Ours In Another Story

Ours In Another Story
35. Kepastian


__ADS_3

Setelah situsasinya lebih tenang, Junius meminta Lia untuk duduk dan menunggunya. Junius kemudian pergi mengantri di salah satu tenant, membelikan Lia segelas es coklat sebagai tanda permintaan maafnya atas kejadian tadi.


“Ternyata kamu belum berubah ya,” kata Lia setelah menerima es coklat pemberian Iyus.


“Apa?”


“Pro player Smansev memang top. Nggak cuma cewek Indo sekarang cewek China kamu embat juga.”


“Berisik.”


“Btw makasih lo Yus kamu beliin coklat, tau aja aku lagi pengen.”


“Kamu kan addict coklat,” kata Junius.


“Eee… Lia, boleh minta tolong nggak?” tanya Junius hati-hati.


“Apa? Jadi pacar bohongan kamu? Boleh, jadi pacar beneran juga ayo. Biar aku juga bisa keren dikit masuk jajaran mantan-mantan hitz kamu,” kata Lia begitu santai.


"Yang bener aja Li, kamu masih suka sama aku?" tanya Junius yang justru membuat Lia bingung.


"Suka nggak suka jadi mantan kamu itu bisa meningkatkan popularitas tau, aku juga ingin jadi populer," kata Lia.


Dari situlah Junius dan Lia pura-pura pacaran demi membantu Junius lepas dari belenggu seorang Ning Ning. 3 bulan berlalu, Junius dan Lia sudah tidak sedekat sebelumnya. Ini dikarenakan mereka mendengar kabar kepulangan Ning Ning. Junius juga mendengar kabar dari salah satu teman Ning Ning jika gadis itu dipaksa menikah oleh orang tuanya.


Minggu depan Mas Jevan akan menikah. Junius tanpa sadar meminta Lia untuk ikut bersamanya. Entah apa alasannya, tapi Junius bisa begitu memaksa walaupun Lia sudah menolaknya berulang kali. Kontrak mereka sudah usai. Lia kan berjanji akan menjadi pacar bohongan Junius sampai mantan toxic itu pergi dan sekarang setelah gadis itu pergi, otomatis kontrak di antara Lia dan Junius berakhir.

__ADS_1


Di luar dugaan, putusnya Junius dan Lia justru membuat Junius galau bukan main. Entah kenapa isi kepalanya hanya ada Lia, Lia, dan Lia saja. Tidak ada gadis lain yang bisa dia pikirkan. Entah sedang makan, sedang rebahan, atau sedang berkumpul dengan teman-temannya selalu saja ada nama Lia terselip dalam setiap kalimatnya.


"Yus, lo suka sama Lia?" tanya seorang dari sahabatnya.


"Nggak lah, apaan."


"Yus, udahan main-mainnya. Umur kita tuh bukan lagi umur cari pacar buat main-main. Dari yang gue inget lo pernah bilang sama gue kalau lo nggak mau main-main sama Lia. Itu kan alasan lo nggak pernah mau macarin dia. Lo juga dulu sering nggak terima Lia disakiti sama orang," katanya lagi.


"Udahlah Yus, terima aja. Gue yakin Lia mampu menjadi pendamping yang terbaik buat lo."


Mendengar penuturan sahabatnya membuat Junius menimbang-nimbang lagi. Apakah memang benar dia sudah menaruh hati pada Julia Oktaviana? Apa benar dia sedang sedih karena berharap jika Julia akan kembali padanya? 3 bulan bersama gadis itu membuatnya menyadari banyak sisi lain dari Lia yang belum pernah dia lihat sebelumnya.


Julia sangat baik -dari dulu sih-, gadis itu begitu asik dan humoris. Dia juga bisa menjadi pendengar yang baik untuk Junius. Tidak peduli apakah dia suka atau tidak, pokoknya kalau Junius suka dia akan pura-pura ikut menggemarinya membuat Junius senang karena ditinggikan. Selama ini mana pernah dia diperlakukan dengan sehormat ini. Diperlakukan layaknya sesuatu yang berharga dan jangan sampai tergores hatinya. Dia juga tidak pernah memaksa Junius untuk fokus padanya. Dia masih membebaskan Junius pergi dengan perempuan manapun.


