Ours In Another Story

Ours In Another Story
59. Menyapa sang Adik


__ADS_3

Malam harinya Rere mengatakan apa yang tadi dia terima pada sang suami. Jevan tersenyum, dia jelas tidak melupakan gadis itu. Dia bahkan masih ingat betul semua yang dilaluinya dengan gadis bernama Viona itu. Tidak dipungkiri dia menyayanginya sudah seperti adik sendiri. Memang benar, tidak baik membagi hati tapi Jevan tidak mampu menghilangkan gadis itu dari dalam hatinya. Hanya sebagai adik, saudara, sahabat. Bukan sebagai pasangan dan teman hidup seperti istrinya ini. Tidak peduli sebanyak apapun orang bilang dia mendua dia tidak peduli. Karena dia tidak mendua. Kasih sayangnya pada Viona dan pada Rere jelas berbeda.


"Mas mau datang tidak?" tanya Rere.


"Kita datang ya, kita sudah diundang, kita hormati undangannya. Kamu nggak papa kan?" tanya Jevan balik.


"Nggak papa lah Mas, aku sudah ikhlas kok," kata Rere membuat Jevan tersenyum.


"Papa, tadi kakak gambar ini lho," kata Nafiza yang berlari dari arah kamarnya mendekati Papa dan menunjukkan hasil gambarnya.


"Coba sini Papa lihat, kakak gambar apa sih?" tanya Jevan mulai memangku Nafiza.


"Ini Papa, ini Mama, ini aku, terus ini adek. Kata Mama adeknya Nafiza cowok ya Pa?" tanya Nafiza.


"Iya, adeknya kakak cowok. Suka nggak?" tanya Nafiza.


"Suka. Nafiza pengen punya adek cowok. Nanti kalau main Nafiza yang jadi tuan putrinya terus adek jadi pangerannya. Terus pangeran bantuin Raja buat jagain kerajaan terus tuan putri sama Ratu bisa minum teh di taman," kata Nafiza.


Anaknya ini suka sekali nonton barbie yang rata-rata berkisah tentang kerajaan. Makanya dia bisa begitu memimpikan menjadi seorang tuan putri tanpa sadar kalau dia sebenarnya adalah seorang tuan putri. Tuan putrinya keluarga Kusuma Pt. 1 yang memiliki banyak ajudan yang siap menjaganya kapan pun dan di mana pun.


"Papa, adek kapan lahirnya?" tanya Nafiza.


"Hmm..., masih 4 bulan lagi. Kenapa? Kakak sudah nggak sabar ketemu adek?" tanya Rere diangguki oleh Nafiza.


"Nafiza sudah nggak sabar mau cium adek," kata Nafiza.

__ADS_1


"Kakak kan bisa cium perut Mama," jawab Jevan.


"Ih itu namanya bukan cium adek Papa gimana sih," kata Nafiza sambil cemberut.


"Tapi kalau Nafiza cium perut Mama nanti di dalam perut adek bakal kerasa. Sini kalau nggak percaya. Tempelin telinga kakak ke perut Mama. Biar kakak denger suara adek," kata Rere membuat Nafiza turun dari pangkuan Papanya kemudian menempelkan telinganya di perut Mama.


"Nggak dengar apa-apa. Mana suaranya adek?" tanya Nafiza protes karena merasa dibohongi oleh kedua orang tuanya.


"Bukan didengerin pakai telinga kakak, tapi pakai hati. Coba kakak dengerin lagi sambil merem," kata Rere.


Baru Rere akan membuat suara dan berpura-pura menjadi adiknya Nafiza dia tiba-tiba merasakan tendangan diperutnya. Nafiza juga merasakannya. Dia merasakannya tepat dipipinya.


"Mama adek cium Nafiza. Adek bisa cium kakak Nafiza," girang Nafiza membuat Jevan ikut meletakkan tangannya di atas perut Rere. Dia mungkin tidak lagi merasakan tendangan itu tapi dia yakin putranya di dalam sana bisa mendengarkan suara Papa.


***


Pagi ini Jevan menyempatkan mampir ke kantor percetakan sebelum dia pergi bersama Jovan ke kantor polisi. Kasus yang diusut oleh triple J sudah mulai menemui titik terang dan bahkan menemukan satu fakta baru tentang keterlibatan seorang anggota DPR dalam masalah ini. Jovan akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kasus ini bersama polisi dan melaporkannya ke KPK. Dia tidak bisa tinggal diam apalagi begitu tahu siapa orang yang ikut belerja sama dalam kasus ini.


