Ours In Another Story

Ours In Another Story
21. Ulang Tahun Pernikahan


__ADS_3

Hari ini adalah peringatan hari pernikahan Jevan dan Rere. Reno, sebagai seorang kakak sok ngide untuk mengajak semuanya berkumpul di rumah Papa Dirga. Jadi dari tadi siang sepulang sekolah Nafiza sudah dijemput oleh om Reno. Katanya mau diajak jalan-jalan bersama Caca dan Kania. Intinya selesai kerja Jevan dan Rere diminta untuk menjemputnya di rumah Papa sekalian untuk makan malam bersama.


Sekitar pukul 5 sore Jevan dan Rere sampai di rumah Papa Dirga. Baru buka pintu Jevan dan Rere langsung dihadiahi oleh Nafiza yang menyelamati keduanya sambil memegang sebuah kue coklat kecil dengan kedua tangannya dibantu Papa Dirga agar kuenya tidak jatuh.


“Selamat ya Papa sama Mama,” kata Nafiza pada kedua orang tuanya.


“Selamat apa emangnya kak? Hayo kakak tahu ndak?” tanya Jevan yang kini berjongkok di hadapan Nafiza.


“Kata Om Reno Papa sama Mama ulang tahun pernikahan. Nafiza nggak tau itu apa tapi sama kaya ulang tahun yang suka Nafiza rayain kan? Berarti Papa sama Mama ulang tahun dua kali dong, Nafiza juga mau ulang tahun dua kali boleh nggak Pa?” tanya Nafiza.


“Boleh, tapi nanti ya cantik kalau Nafiza sudah besar,” kata Rere yang ikut berjongkok.


“Selamat ya kalian berdua, masuk yuk. Tiara masak sesuatu khusus buat kalian berdua,” kata Papa Dirga mempersilahkan.


Selesai makan malam Reno melangkah masuk ke dalam kamar dan kembali untuk menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat kepada Jevan dan Rere yang duduk mengapit putri kesayangannya. Jevan membukanya dengan perlahan, dia bingung isinya apa. Seumur-umur baru ini ulang tahun pernikahannya dirayakan oleh seluruh keluarga. Biasanya kan hanya dia, Rere, dan Nafiza yang akan meluangkan waktu untuk makan malam bersama.


“Apa itu?” tanya Rere.


“Tiket…," jawab Jevan singkat.


"Maksudnya apa nih Mas?” tanya Jevan pada kakak iparnya.


“Lemot banget Jev, baca dong tiketnya ke mana,” kata Tiara membuat Jevan dan Rere terfokus pada dua lembar tiket berwarna putih itu. Di sana tertulis jelas kalau destinasinya adalah Pulau Bali. Berangkat lusa dengan penerbangan paling pagi.

__ADS_1


“Papa sama Mama pergi saja, Nafiza di sini sama tante Tiara, sama kak Caca sama kak Kania. Nafiza janji Nafiza nggak nakal,” kata Nafiza yang tenggelam di antara tubuh besar kedua orang tuanya.


“Kalian berdua kan katanya mau kasih Nafiza adik, buatnya di sana aja. Oiya, Jovan tadi kasih kabar kalau rencana perjalanan kalian selama 5 hari 4 malam di sana sudah siap. Semua termasuk kamar hotel, destinasi wisata, dan lainnya,” kata Reno.


“Apaan nih? Nafiza gimana? Kok tiketnya cuma 2?” tanya Rere.


“Kamu mau honeymoon ngajak anak dek? Ada akhlak kamu begitu?” tanya Reno dengan wajah super datar karena adiknya ini begitu terlambat mengerti.


“Mau heran tapi kok dia Rere,” kata Jevan.


“Hehe, maaf sih. Tapi yakin Nafiza beneran ditinggal nggak papa?” tanya Rere masih ragu.


“Iya Mama Nafiza nggak papa, tapi nanti pulangnya bawa adiknya Nafiza ya,” kata Nafiza.


“Jev, titip anak Papa di sana ya,” kata Papa Dirga.


“Papa apaan sih, dari jaman masih pacaran selalu ngomong kaya gitu. Iya Pa, Jevan pasti jagain sebaik-baiknya. Serahkan Rere sama Nafiza ke Jevan. Mereka berdua aman di bawah perlindunganku,” kata Jevan pada ayah mertuanya.


