pak Purnomo, yang pernah kerja sama Bapak, Mas Jevando apa kabar? Wahh makin mirip Bapak ya Mas sekarang,” pujinya.
“Alhamdulillah baik pak, oiya kenalkan, ini Reva istri saya,” kata Jevan.
“Hallo mbak Reva, kenalkan saya Pak Purnomo. Dulu pernah jadi supirnya Bapak Jeffrey sebelum saya nikah terus pindah kesini, salam kenal ya mbak.”
“Iya pak, salam kenal juga. Saya Reva Aulia,” kata Rere menjabat tangan pak Purnomo.
“Monggo Mas, saya antar ke penginapan biar Mas sama Mbak bisa istirahat,” kata Pak Purnomo kemudian mulai membantu Jevan membawakan koper.
Perjalanan dari Bandara hingga ke hotel tidak memakan terlalu banyak waktu. Tepat setelah meletakkan koper Jevan dan Rere di kamar pak Purnomo undur diri, “Mas, saya tinggal dulu. Nanti sore saya antar untuk jalan-jalan. Ini nomor telepon saya, kalau ada apa-apa Mas bisa langsung hubungi saya. Selamat istirahat Mas Mbak,” kata Pak Purnomo.
“Makasih ya pak,” kata Rere.
Rere berjalan menuju ke balkon yang ada di depan kamar mereka, dia memandang jauh ke arah laut yang ada di depan sana sambil berusaha sebanyak mungkin menghirup udara segar yang begitu terasa menyejukkan. Jevan melihat Rere kemudian menghampirinya, memeluknya dari belakang dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Rere mencari kenyamanan. Cukup lama mereka bertahan, hingga Jevan mencium pipi Rere dan memilih berdiri di samping istrinya tercinta itu.
“Mas, udah ngabarin orang rumah?” tanya Rere.
__ADS_1
“Sudah, aku tadi ngabari Jovan sama Junius. Kamu kabari mas Reno sana, kayanya jam segini anak-anak sudah di rumah,” kata Jevan.
Rere langsung meraih handphonenya di saku celana dan mencari nomor kakaknya itu. Tidak tanggung-tanggung, Rere memilih untuk melakukan video call. Begitu diangkat, yang pertama kali menyapanya adalah teriakan Nafiza yang sedang duduk tenang di pangkuan Reno sambil makan apel.
“Halo cantiknya Mama lagi apa sayang?” tanya Rere.
“Nafiza lagi makan apel Ma, tante Ala yang kupasin,” kata gadis kecil berpipi bulat itu sambil menunjukkan sepotong apel di tangannya.
“Kakak gimana sekolahnya hari ini?” kini Jevan yang bertanya.
“Tadi Nafiza nyanyi lo Pa di kelas, tapi Nafiza takut sendiri jadi Abi temenin.”
“Nafiza nyanyi apa?”
“Bintang kecil…,”
“Bintang kecil di langit yang biru amat banyak menghias angkasa…, aku…, aku ingin terbang dan menari, jauh tinggi ketempat kau berada,” Nafiza menyanyikan lagu yang dia nyanyikan bersama Abi di sekolah tadi.
“Wahh, pinternya anak Mama. Sudah makan sayang?”
“Sudah. Pake sayur sop sama tahu goreng.”
“Kakak jangan kebanyakan main ya, habis ini tidur siang dulu. Mainnya nanti sore lagi, oke?” kata Rere.
“Siap Mama…,” kata Nafiza sebelum dia turun dari pangkuan Reno.
__ADS_1
“Mas, aku sudah sampai di Bali nih. Makasih banget ya hadiahnya,” kata Rere.
“Dimanfaatin sebaik-baiknya dek. Oiya Mas juga udah pesen tiket pulang, jadi kalian nggak ada alasan pulang cepet lagi, Nafiza baik-baik aja di sini.”
“Makasih ya Mas,” kata Jevan sambil mengacungkan jempol.
Setelah Rere menutup sambungan telepon, keduanya melangkah masuk dan langsung merebahkan diri di kasur empuk yang menjadi highlight dari ruangan klasik beraroma lavender ini. Belum sampai 5 menit dia meletakkan kepalanya di bantal, Rere sudah tertidur begitu pulas. Jevan menyadari jika Rere tertidur. Tidak mau mengganggu tidurnya, Jevan bangun dengan perlahan. Dia melangkah menjauh setelah membetulkan pakaian Rere yang sedikit terbuka di bagian perutnya.
Jevan kini kembali berdiri di balkon, sibuk mencari nomor di salah satu aplikasi chatting yang ada di handphone. Dia kemudian menekan ikon telepon yang membuatnya terhubung dengan si penerima.
“Hallo Dar, gimana kantor?” tanya Jevan.
“Mas Bos ngapain telepon? Bukannya lagi honeymoon?” kata Cedar di seberang.
“Iya, tapi kan tetep aja aku harus tau kondisi kantor,” kata Jevan.
“Aman mas, barusan ada client yang mau kerja sama. Katanya mau pasang iklan di papan depan Ambarketawang tapi belum punya design, cuma aku belum nentuin siapa yang mau garap project ini,” kata Cedar.
“Kasih ke Haidar aja, tapi nanti kalo udah suruh kirim ke aku dulu biar dievaluasi,” kata Jevan.
“Siap komandan. Oiya titip kabar buat mbak Rere, katanya Hanna tadi butik dapet pesanan borongan yang harus selesai tanggal 18 bulan depan. Hanna belum berani deal soalnya mbak Rere belum bisa dikabarin. Nanti kalau Mbak Rere buka hp tolong kasih tau Hanna gitu Mas,” kata Cedar.
“Mbak masih tidur, ya nanti kalo udah bangun aku kabari,” kata Jevan sebelum menutup panggilan.
Dia masih bertahan di balkon sambil menatap wallpaper handphonenya. Wallpaper itu berisi foto Rere yang tengah tersenyum pada Nafiza yang tertidur di dalam dekapannya. Foto yang diambil 4 tahun lalu ketika Rere tengah memperhatikan Nafiza yang tertidur pulas setelah sembuh dari sakitnya. Jevan jadi ingat, nama Kei Nafiza Rhea yang muncul setelah dia mendapatkan mimpi melihat Rere persis seperti dalam foto itu.
__ADS_1
Jevando kini berbalik arah dan menatap Rere yang tengah tertidur begitu damai. Sudah lama dia tidak melihat tidur Rere setenang ini. Tiba-tiba dia kembali mengingat wajah Rere yang begitu kesakitan ketika mereka kehilangan calon anak kedua mereka. Rere bahkan tidak menangis, dia juga tidak memperlihatkan tanda-tanda depresi atau stres. Sebagai gantinya Rere jadi banyak tertidur, dia juga tidak banyak bicara seperti biasanya.
Jevan kini berjalan mendekati Rere, dia cium kedua mata Rere, beralih pada bibir dan terakhir dia mencium dalam kening Rere. Jevan kemudian ikut merebahkan diri di samping istrinya dan langsung dipeluk oleh wanitanya ini. Jevan membalas pelukannya itu, sebelum memejamkan matanya, dia cium lagi ujung kepala Rere dan memposisikan tubuh mungil cantiknya agar nyaman dalam pelukannya.