
“Ma…,” kode Jevan langsung mendudukkan dirinya di bawah Rere.
Rere sudah hafal, kalau Jevan duduk di bawah begini artinya dia memberi kode minta dipijat. Sambil melanjutkan obrolan Rere memijat leher dan bahu Jevan. Memang dari jaman pacaran juga sudah menjadi kebiasaan, jadi mau sampai kapan juga tidak akan hilang. Setiap kali Jevan sudah kelelahan, Rere yang peka akan langsung memijat entah kepalanya atau bahunya. Pernah juga suatu hari ketika Jevan baru menyelesaikan project dan kelelahan Rere memijat bahunya dan pada hari berikutnya dia tidur pulas hingga tengah hari. Seenak itu memang pijatan Rere, walaupun badannya kecil, tapi tenaganya boleh diadu.
“Jev, boleh tanya sesuatu, soal yang kemarin kamu sama Rere alami?” tanya Monika.
“Soal Rere keguguran? Maaf nggak ngabarin siapa-siapa, ni pelakunya,” kata Jevan menunjuk ke arah Rere.
“Tapi akhirnya ngomong juga. Rere emang bisa jaga rahasia seorang diri? Sok-sokan kamu Re, dari dulu juga udah apa-apa aku kok,” kata Monik yang duduk di sebelahnya.
“Ya kan kamu juga sibuk Mon, jauh juga. Bukannya kemarin kamu juga cerita habis berantem sama Jovan?” kata Rere.
“Berantem? Anak udah 2 masih berantem? Kaya ABG aja kalian,” goda Jevan.
“Lagian siapa yang nggak emosi kalo suaminya digodain cewek cantik sexy gitu cungkring,” Monik yang tidak terima menoyor kepala Jevan begitu saja.
“Mas, gimana rasanya dapet tamu spesial kaya gitu?” tanya Papa Jeff pada si sulung.
“Papamu langganan tuh dari dulu. Kalau habis dapet tamu cantik pulang langsung mandi kembang. Jijik katanya,” Mama mulai julid.
“Ya Iyalah jijik. Pake baju kurang bahan kaya gitu. Bukannya kelihatan sexy malah kelihatan maksa mana lemak di mana-mana. Mending kamu kemana-mana Ma, cantik banget kalau lagi pake snelli duduk di poli ngobatin pasien,” kata Jeff.
__ADS_1
“Udah tua Pa, sadar umur dong,” kata Junius yang mendengar gombalan Papanya.
“Ngapain jadi kamu yang nggak terima Yah? Nggak sadar kamu juga tukang gombal? Buaya lagi, hobinya gonta ganti cewek. Kayanya nggak ada tuh cewek di sekolah yang belum pernah jadi mantanmu,” kata Lia skakmat.
Junius yang mendengar itu hanya bisa memasang wajah datar tanpa ekspresi. Tidak disangka istrinya ini akan membahas soal ini lagi, "Ada Bun yang nggak pernah jadi mantanku," kata Junius.
"Siapa?"
"Kamu," jawab Junius kemudian mencium pelipis istrinya begitu saja tanpa malu pada kakak dan kedua orang tuanya.
"Dih buayanya nggak sembuh kamu mah emang. Udah dong Yah, malu ih...," kata Lia berusaha menjauhkan Junius dari dirinya.
"Buaya kalau udah nemu pawangnya ya begitu," kata Rere.
“Suami takut istri ciee,” Jevan ikut-ikutan.
“Kaya kamu nggak aja,” kata Rere sembari menepuk pundak suaminya langsung membuat tawa nakal Jevan hilang.
“Mampus. Makanya nggak usah sok-sokan, terima kenyataan aja,” kata Jovan.
“Punten ayah, kayaknya pulang besok harus beli kaca yang lebih gede lagi deh,” kata Monik membuat Jovan lebih kicep.
__ADS_1
“Terima aja, turunan Kusuma pt. 1 emang udah ditakdirkan takut istri. Kalian beruntung punya Monik, Rere, sama Lia. Tapi tetep aja sih paling beruntung Papa dapetin Mama, susah banget nih kembang desa sebelah ditaklukinnya,” kata Papa sambil merangkul Mama yang duduk di sebelahnya membuat ketiga anaknya jengah dan memilih membubarkan diri.