***


Hari berikutnya, yang dilakukan Rere pertama kali adalah packing baju dan perlengkapan Nafiza. Sore nanti dia akan dijemput sama om Reno dan tante Tiara, padahal kan bisa besok pagi, toh penerbangan mereka tidak pagi-pagi banget. Dasar Reno Sanjaya, paling niat kalau membuat adik satu-satunya ini bahagia, paling bisa pokoknya.


“Mama, Nafiza bawa ini boleh ya?” tanya Nafiza pada Mamanya yang tengah melipat baju.

__ADS_1


“Bawa yang kecil aja kak, kan di sana nanti tidurnya bareng sama kak Kania. Kasihan kalau tempat tidurnya penuh boneka dari Nafiza. Kak Kania kan bonekanya juga sudah banyak,” kata Rere.


“Tapi Ma, kok boneka kak Kania bentuknya makanan semua ya? Padahal kan lebih lucu kalau bentuknya hewan,” kata Nafiza tanpa melepaskan atensinya dari boneka kelinci besar dalam pelukannya.


“Oiya? Bonekanya bentuk apa saja memangnya, Nafiza tahu tidak?”


“Itu ada yang bentuk pisang, terus bentuk bakso tusuk warna-warni namanya apa aku lupa, ada yang bentuk nasi segitiga yang punya muka juga Ma. Eh iya kak Kania cerita juga masa kakak punya boneka bentuk telur mata sapi. Ihh Ma, telur kan buat dimakan masa dibuat boneka sih? Terus telurnya kok nggak panas waktu dibikin jadi boneka?” tanya Nafiza dengan begitu polosnya.


Rere hampir saja kelepasan tertawa. Sekuat tenaga dia menahan geli karena kepolosan putrinya. Jevan saja tidak kuat, dia memilih memutar badannya menghadap tembok dan terkikik geli. Ada-ada saja putrinya itu. Tapi kalau diingat-ingat lagi Nafiza itu seperti fotokopi Mamanya. Sering sekali pertanyaan-pertanyaan polos semacam itu dia dengar dari Rere dulu, bahkan sampai sekarang masih dia dengar juga.


Selesai mengemasi barang bawaan Nafiza, Rere bertukar tempat dengan Jevan. Dia mulai memasak sedangkan Jevan menemani Nafiza untuk bermain sambil dia juga mengemasi bawaannya sendiri. Berhubung tadi Rere dan Nafiza membahas soal “telur mata sapi”-nya Kania, jadilah sekarang Nafiza ingin makan telur mata sapi. Untuk menu yang satu ini Nafiza hanya mau yang dibuatkan sama Papa. Padahal yang dibuat Rere juga tidak berbeda tapi kalau ada Papa tetap harus Papa yang buatkan.


Pada hari keberangkatan, Junius sudah menunggu di depan rumah tepat pukul 7. Dia yang bertugas mengantar kedua “pengantin baru” ini ke Bandara. Tadinya Rere akan menolak, tapi Jovan berhasil meyakinkan dia jika semuanya akan baik-baik saja. Memang kalau dipikir-pikir banyak yang mau menjaga Nafiza untuknya, tapi yang membuatnya berat adalah Nafiza yang tidak bisa terlalu jauh dari orang tuanya.


“Nggak usah mikirin yang disini, mbak sama mas pergi aja,” kata Junius ketika melepas kepergian Jevan dan Rere di bandara.


“Makasih banyak ya Yus, salam buat Lia sama anak-anak,” kata Jevan.


“Nanti kalau udah sampe kabarin Mas,” kata Junius.


“Siap.”


Setelah berpamitan dengan Junius, Jevan dan Rere melangkah menuju boarding pass. Menyelesaikan semua administrasi kemudian duduk menunggu pesawat mereka siap. Beberapa menit kemudian pesawat yang akan membawa mereka berdua terbang menuju ke pulau Dewata sudah siap. Jevan lebih dulu berdiri kemudian meraih tangan Rere untuk dia gandeng masuk. Selama perjalanan Jevan benar-benar memanjakan Rere. Sekalin saja, mumpung tidak ada Nafiza. Jadi dia bisa fokus pada istrinya ini. Sudah lama juga dia tidak fokus memperhatikan semua keperluan Rere, cantiknya.

__ADS_1


__ADS_2