
Ketika mendengar apa yang Junius katakan, Pak Haryo semakin ciut. Dia sudah terpojok dan berusaha kabur. Namun demikian Jevan tidak lalu memberikan keringanan. Dia yang paling marah di sini. Karena selain menyakiti Papa, kakak, serta keluarga besarnya. Dia juga telah merenggut senyum dari cantiknya. Dia sudah membuat Reva Aulia wanitanya menangis menyalahkan keadaan. Ditambah lagi Monika sahabatnya juga Lia adik iparnya sama menangisnya.
"Anda salah memilih lawan. Makanya, jangan sekali-kalinya berani berurusan dengan Triple J Kusuma Family. Hanya untuk menghancurkan hidup seseorang terlalu mudah bagi kami," kata Jevan.
"Anda sudah tidak bisa mengelak lagi Pak Haryo. Lagi pula di depan pintu itu sudah menunggu petugas kepolisian yang akan membawa anda ke penjara," lanjut Jovando.
Pak Haryo mencoba untuk lari, tapi dengan sigap Jevan dan Junius berlari dan langsung melumpuhkan pak Haryo sedangkan Jovando berjalan menyusul, "Sudah kubilang kan? Tiada ampun bagi mereka yang berani mengusik keluargaku," kata Jovan begitu mengintimidasi dan membuat Pak Haryo yang merasa kalah langsung jatuh terduduk dengan Junius dan Jevan yang tetap menahannya agar tidak kembali kabur.
Begitu rapat selesai, sudah ada dua orang anggota kepolisian yang menunggu Pak Haryo di depan pintu. Jovan, Jevan, dan Junius mendapatkan apresiasi tinggi dari para anggota dewan dan petinggi yang hadir. Selain itu seluruh karyawan juga ikut merayakan keberhasilan direktur mereka yang baru. Dalam waktu singkat Jovando kembali mendapatkan kejayaanya. Dia bahkan bisa dibilang lebih berjaya dibanding ketika masih berada di Singapura.
Jovando sudah berniat untuk membangun kembali Kusuma Group menjadi perusahaan yang lebih transparan dan terbuka. Langkah pertamanya adalah dengan menyiapkan sistem baru dan mengubah perusahaan dari PT. menjadi PT Tbk. Dengan membagikan saham kepada masyarakat yang lebih luas Jovando berharap jika dia akan mendapatkan banyak bantuan dalam mengawasi kerja perusahaan.
Walaupun gaya kepemimpinan Jovan dan Papanya jauh berbeda, tapi keduanya memiliki satu kesamaan yaitu pada kebaikan hatinya. Jovando dan Jeffrey sama terkenalnya dengan gaya mereka yang tetap merakyat walaupun sedang duduk di kursi tertinggi sekalipun. Tidak pernah Jovando menggunakan kekerasan atau nada tinggi untuk mengadili seseorang. Dia akan dengan tenang membeberkan kesalahannya dan meminta dia memperbaikinya. Akan lain halnya jika sampai setelah evaluasi orang itu berulah. Contohnya ya Pak Haryo. Sudah habis-habisan dia di tangan Jovando dan kedua saudaranya.
__ADS_1
"Kamu keren Jo," kata Jevan sambil merangkul saudara kembarnya.
"Nggak cuma aku kali. kamu juga. Junius juga. Makasih ya udah bantu," kata Jovan.
"Kan apa kataku. Kamu pasti bisa. Jangan takut buat melangkah lagi Jo. Kamu nggak sendiri, aku kan ada sama kamu sama Iyus," jelas Jevan.
"Makasih Je."
"Pokoknya kalian semua nggak boleh takut lagi. Selama ada Prasetya Jevando Kusuma, semua aman. Aku akan selalu setia membantumu Jo. Kaya Mama pernah bilang, kita rahim satu aja dibagi apalagi cuma beban hidup. Junius juga pernah bilang kan Kakaknya cuma ada satu, Jovan-Jevan. Ok? Semangat Jo, demi anak istrimu, demi keluarga besarmu," kata Jevan kembali membuat Jovan benar-benar merasa dikuatkan. Dia kini telah kembali menjadi Jovando yang lebih baik. Jovando yang lebih kuat.
Dalam waktu singkat, Jovando berhasil mengembalikan pamor perusahaannya. Kusuma Group di bawah kepemimpinannya berhasil mendapatkan simpati masyarakat kembali. Jovan merayakannya dengan membangun puskesmas pembantu di beberapa wilayah desa di daerah bagian selatan. Dia memilih tempat di sana karena dia ingin mengenang bagaimana dia dan Monika selalu menghabiskan waktu di sana semasa pacaran dulu. Bukan hanya itu, di tempat itu jugalah Jovan dan Jevan pernah bertengkar hebat dulu.