Setelah lelah mengobrol, mereka kemudian membereskan teras lalu menyusul anak-anak untuk tidur. Jevan langsung menjatuhkan diri tepat di sebelah Rere yang sudah lebih dulu rebahan sambil asik scroll instagram. Waktu Jevan lirik ternyata sedang fangirlingan, update berita terbarunya NCT grup kesukaannya.
“Nggak bubar-bubar itu grup Ma? Betah banget, nggak pengen nikah apa mereka?” tanya Jevan iseng.
“Pengen juga tetep susah Pa, udah tuntutan pekerjaan,” Rere kemudian meletakkan handphonenya dan kembali bersiap untuk tidur.
“Pa, posisinya yang bener, tengkurap gitu badanmu sakit semua lo besok pagi,” kata Rere sedikit berbisik.
“Hmm, bentar doang. Ngelurusin punggung,” katanya.
“Jevando kamu bilang sebentar juga nanti kebablasan tidur. Nggak bisa nafas lo kamu nanti.”
“Hmm….”
“Mas ih yang bener dong,” kata Rere sambil mengusap rambut Jevan membuatnya langsung berputar dan beralih memeluk Rere. Jevan lalu meninggikan selimut yang dipakai Rere agar menutupi tubuhnya lalu dia diam-diam memasukkan tangannya ke balik baju tidur yang dipakai Rere dan mengelus perut istrinya, “Masih sakit nggak perutmu?” tanya Jevan di telinga Rere.
Rere hanya menggeleng, lebih memilih memejamkan mata untuk tidur dengan posisi memeluk putrinya dan memunggungi Jevan yang juga memeluknya dari belakang. Kalau Junius lebih memilih tidur di sofa, Jovan ada di sebelah Jevan, lalu Lia karena hamil dia tidur di paling ujung di sebelah Monik yang tidur di sebelah Genta.
Lampu ruang tengah sudah mati, tapi di kamar Papa Jeff dan Mama Tiwi masih menyala. Keduanya masih asik ngobrol di atas tempat tidurnya yang nyaman sambil bernostalgia. Pillow talk semacam ini memang sudah jadi kebiasaan Jeff dan Tiwi dari jaman masih pengantin baru. Isi obrolannya juga bisa selalu berbeda di setiap malamnya, seperti malam ini misalnya mereka membahas soal menantu-menantunya yang begitu hebat dalam mendampingi ketiga putra kebanggaan mereka hingga Triple J kesayangan mereka ini bisa sukses dengan cara masing-masing seperti ini. Jeff juga membicarakan soal betapa bahagianya dia melihat anak-anaknya bermain dan terlihat bahagia dengan anak-anak mereka. Seperti melihat dirinya dari masa lalu katanya.
__ADS_1
Tinggal hanya berdua memang terkadang bisa begitu membosankan. Apalagi keduanya kan sudah tidak bekerja. Keseharian mereka ya hanya dihabiskan berdua, mulai dari jalan-jalan setiap pagi, masak bersama, berkebun, atau sesekali mereka akan mengunjungi cucu-cucunya. Beruntung Triple J yang protektif itu tidak melarang Mama Tiwi untuk berbisnis catering kecil-kecilan. Cuma takut bosan alasannya, bukan lagi untuk mencari uang seperti sebelumnya makanya diperbolehkan.
Walau sering dikritik oleh keluarga besar Kusuma, tapi Jeff tidak ambil pusing. Apalagi soal pilihan anak-anaknya yang menolak meneruskan bisnis keluarga. Toh mereka bisa memegang kata-katanya sendiri. Nyatanya mereka bisa tetap berhasil walau tanpa embel-embel keluarga. Mulai dari Jovan si sulung yang meniti karirnya dari 0 di bidang manajemen, Jevan yang agak nekat membangun usaha sendiri mendirikan percetakan dan jasa periklanan sampai Junius yang memilih berpartner dengan Reno kakak Rere yang saat ini sudah memiliki perusahaan jasa sendiri bahkan Jeff dengar kabar kalau bungsunya itu sedang menjalani S2 tanpa bantuan ayahnya sepeserpun. Intinya Jeffrey dan Tiwi bangga bisa melihat kerja keras anak-anak mereka berhasil begini juga bersyukur diberi umur panjang dan kesehatan untuk melihat tumbuh kembang cucu-cucu mereka yang lucu-lucu itu.