Ours In Another Story

Ours In Another Story
13. Bagaimana Denganmu?


__ADS_3

Satu lagi hari berat harus dilewati oleh Jevan. Menyaksikan dunianya terbaring lemah tidak berdaya membuat nyawanya terasa hilang. Dia bahkan sempat jatuh pingsan karena demam tinggi dan kekurangan darah. Kemarin dia mendonor untuk Rere dan akhirnya dialah yang tidak kuat.


Hampir seminggu Rere bahkan tidak bergerak sedikitpun. Dokter memang sudah menyatakan dia lepas dari masa kritis, tapi sepertinya cantiknya ini terlalu nyaman dalam tidurnya. Begitu pula Nafiza kecil yang masih nyaman dalam inkubator. Selang-selang kecil itu masih melekat dalam tubuh mungilnya yang terpaksa lahir secara prematur.


Sungguh, jika boleh dia memilih dia lebih senang jika dia saja yang merasakan sakit. Dia tidak sanggup melihat keduanya terus seperti ini. Setelah sekitar 10 hari berlalu, Reva Aulia akhirnya membuka matanya kembali. Bersamaan dengan kabar baik yang dia terima dari dokter yang merawat putrinya. Kei Nafiza Rhea juga sudah dinyatakan baik-baik saja. Keduanya berhasil melewati ujian berat ini. Hanya ucapan terima kasih yang sanggup dia lontarkan. Andai ada kata yang lebih cocok untuk mendeskripsikan sebesar apa rasa syukurnya pasti akan dia gunakan saat ini juga. Akan dia gunakan untuk menyampaikan pada ratu dan putrinya bahwa dia amat sangat mensyukuri kehadiran mereka dalam hidup tidak bermakna seorang Prasetya Jevando Kusuma.


***


Jevan tanpa sadar meneteskan air matanya. Jovan melihat bagaimana saudara kembarnya itu begitu lekat menatap putrinya yang tertidur di pangkuannya. Jevan mengelus punggung tangan kecil Nafiza. Memang benar yang Jovan katakan tadi, belum pernah dia melihat Jevando bisa sehebat ini menyayangi seseorang. Jevando yang dia kenal memang sudah banyak berubah sejak kedatangan Rere dalam hidupnya. Dalam hati dia bersyukur karena setidaknya ada satu orang di dunia ini yang bisa menerima Jevan apa adanya. Gadis itu juga yang pada akhirnya menuntun Jevan menemukan jalan hidupnya dan memberikan kebahagiaan yang selama ini dia cari.


"Je, gimana rasanya menikah?" tanya Jovan dengan randomnya.


"Random banget pertanyaanmu Jo."

__ADS_1


"Jawab aja. Pernikahanmu bahagia kan?" tanya Jovan.


"Sangat Jo. Sangat-sangat bahagia. Walau terkadang aku harus denger omelannya Rere bahkan sejak aku belum sempurna bangun sampai nanti aku tidur lagi tapi aku bahagia. Apalagi waktu lihat Rere main sama Nafiza dan ketawa bareng. Senang banget rasanya. Aku nggak menyesal sama sekali, bahkan jika sudah sampai waktunya aku harus menutup mata nanti aku akan meminta pada Allah untuk disatukan kembali bersama anak dan istriku. Aku ingin menghabiskan sang waktu bersama dengan mereka," kata Jevan.


Jovan terdiam. Dia tahu dan dia sendiri juga melihat secara langsung perjuangan Jevan dan Rere selama ini. Dia melihat bagaimana keduanya jatuh bangun untuk membangun kepercayaan, mulai dari Jevan yang pulang dalam kondisi pakaian basah kuyup dan berakhir demam tinggi karena syok melihat teman sekelas mereka hampir lompat dari jembatan hingga kabar baik soal Jevan dan gadis itu sudah jadian.


Jovan juga tahu jika perjuangan cinta saudara kembarnya tidaklah mudah dia berada tepat di sebelah Jevan ketika Viona sahabat masa kecil mereka akhirnya menjadi boomerang dalam kisah percintaan Jevan dan Rere. Gadis manja itu berubah begitu posessive dan membuat perkara dalam perjalanan Jevan dan Rere. Gadis itu bahkan menghalalkan segala cara demi bisa mendapatkan Jevan padahal selama ini Jovan dan Monika sudah sering memperingatkan kepada Viona jika apa yang dia lakukan itu salah.


