Ours In Another Story

Ours In Another Story
58. Kedatangan Teman Lama


__ADS_3

Jevan segera menuju ke gudang dan langsung menemui kepala gudang yang bertugas. Beliau awalnya tidak mengakui, tapi ketika Jevan memperlihatkan buktinya dia mulai mengutarakan yang sebenarnya satu per satu. Jevan mencari tahu siapa yang sudah memerintahkannya karena tidak mungkin kan kalau jabatan sekecil kepala gudang berani korup sebegitu besarnya. Kerugian perusahaan mencapai angka milyar itulah kenapa Jevan curiga ada orang yang menjadi back up dan berbagi keuntungan dengannya.


Si kepala gudang tidak mau mengakui dan hanya bilang kalau semua ini dia lakukan atas inisiatif sendiri. Akhirnya Jevan yang mengalah. Dia meminta pelaku kooperatif dan mengikuti apapun yang akan Jevan lakukan. Hari itu dia menggeledah semua administrasi yang ada dan membawa semua yang mencurigakan kembali ke kantor.


***


"Mama~."


Suara Nafiza terdengar dari arah depan ketika Rere sedang asik memasang payet di baju pengantin pesanan salah satu pelanggannya. Nafiza langsung berlari mendekati Mamanya dan langsung cium tangan. Nafiza juga tidak lupa untuk mencium pipi Mamanya membuat Rere tersenyum setiap mendapatkan perlakuan itu dari putrinya.


"Sama siapa ke sini sayang?" tanya Rere sambil membetulkan poni Nafiza yang agak berantakan.


"Sama om Haikal. Om Haikal bilang mau ajak Mama ke rumah Akung. Om Haikal mau ajak Mama, sama Nafiza buat main habis itu kita ke rumah Akung. Ayo Mama kita ikut ya," kata Nafiza membujuk Mamanya.


"Sebentar ya Kak, Mama kan harus izin sama Papa dulu. Nanti kalau Papa nyariin gimana?"


"Aku sudah bilang sama suamimu. Ini juga ide dia. Karena orangnya lagi sibuk dan nggak bisa ngajak anak istrinya jalan-jalan jadi dia calling aku. Katanya biar kamu nggak stres," kata Haikal.


"Papa tadi juga bilang Nafiza buat jagain Mama sama Adek soalnya Papa masih sibuk kerja. Padahal kan Papa harusnya ikut juga," kata Nafiza dengan raut sedihnya.


"Maaf ya sayang Papa masih sibuk, tapi Papa pasti akan ajak Nafiza main begitu ada waktu. Kan Papa juga sudah janji mau ajak kakak sama adek main di taman bunga," kata Rere menenangkan putrinya.


"Lagi nggak sibuk kan? Berangkat yuk."

__ADS_1


"Tunggu sebentar ya, aku beresin kerjaanku dulu. Nafiza tunggu sama Om Haikal dulu ya," kata Rere diangguki oleh Nafiza yang kembali melangkah mendekati om Haikal dan berjalan keluar.


"Mbak, ada yang mau ketemu," kata Dwi tepat ketika Rere akan melangkah keluar.


"Siapa?"


"Kurang tahu Mbak," katanya lagi.


Rere berjalan ke depan dan menemukan seseorang yang sudah lama tidak dia dengar kabarnya. Gadis yang mencarinya itu tidak lain dan tidak bukan adalah Viona, gadis yang pernah berusaha merebut Jevando darinya. Dia sedang dihadang oleh Haikal di depan pintu. Sepertinya Haikal juga masih ingat dan dia tidak mau ambil resiko Rere kenapa-napa karena bertemu lagi dengan gadis di hadapannya itu. Melihat Viona memohon dan berusaha meyakinkan dia tidak akan macam-macam, Rere akhirnya mengizinkan gadis itu masuk walaupun dengan raut yang sangat bingung.


"Ada apa ke sini Vi?" tanya Rere berusaha bersikap ramah.


"Aku nggak mau ganggu kamu kok Re, aku cuma mau kasih ini ke kamu," katanya sambil menyerahkan sesuatu pada Rere.