“Iya, dikit. Mas ngapain di sini?”


“Beliin sajennya ibu negara. Kamu ngapain di sini?”


“Nggak ngapa-ngapain Mas, lagi pengen sendirian aja,” kata Junius sekali lagi menghisap dalam rokoknya yang tinggal separuh.


“Ada apa sih. Cerita kenapa?”


“Lia Mas, masa dia nggak mau aku ajak ke nikahan Mas Jev.”


Jovan diam-diam tersenyum mendengar semua keluhan itu terlontar begitu enteng dari mulut adik bungsunya. Jovando, walaupun secara fisik tidak sedekat Junius pada Jevan, tapi dia tidak pernah sekalipun melepaskan pengawasannya dari adiknya ini. Dialah yang selama ini diam-diam selalu membantunya, bahkan tidak segan untuk memberikan saran dan memarahi Junius jika dia berbuat salah.

__ADS_1


“Njuk maumu gimana sekarang?” tanya Jovan.


“Ya maksudku tuh Lia harusnya bersyukur karena aku mau pacaran sama dia. Dia loh udah suka sama aku dari SMA, harusnya dia bangga lah bisa pacaran sama idolanya, sama orang yang dia suka. Ini malah nolak.” Junius sudah mengulangi kalimat ini sebanyak 3 kali.


“Dek, kamu mau nggak tak kasih tau kenapa Lia nggak mau kamu ajak dateng ke nikahan Mas Jev besok? Tapi janji jangan marah.”


“Iya udah Iyus nggak marah. Kenapa emangnya?”


“Dia sakit hati Yus. Kamu ngakuin kan sekarang kalo kamu suka sama dia? Tapi apa iya dia tahu perasaanmu yang sebenernya? Gini, mas kasih contoh. Kamu tahu kan Mas mu hampir batal nikah karena ada masalah? Tapi Mbak Rere nggak pernah ninggalin Mas Jevan. Alasannya sepele, Mbak Rere tahu kalau Mas Jevan itu sayang sama dia, makanya dia nggak pergi. Dia percaya sama Masmu.”


“Ya kalau kasusnya Mas Jev sama Mbak Rere jangan dijadiin contoh dong Mas. Mereka berdua kan emang nggak bisa hidup tanpa keberadaan yang lainnya. Itu mah mau pedagang sayur keliling langganan Mama juga tahu kalau Mas Jev sama Mbak Rere nggak akan pisah,” kata Junius.


“Yaudah kalo gitu Mas Jov aja yang jadi contoh. Tuh lihat mbak Monik, mbok pikir kenapa coba Mbak Monik bisa tahan sama Mas? Padahal kamu tahu to Mas itu paling nggak bisa bilang cinta kaya yang Mas Jev sama kamu lakuin. Mbak Monik bertahan sama Mas karena Mas selalu kasih kepastian sama Mbak. Mas nggak pernah sedetikpun gantungin Mbak apalagi sampai kasih harapan palsu. Nggak pernah sama sekali. Apa pernah kamu lihat Mas ingkar janji ke Mbak Monik?”


“Nggak pernah sih…,” jawab Junius sudah tidak sesemangat tadi.


"Nah itu kuncinya. Kepastian. Lia butuh tahu gimana perasaanmu ke dia yang sebenarnya," kata Jovan.


“Mas boleh tanya nggak, kenapa sih Mas Jov milih Mbak Monik?”


“Soalnya Mas cinta pertama Mbak Monik selain ke Ayahnya.”


“Hah? Pede amat mas,” kata Junius.


“Kadang kamu mau berhubungan itu nggak melulu soal gimana perasaanmu ke dia, tapi juga karena perasaan dia ke kamu. Mas milih Mbak Monik karena Mas tahu Mbak Monik sayang sama Mas. Mas mencoba belajar untuk menerima sampai pada akhirnya Mas bertahan. Papa kan juga sering bilang, jadi cowok itu pantangannya cuma 1. Jangan sampai kamu bikin nangis perempuan. Siapapun itu.”

__ADS_1


__ADS_2