Jovan mengajak Monika menilik pembangunan gedung puskesmas pembantu di sana. Ketika ke sana, Jovan menandainya dengan menanam sebuah pohon. Pohon yang sama yang dia ambil dari kediaman Jevando. Pohon mangga arum manis yang dia bibitkan dan saat ini dia tanam di 3 lokasi di mana puskesmas itu akan dibangun. Dia ingin pohon yang ditanam oleh Jevan dan istrinya itu juga ada di sana.
__ADS_1
"Je, tugasmu mengawasi 3 puskesmas ini. Awas kalau sampai lalai. Kuhajar juga kau," kata Jovan setelah selesai menanamnya.
Sebulan kemudian, novel yang sempat dirumorkan macam-macam itu akhirnya dicetak oleh Cedar. Dalam waktu singkat novel berjudul "Ours" itu mendapatkan simpati dari banyak kalangan. Novelnya banyak dibaca oleh orang. Banyak juga yang menganggap jika novel ini berbeda dengan novel Monika yang sebelum-sebelumnya. Kata-katanya bahkan adegan yang ada di dalamnya serasa seperti hidup. Bahkan tokoh Ando dan Nanda dalam novel itu terasa seperti sungguhan ada.
Selain Monika, Lia juga berhasil memperbaiki karirnya. Dia diterima bekerja di salah satu SMK swasta favorit di kota mereka. Lia banyak dipuji sebagai guru yang berbakat, guru yang berdedikasi tinggi dan menjadi teladan yang baik untuk siswa-siswanya. Junius yang diam-diam mengambil S2 juga sudah diwisuda dan mulai mengambil kelas di salah satu universitas bergengsi sebagai seorang dosen muda yang kompeten. Karir Jovando, Monika, Junius, dan Lia semakin mapan dari hari ke harinya.
Mama malam itu memesan banyak makanan enak kesukaan ketiga jagoannya juga menantu cantiknya. Kusuma Family berniat untuk merayakan keberhasilan ini. Selain itu Mama juga sedikit membagikan rejeki pada anak-anak di Kusuma Bangsa dan tetangga kanan kiri sebagai rasa syukur atas berlalunya badai yang menimpa keluarganya. Walaupun tidak semua anaknya bisa hadir, tapi Mama tetap menganggap jika Jevando Kusuma anak kesayangannya itu ada di dalam keluarga. Bukan di mata, tapi di rasakan di hati. Mama teringat bagaimana Jovan dan Junius selalu menyebut nama Jevan ketika menyelesaikan kasus itu jadi Mama meluangkan waktunya mengajak seluruh keluarganya untuk menjenguk Jevan dan Rere di rumah baru mereka.
Ketika sampai di pusara Jevando, Mama langsung berjongkok. Mama mengenggam erat nisan Jevan dan Rere di kanan kirinya kemudian larut dalam doa. Begitu pula dengan Papa, Jovan, Junius dan yang lainnya. Semuanya dengan kusyuk mendoakan ketenangan Jevando dan Rere yang saat ini sudah tidak bisa bersama-sama lagi dengan mereka.
"Jevando anak Mama..., Rere menantu Mama..., kalian berdua apa kabar hmm? Tenang-tenang di sana ya nak. Mama akan selalu mendoakan kalian. Anakku, kamu adalah anak yang paling Mama sesali, Mama menyesal tidak bisa sepenuhnya mengenali dirimu. Itulah kenapa Mama bersyukur sekali kamu punya Rere. Dia mampu mengenalimu lebih dari mama. Dia mampu menjadi yang terbaik untukmu dan membawamu menjadi versi terbaikmu juga. Di sana nanti kamu harus selalu menggenggam tangannya. Bawa dia kemanapun dia pergi Jevan. Jangan kamu tinggalkan bidadari surgamu, paham nak?" kata Mama sembari menangis.
Di belakang Mama, Nafiza putri Jevan hanya mampu berdiam diri dalam gendongan Junius. Dia dengan wajah yang murung dan sedih hanya melingkarkan tangannya ke leher Ayahnya dan diam tidak mengatakan apapun. Ketika Junius meminta Nafiza untuk menaburkan bunga ke atas pusara Papa dan Mamanya juga Nafiza menolak. Dia tidak mau dan malah menangis membuat Junius terpaksa membawanya keluar dari area pemakaman.
__ADS_1