"Dar, gimana seminggu nggak ada aku lancar kan?" tanya Jevan.


"Lancar bos. Ini aku baru mau kirim laporan ke email tapi bos malah sudah sampai duluan," kata Cedar.


"Laporan langsung aja sini lisan. Tapi itu filenya tetep dikirim ke email ya," perintah Jevan membuat Cedar bangkit dari kursinya dan mengikuti Jevan menuju ke dalam ruang kerja si bos.


"Sebagian laporan sudah ke Mbak Bos Rere, terus ini laporan keuangan minggu ini. Target mingguan tercapai tapi pas di angka target. Kayanya kita harus tambah biaya promosi. Belakangan ini ada beberapa percetakan baru yang kasih diskon gede-gedean dan aku juga lihat beberapa pelanggan kita pindah ke sana," lapor Cedar.

__ADS_1


"Kalau kita tinggikan dana marketing, kita harus perkecil uang lembur."


"Nggak perlu. Anak-anak kemarin sempat bilang, kalau buat acara piknik tahunan mereka mau ngecamp aja bareng karyawan Mbak Rere juga. Mbak Rere juga sudah sempat naik dan membicarakan ini sama semuanya dan kita sepakat untuk kemah bulan depan sebelum bulan puasa. Biar bisa ikut semua. Mbak Rere juga sudah buat kesepakatan sama anak-anak kalau biaya rekreasi harus dianggarkan ulang dan kelebihannya akan masuk anggaran lain. Kalau di butik sih anggarannya akan ditambahkan ke bonus bulanan, kalau kita bisa saja dimasukkan dana tambahan buat promosi dan pasang diskon besar-besaran." kata Cedar.


"Kalau semua sudah sepakat ok. Mbak Rere juga sudah bilang semalam. Terus Haidar bilang dia mau nikah kan? Sudah ditanya dia mau ngajukan cuti berapa lama?" tanya Jevan lagi.


"Kemarin sih dia mintanya 2 bulan soalnya keluarga dari calonnya kan banyak yang di luar jawa dan dia mau ke sana selama beberapa minggu sekalian mau ikut lebaran di sana. Nah perkara ini sih Mbak Rere nggak berani ambil keputusan katanya biar bos Jevan saja yang tentukan bagaimana," kata Cedar.


"Panggil dulu anaknya," kata Jevan.


Haidar dengan segera menghadap Jevan dan ikut masuk ke dalam ruangan bersama dengan Cedar. Firasatnya sudah tidak enak sejak Cedar mengatakan kalau bosnya itu mencarinya tapi mau bagaimana lagi dia memang sudah kepalang salah. Jadi dengan langkah menunduk Haidar melangkah masuk ke dalam ruang kerja bosnya.


"Gimana bos?"


"Kamu bilang mau minta cuti selama 2 bulan? Kamu tahu nggak jatah cuti menikah cuma 2 minggu?" tanya Jevan.


"Tau bos."


"2 bulan itu rencanamu dari kapan?" tanya Jevan lagi.


"Akad nikahnya seminggu sebelum bulan puasa bos. Terus selama bulan puasa dan ramadhan kita mau di Sumatera. Cuma itu baru rencana, kalau bos Jevan nggak kasih izin saya nggak maksa," kata Haidar membuat Jevan mengetuk-ngetuk pulpennya sebagai bentuk kebimbangan.


"Kayanya aku nggak bisa kasih kamu cuti sebanyak itu. Gini gini, aku kasih kamu cuti selama 15 hari untuk menikah dengan menerima gaji penuh. Setelah 15 hari kamu masih harus masuk. Aku mulai closed order 2 hari sebelum idul fitri jadi kamu ikut sama yang lainnya. Perkara setelah lebaran kamu mau ambil cuti panjang silahkan kamu habiskan jatah cuti tahunanmu. Tapi itu tanpa gaji ya. Gimana keberatan?" tanya Jevan.


"Nggak bisa lebih panjang lagi dikit bos? Mulai seminggu sebelum lebaran deh, soalnya saya mau mudik jauh," kata Haidar lagi membuat Jevan semakin emosi

__ADS_1


__ADS_2