
Jevan memang berangkat ke kantor, tapi pikirannya tidak benar-benar berada di sana. Dia melamun terus sepanjang hari. Bahkan ketika Haidar sibuk menjelaskan sesuatu di hadapannya dia hanya diam tanpa memberikan tanggapan.
“Mas Bos, ngalamunin apaan sih?” tanya Cedar menyadarkan Jevan.
“Eh sorry, sorry banget,” kata Jevan.
“Mas bos lagi ada pikiran ya?” tanya Fadillah.
“Iya, maaf ya Mamanya Nafiza lagi sakit, di rumah sendirian, jadi aku kepikiran. Maaf ya aku nggak profesional banget bawa masalah di rumah ke kantor,” kata Jevan.
“Nggak papa Mas, manusiawi. Namanya istri lagi sakit pasti kepikiran lah, mereka kan pilarnya keluarga. Kalau sampai mereka jatuh ya satu keluarga jatuh semua. Mending kerjaan di sini aku cover aja, sekarang Mas Jev pulang nemenin Mbak,” kata Cedar.
“Nggak usah, masih sanggup kerja kok. Nanti aja habis jam makan siang aku jemput anakku terus balik. Sekarang kita fokus dulu, aku ajak agak ngebut bahasnya nggak masalah kan?”
Jevan kemudian kembali berusaha fokus pada pekerjaannya. Dia memberikan instruksi dan segera mengakhiri briefing hari itu agar mereka bisa segera menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Jevan sedang mengevaluasi pekerjaan Fadillah ketika handphonenya berdering. Begitu melihat panggilan itu dari siapa, dia segera mengangkatnya tanpa berpikir panjang.
"Cantik?"
“Mas, lagi sibuk ya?” tanya Rere di seberang.
“Nggak juga, gimana sayang?”
“Mas pulang dong, aku nggak kuat…,” kata Rere membuat Jevan segera berdiri meninggalkan kantor.
“Iya mas otw sekarang, kamu tunggu di rumah ya. Kita ke rumah sakit,” kata Jevan mampu didengar seisi kantor membuat semuanya ikut khawatir.
“Mbak Rere kenapa mas?” tanya Cedar.
“Dar, handle ya. Sorry aku harus pulang sekarang.”
__ADS_1
“Ok hati-hati mas jangan ngebut. Inget mbak Rere,” kata Cedar hanya diacungi jempol oleh Jevan yang sudah berlalu pergi.
“Hallo Lia?” Jevan segera menelpon Lia begitu dia membuka pintu mobil.
“Iya mas? Tumben telepon Lia ada apa?”
“Li, boleh minta tolong nggak? Aku mau bawa mbak Rere ke rumah sakit, kamu tolong jemput Nafiza ya, nanti aku jemput di tempatmu agak sorean,” kata Jevan.
“Mbak Rere sakit apa mas?” kata Lia.
"Belum tahu. Nanti aku kabari," jawab Jevan sembari terus berusaha melajukan kendaraannya.
"Semoga lekas sembuh dan tidak sakit yang serius Mas. Hati-hati. Habis ini aku bilang sama Ayahnya Abi biar jemput Nafiza sekalian. Dia di sini aman Mas," kata Lia.
"Ok Makasih."
Begitu saja Jevan mematikan panggilan. Dia mengusahakan sesegera mungkin sampai di rumah dan langsung mencari Rere yang tengah tertidur begitu lemas di tempat tidurnya begitu sampai. Jevan membantu Rere memakai jaketnya, kemudian menggendongnya hingga ke mobil.
“Nggak juga," kata Rere yang begitu lemas. Dia bahkan tidak sanggup menopang kepalanya yang terasa begitu berat dan berdenyut.
“Cantik, usahakan jangan hilang kesadaran ya. Tetep di sini ok,” kata Jevan yang sudah menggendong Rere.
Ketakutan Jevan begitu besar saat ini. Dia seperti melihat Rere yang ketika itu hampir kehilangan nyawanya ketika berjuang dalam usahanya memperkenalkan Nafiza pada dunia. Tangan kirinya terus menggenggam tangan Rere tanpa ada niat untuk melepaskannya. Dia masih berusaha sekuat tenaga untuk tetap fokus pada jalanan bahkan ketika pikirannya mulai acak-acakan. Jevan memang paling takut melihat istrinya ini sakit. Apalagi bibirnya sangat-sangat pucat dan keringat dingin mengucur deras dari tubuhnya. Jevan juga melihat Rere mulai kesulitan menjaga kesadarannya.