Ya..., Jovan melihat semua itu. Dia melihat saudara kembarnya memperjuangkan cintanya. Jatuh bangun Jevan mengejar Rere dan memastikan gadis itu selalu ada bersamanya. Hingga akhirnya dia berhasil mengumpulkan keberanian dan menikahi cantiknya 6 tahun lalu. Jevan sedikit demi sedikit memperlihatkan kemajuan. Dari dia yang terkenal begitu cuek dan bodo amat akhirnya mulai belajar memperhatikan kebutuhan istrinya. Dia begitu hebat mencintai Rere dan tidak keberatan melakukan apapun yang dibutuhkan oleh istrinya.


Jevan mungkin masih tetap dikenal sebagai pribadi yang dingin dan tampak tidak peduli. Dia juga tidak banyak bicara dan cenderung menarik diri dari circle yang terlalu besar. Dia hanya nyaman bersahabat dengan partner kerjanya saja selebihnya selalu dia habiskan waktunya bersama cantiknya. Atau bersama Jovan, dia diam-diam sering menelpon Jovan hanya untuk mengatakan betapa dia bangga dan bahagia bisa memiliki istri seperti Ananda Reva Aulia. Bahkan sampai bosan Jovan dibuatnya. Tapi tidak apa, dari pada saudara kembarnya itu harus menahan semua ceritanya seorang diri, dia lebih senang seperti itu.


Mama juga sering berkata jika dia ingin memiliki hubungan yang harmonis dengan kedua saudaranya, dia tidak boleh sekalipun membuat Jevando marah karena hanya saudara kembarnya itu yang bisa menghubungkan dia dan sang adik. Sama seperti Jevan yang hanya mau bercerita padanya, Junius juga hanya mau menceritakan apa yang dialaminya pada Jevan. Jadi sebagai anak tertua Jovan ingin kedua saudaranya ini selalu akur dan keharmonisan keluarga ini bisa dia turunkan kepada anak-anak mereka juga.

__ADS_1


"Kalau kamu Jo? Gimana sama pernikahanmu?" tanya Jevan setelah cukup lama mereka terdiam.


"Sama bahagianya dengan kamu Je. Aku nggak menyesal menerima dan belajar mencintai Monika. Dia adalah sosok ibu negara yang paling sempurna buatku," kata Jovan.


"Kalau begitu kenapa kamu sakiti dia kemarin? Inget ya, dia boleh saja istrimu tapi dia tetap sahabatku. Dia juga sudah jadi kakak iparku. Kamu juga tahu aku nggak pernah membela orang yang bersalah," kata Jevan.


"Iya, iya, lagian kamu juga tahu kan bagaimana aku dan Monika bisa berantem kemarin. Aku nggak sengaja Je. Rasa bersalahnya masih ada nih sampai sekarang. Dia juga belum mau aku sentuh lho, dia bilang dia masih marah dan belum sepenuhnya memaafkan aku. Tapi wajar aja sih, istri mana yang nggak marah suaminya ngasih kado pahit di hari ulang tahunnya begitu. Aku aja kayanya yang belum bisa jadi suami yang baik buat dia," kata Jovan sambil tersenyum kecut.


"Nggak juga. Aku yakin kamu suami yang baik kok. Kalau nggak itu cewek nggak akan bertahan sama kamu selama ini. Walaupun kesannya dia selalu ada sama aku dan selalu dekat sama aku, tapi kamu harus tahu kalau yang dia ceritain ya hanya kamu Jo. Dari dulu, bahkan sejak hari di mana dia belum menyadari dia suka sama kamu, pikiran dia sudah kamu semua isinya. Aku juga yakin cintanya nggak akan berkurang buat kamu. Selama kamu nggak bikin salah yang fatal aku yakin Monika nggak akan pernah meninggalkan kamu," kata Jevan berusaha menghibur kakak kembarnya.


"Makasih Je, kamu juga semangat menjalani pernikahanmu ya. Kudoakan kamu dan Rere juga akan selalu baik-baik saja begitupun dengan Junius dan Lia," kata Jovan.


"Aamiin," jawab Jevan.

__ADS_1


__ADS_2