Ours In Another Story

Ours In Another Story
17. Perjuanganku Tidak Sia-sia


__ADS_3

“Jovando…! Ngalamunin apaan sih?” tanya Monik setengah berteriak karena sejak tadi Jovan tidak menyahut panggilannya.


“Huh…, apa...,? Iya kenapa?” tanya Jovan gelagapan.


“Ayah jangan ngalamun maghrib-maghrib gini kesambet loh,” kata Monik. Jovan cuma nyengir lalu lebih memilih menghabiskan es tehnya kemudian berjalan ke pagar pembatas rel meninggalkan Monika yang kini mulai menyusulnya.


Tidak lama berselang, sebuah kereta melaju dengan kecepatan penuh membuat suaranya menggema ke segala arah. Bersamaan dengan itu Jovan berteriak sambil menatap Monika, “MONIKA, AKU CINTA SAMA KAMU....!!!!”


Mendengar itu Monika langsung membungkam mulut Jovan dengan tangannya. Dia malu dong, karena saat ini seluruh orang yang ada di sana termasuk juga seorang nenek penjual kacang rebus menyoraki mereka berdua.


“Biar semua orang tahu kalau cuma kamu yang aku mau Mon, cuma kamu yang aku sayang. Love you Bunda,” kata Jovan kali ini dengan volume suara yang normal. Orang-orang di sekitar kembali menyoraki mereka setelah kalimat Jovan selesai diucapkan. Monik sudah malu setengah mati, tapi ada juga satu rasa bahagia karena ini adalah kali pertamanya seorang Prasetya Jovando Kusuma berani menyatakan cinta di hadapan umum.


Rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang dari perutnya begitu mendengar kalimat Jovan barusan. Sudah hampir 30 tahun mereka bersama. Sudah terhitung selama itu juga Monika menyimpan rasa pada sosok Prasetya Jovando Kusuma. Sosok yang selalu ada untuknya, sosok yang dingin, tidak banyak bicara, namun begitu perhatian dan bisa mencintainya dengan begitu hangat.

__ADS_1


Jika mengingat dulu saat pertama kali Monika mengetahui jika dirinya menaruh hati pada Jovan rasanya geli juga. Dia yang akhirnya memutuskan untuk menyatakan perasaannya lebih dulu. Walaupun hatinya penuh dengan keraguan dan ketidakpastian, tapi dia masih berusaha untuk menyampaikannya. Jevan yang mengajaknya untuk bicara ketika itu. Dia juga yang menyarankan untuk Monika bicara pada Jovan karena hanya dia yang tahu bagaimana Jovan.


Anak kembar Mama Tiwi itu memang bukan tipe anak kembar yang kompak dan semua barangnya harus sama, tapi keduanya memiliki ikatan batin yang sangat kuat. Jika satu sedang sakit, satunya pasti akan ikut sakit juga. Jadi Monika selama ini hanya bicara pada Jevan dan bertanya padanya. Dia tidak berani mengungkapkannya apalagi dia perempuan, dia malu. Tapi berkat bantuan Jevando dia akhirnya bisa menjemput bahagianya. Walaupun dia harus menelan kenyataan dikira pacaran dengan Jevan tapi kenyataannya tidak begitu.


Di pertengahan tahun kuliahnya Monika memutuskan untuk bicara dan diluar dugaan, dia justru diterima dengan baik. Walaupun tidak ada romantis-romantisnya tapi tidak apalah yang penting Monika dan Jovan pacaran sekarang. Laki-laki itu sudah menjadi pacarnya namun dia tetap saja tidak pernah mengucap kalimat-kalimat sayang seperti yang selalu Jevan lakukan pada Rere atau seperti Junius pada gadis-gadis yang menjadi targetnya. Jangankan kata "I Love You", kata "sayang" saja hampir tidak pernah terdengar dari mulutnya.