Rere membacanya dengan seksama. Dia keluarkan selembar undangan dari dalam amplopnya dan menemukan nama Viona di sana. Dia akan menikah. Dia akan melepas masa lajangnya dua hari lagi. Di undangan itu tertera jelas waktu akad nikah dan resepsinya. Viona baru akan beranjak berdiri ketika seorang gadis kecil mendekatinya dan memberikan sebotol minuman dingin padanya.


"Ini buat tante, silahkan diminum," kata Nafiza.


"Terima kasih," kata Viona.


Viona sempat terdiam. Dia menemukan sorot mata Rere dalam gadis kecil itu. Senyumnya juga sama persis dengan pemilik hatinya dulu. Laki-laki yang membuatnya dan Rere berseteru begitu hebat dulu. Setelah menawari minuman gadis itu berjalan mendekati Rere dan terus berdiri di sampingnya membuat Viona yakin jika dia adalah buah cinta Jevan dan Rere, istrinya.


"Dia putrimu?" tanya Viona pada Rere yang masih sibuk membaca undangan darinya. Rere hanya mengangguk tanda mengiyakan.

__ADS_1


Viona tersenyum, "hai cantik siapa namamu?"


"Namaku Kei Nafiza Rhea. Salam kenal tante," kata Nafiza dengan senyum mengembang membuat pipinya terangkat.


"Rere, aku akan menjemput bahagiaku sekarang. Jadi kuharap kamu dan Jevan akan selalu bahagia juga. Sampaikan salamku pada Jevan. Aku permisi," katanya sebelum pergi.


"Viona tunggu," cegah Rere ketika gadis itu hampir menggenggam gagang pintu.


Rere meraih satu lembar kartu namanya dari atas meja kasir kemudian menyerahkannya pada Viona sambil tersenyum, "Kamu boleh menghubungiku kapan saja, dulu kita pernah berteman Vi. Kuharap sekarang pun kita masih tetap teman."


Viona mengangguk. Dia baru menyadari jika perut Rere agak besar. Dia juga memakai pakaian yang longgar diperutnya membuat Viona sadar jika Rere sedang hamil. Viona juga mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Dia mengeluarkan kartu namanya kemudian memberikannya pada Rere, "aku dan suamiku buka cafe kecil-kecilan di daerah Taman Siswa. Kalau kamu ada waktu mampir ya, ajak Jevan dan putrimu juga. Jangan lupa kabari aku kalau kamu lahiran," kata Viona membuat Rere tersenyum kemudian melangkah untuk memeluk gadis itu.


"Vio...," kata Rere sekali lagi.


"Ya?"


"Aku juga minta maaf sudah begitu membencimu. Aku memahami bagaimana perasaanmu, tidak seharusnya aku memperlakukanmu seperti itu," kata Rere.


"Aku juga memahami. Kamu adalah kekasih Jevan, wajar kalau kamu berusaha mempertahankannya. Aku yang salah di sini. Dari awal sudah dia katakan jika dia hanya menganggapku sebagai adik tapi aku berharap lebih."


Seperginya Viona, Rere kembali menatap undangan itu sembari tersenyum. Dia menemukan nama seorang dokter di sana. Dia merasa bahagia karena akhirnya Viona menemukan kekasih hatinya yang sejati. Senang pula rasanya bisa mengetahui Viona mendapatkan laki-laki yang tidak kalah baiknya.


Haikal ikut menatap undangan itu kemudian dia tersenyum, "sekarang apalagi yang harus kamu ragukan? Re, aku juga mau minta maaf karena dulu aku pernah begitu menentangmu untuk bisa bersama Jevan. Sekarang aku sadar dengan sendirinya bagaimana Jevan begitu menyayangimu dan dia bisa menjagamu dengan baik. Aku juga seorang suami dan seorang ayah. Aku mulai memahami bagaimana berada di posisinya ketika itu," kata Haikal diangguki oleh Rere yang kemudian ikut tersenyum bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2