Begitu sampai di rumah sakit, dia sudah tidak lagi mengantri di poli melainkan membawanya ke UGD. Untuk memeriksa Rere dokter meminta Jevan menunggu di luar. Pikirannya sempat kemana-mana membayangkan hal-hal buruk yang terjadi, namun ketika dokter memberi tahu Jevan apa yang alasan dari sakitnya Rere saat ini dia tidak jadi berpikir aneh-aneh.
"Selamat ya pak," kata dokter itu sekali lagi sebelum meninggalkan Jevan yang masih berusaha memahami apa yang terjadi.
Beruntung tidak ada masalah dengan Rere, dia juga tidak perlu dirawat. Walau wajah pucat itu masih bertahan tapi kali ini senyum menghiasinya. Jevan duduk di sebelah tempat Rere tertidur, dia meraih tangan Rere yang bebas dari infus. Digenggamnya tangan lemah itu dan tidak habisnya dia ciumi sebagai rasa syukur dan terima kasihnya pada Rere.
__ADS_1
"Nafiza gimana?" tanya Rere.
"Kamu nggak usah khawatir, dia di tempat Iyus. Dokter bilang kamu bisa pulang setelah infusnya habis jadi kamu lebih baik tidur dulu, istirahat. Nanti pulang dari sini kita kasih tahu Nafiza."
Rere mengangguk kemudian kembali menutup matanya. Benar sih dia mendapatkan berita bahagia tapi tetap saja tenaganya tidak begitu saja kembali. Nafasnya masih pendek tidak beraturan dan kepalanya masih berputar-putar membuat mualnya semakin terasa. Tapi setidaknya dia kuat, dia akan bertahan karena ada alasan baik dibalik semua rasa sakit yang dia rasakan. Nafiza, selamat ya akhirnya kamu akan memiliki adik.
***
Menjelang malam Rere diperbolehkan pulang. Mereka terlebih dahulu menjemput Nafiza di tempat Abi. Jevan membeli makan malam untuk mereka makan bersama di rumah Junius nanti. Tidak enak juga kan sudah menitipkan Nafiza seharian di sana padahal adik bungsunya jelas sibuk mengurus si kembar. Jevan membeli bakso, martabak, dan beberapa bungkus ice cream sebagai permintaan maaf.
“Cantik kamu baik-baik aja kan?” tanya Jevan.
“Aku baik. Kenapa sih dari tadi kayaknya ada yang ganggu pikiranmu, ya?”
“Aku cuma kepikiran, gimana caranya aku ngasih tahu kakak soal berita ini.”
“Tinggal dikasih tau aja, kenapa? Nafiza pasti seneng mau punya adik,” kata Rere.
“Bukan gitu, kan aku udah janji kasih Nafiza adik tapi nggak boleh bikin Mama sakit. Kalau kamu masih pucet banget kaya gitu gimana aku jelasinnya ke kakak, ya?” kata Jevan membuat Rere tertawa. Dia kemudian membuka laci dash board dan mengeluarkan sesuatu dari sana.
Jevan melihat apa yang dilakukan Rere, dan jujur dia masih tidak habis pikir. Mobil ini dia pakai setiap hari selama 5 tahun terakhir tapi bisa-bisanya dia tidak tahu jika Rere menyimpan sebuah lipstick di dalam sana.
“Sejak kapan kamu nyimpen lipstick disitu?” tanya Jevan.
“Aku selalu nyimpen satu di sini buat jaga-jaga,” kata Rere sambil memoles tipis lipstick itu di bibirnya perlahan.
“Gimana penampilanku? Mendingan?” tanya Rere pada Jevan.
Jevan langsung mencium bibir yang baru saja dipakaikan lipstick itu. Mumpung masih lampu merah dan tidak banyak orang melihat karena sepi, jadi Jevan ambil saja kesempatan itu. Rere tersenyum, jarinya tergerak untuk membersihkan noda kemerahan itu dari bibir Jevan agar tidak ada bekas di sana.
__ADS_1
“Kamu memang yang terbaik,” kata Jevan sebelum menjalankan mobilnya lagi.