Pernah Monika bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa benar Jovan menyukainya? Atau dia hanya terlalu baik untuk menolak? Entahlah yang jelas Monika ragu karena sikap Jovando padahal tidak seharusnya dia begitu. Dia tahu jika Jovan memang berbeda dengan kedua saudaranya tapi entah kenapa rasanya hati Monika juga ingin merasakan seperti Rere dan Lia yang dimanjakan oleh suami mereka.


Di awal-awal tahun menikah saja Monika sudah harus pontang-panting seorang diri. Dia ada di Indonesia sedangkan Jovan kini bekerja di Singapura. Jauh di negara orang sendirian sedangkan dia belum sanggup menyusul ke sana karena pekerjaannya. Rasa takut dan was-was selalu muncul di benaknya. Yah wajar, Jovando itu berkarisma, tampan, baik, dan senyumnya..., duh tidak ada perempuan yang mampu menahan diri untuk tidak menyukai senyum manis itu. Apalagi setiap kali tersenyum matanya akan berubah jadi bulan sabit, manis sekali. Monika takut saja akan banyak yang menggodanya di sana.


Menjemput kedua anaknya yang mulai masuk ke Pre-School, mengurus rumah tangganya setiap hari, menyelesaikan pekerjaannya sebagai penulis, dan masih harus menjadi sosok yang sempurna untuk mendampingi Jovan yang karirnya semakin melejit.


Bagaimanapun juga Monika adalah anak ibunya yang begitu hati-hati dan waspada. Monika percaya jika semakin tinggi pohonnya angin akan semakin kencang menerpa. Hanya agar dia tidak terlena dengan indahnya dunia. Bisa dibilang jika dibandingkan dengan kedua saudaranya Jovan adalah yang paling mujur dalam hal pekerjaan. Tapi hal itu justru memunculkan satu kewaspadaan di hati Monika. Dia takut semakin tinggi jabatannya akan semakin banyak orang yang ingin menjatuhkannya.

__ADS_1


Beberapa nama sudah dia simpan, dia dan Rafael juga dengan salah satu tim Jovan sering menyelidiki orang-orang yang berusaha dekat dengan Jovan. Karena Monika juga ingin bisa memberi saran pada Jovan. Dia takut jika Jovan akan terpeleset. Monika memang sangat terstruktur. Semua kehidupannya rapih sesuai dengan rencana di kepalanya sehingga dia tidak ingin jika rencana masa depannya hancur karena orang-orang yang berkepentingan menjatuhkan suaminya menang.


"Ayah...," panggil Monika.


"Ya?"


"Kamu pinter banget sih bikin aku nangis," jawab Monika sembari menitikkan air mata.


"Maaf ya aku bikin kamu nangis. Aku sadar aku terlalu melepaskan kamu. Nggak seharusnya aku membebaskan dan membiarkan kamu melakukan semuanya sendiri. Ayah punya banyak salah sama Bunda, maaf ya. Ayah berharap Bunda akan memaafkan Ayah," kata Jovan sembari menangkup kedua pipi Monika sembari mengusap air matanya dengan ibu jari.


"Aku maafin Ayah, lagi pula aku seharusnya tahu kalau kamu ya kamu bukan orang lain. Aku juga salah sudah meminta kamu seperti saudaramu. Sebagai istri aku nggak seharusnya begini. Maafin Bunda ya Ayah, Bunda banyak salah sama Ayah dan anak-anak," kata Monika digelengi oleh Jovan diikuti senyum.


"Bunda nggak salah, wajar seorang istri minta disayang sama suaminya. Bukan cuma Ayah yang minta di sayang, Bunda juga pasti minta. Jadi Ayah maklum. Ayah janji, Ayah akan memperbaiki diri dan akan lebih sering memberi Bunda kasih sayang," kata Jovan.

__ADS_1


"Makasih ya Ayah, sudah menerima Bunda apa adanya. Bunda sayang sama Ayah," kata Monika.


"Ayah juga sayang sama Bunda," jawab Jovan.


__ADS_2