Ours In Another Story

Ours In Another Story
77. Kuatlah Cantik


__ADS_3

Ketika dulu Junius memutuskan untuk memasukkan nama Nafiza ke dalam kartu keluarganya juga Jovan tidak menolak sama sekali. Dia bahkan sampai harus bertengkar dengan Monika karena dia juga menginginkan hal yang sama. Jovan tahu jika tidak akan ada yang mampu menyayangi Nafiza sebayak Junius menyayanginya. Itulah kenapa Nafiza akhirnya masuk ke dalam Kartu Keluarga Junius dan kini dikenal sebagai putri Junius Chandra.


Alasan lainnya adalah Jovan sendiri tidak akan pernah sanggup menatap wajah Nafiza. Jujur saja, Nafiza begitu mengingatkan dia pada sosok kedua orang tuanya. Wajah yang sama persis dengan Rere berpadu indah dengan sorot teduh mata Jevan dan senyum manis menenangkannya. Melihat wajah Nafiza membuat Jovan sedih. Apalagi ketika gadis kecil itu menyebutnya dengan kata "ayah".


Nafiza melakukannya karena Nafiza bilang Jovan mirip dengan Papanya. Dia sebenarnya tidak suka. Dia tidak suka jika harus mendapatkan panggilan itu dari putri Jevan. Dia merasa seperti sedang menghianati saudara kembarnya. Tapi apalah dayanya. Selama itu yang terbaik untuk Nafiza. Dia sudah berjanji pada Jevan dulu bahwa dia akan menjagakan Nafiza dengan baik. Menggantikan peran orang tua dengan mengisi kekosongan di hati Nafiza.


"Cantiknya Ayah, makan ya sedikit saja. Itu nenek bikin sop makaroni lho, mau ya makan sama Ayah sama Bunda," kata Junius masih terus membujuk Nafiza.


"Tapi Ayah yang suapin," kata Nafiza pada Junius.


Mendengar penuturan Nafiza membuat Junius tersenyum. Cepat-cepat dia mengajak Nafiza ke meja makan sebelum gadis kecilnya berubah pikiran. "yuk ayah suapin."


Dia sekali lagi bersyukur bahwa dari semua yang merasakan sedih masih ada satu yang kuat menahan beban kehilangan. Junius Chandra, tidak akan ada habisnya Jovan berterima kasih pada adiknya karena telah membantu dia dengan semua yang tidak mampu dia lakukan. Dia menyadari jika dirinya lemah, itulah kenapa dia akan selalu membutuhkan Junius. Selain juga hanya dialah satu-satunya saudara yang masih ada kesempatan untuk dia jaga dengan baik.


***


Pagi berikutnya, sebelum mengajak anak-anak berjalan-jalan Jovan lebih dulu mengajak Monika kembali ke makam Jevan dan Junius. Dia ingin melakukan sesuatu di sana yang mungkin tidak bisa dia utarakan di hadapan yang lainnya. Ketika sampai di sana, Monika langsung berjongkok. Tidak peduli perutnya sudah besar dan sudah sulit bergerak, dia tetap berjongkok untuk berdoa juga untuk mengutarakan keinginannya.


"Jevan, Rere, kisah kalian mulai banyak dibaca orang. Kisah kasih kalian yang kutuangkan dalam novel ini banyak dicintai oleh orang. Makasih ya sudah memberikan banyak pembelajaran pada kami yang masih hidup sampai sekarang. Kalian nggak perlu sedih lagi, karena melalui kisah ini kalian akan selalu dikenang dan didoakan oleh banyak orang," kata Monika yang akhirnya menangis juga.


"Je, masalah di Kusuma sudah usai. Keluarga besar kita sudah baik-baik saja. Nafiza putrimu juga baik. Dia tumbuh menjadi gadis yang cerdas dan cantik. Persis seperti yang selalu kamu bayangkan. Jujur aku kangen sama kamu tapi apa daya, Allah lebih sayang kamu dan Rere. Kamu harus janji untuk tunggu aku. Nanti akan aku ceritakan tentang apa yang terjadi di sini."


"Oh iya, kamu pernah bilang kamu mendirikan Kusuma Digital Printing demi Rere dan Nafiza kan? Percetakanmu sekarang bukan hanya sekedar percetakan Je tapi juga menjadi penerbit buku. Cedar berhasil mengembangkan usahamu. Tempo hari dia datang padaku dan mengatakan jika dia berhasil mewakilimu mencapai mimpi terbesar kalian. Hanna juga, di bawah kendalinya butik terus berjalan. Malah dengar-dengar mereka akan mendirikan cabang baru di daerah Sleman. Intinya kalian tidak perlu khawatir. Kami semua di sini baik-baik saja," kata Jovan.

__ADS_1


"Viona, sahabat kita itu juga mengirimkan undangan pernikahannya beberapa waktu lalu. Dia menikah dengan seseorang yang mampu menyayanginya. Dia bilang dia sudah baik-baik saja. Dia jadi mampir kan ke sini? Saat itu dia bertanya di mana kalian berdua dimakamkan," Monika menambahkan.


"Jev, dari kecil aku suka banget ngerebut apapun yang jadi punyamu. Entah itu makanan, buku, atau yang lainnya dan sekarang aku mau ngerebut sesuatu lagi dari kamu. Aku mau merebut nama anakmu untuk kuberikan pada putraku. Karena aku mau dia bisa tumbuh jadi sepertimu. Jadi laki-laki yang hebat, bertanggung jawab, dan penyayang sepertimu. Boleh ya? Harus boleh. Aku maksa," kata Monika.


"Sudah dulu Je, Rere. Doakan kami bisa terus baik-baik saja. Aku janji walaupun Nafiza tidak selalu ada bersamaku aku akan tetap berikan yang terbaik untuknya. Akan kusayangi dia bagai menyayangi anak kandungku sendiri. Lagi pula kita kan satu. Junius selalu menganggap kita satu, artinya apa yang jadi milikmu akan jadi milikku juga. Nafiza akan aman bersamaku. Jadi kamu bisa tenang dalam tidurmu. Jangan datangi Junius lagi, kasihan dia takut jika kamu bawa Nafiza pergi dari pelukannya. Dia selalu ketakutan lho kalau Nafiza sakit. Makanya sudah kamu sama Rere diam saja di situ, jangan bandel. Biar adik kita itu memeluk permatamu dan menjaganya untukmu," kata Jovan.


Setelah keduanya mencurahkan isi hati mereka, Jovan dan Monika berjalan meninggalkan pusara. Ketika keduanya melangkah menjauh, mereka merasakan ada yang tersenyum pada mereka diikuti dengan ucapan terima kasih yang begitu tulus.


"Thanks Jo."


"Monik, makasih ya."


“Selamat ulang tahun juga permata hatiku. Kedua ayahmu akan menjagamu dengan baik, jadi Papa tenang meninggalkanmu.”


THE END


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


Catatan penulis:


Novel ini mungkin hanya merupakan isi kepala Monika sebagai penulis, tetapi novel ini mencurahkan segala yang Monika rasakan. Bukan, bukan saya Monikanya. Dia hanya mewakili saya, menuliskan semua luka dan lara akibat perjalanan kehidupan. Luka akibat perjuangan cinta yang tiada habisnya.


**Kesedihan akibat kehilangan bukanlah sesuatu yang mudah untuk dihilangkan. Apalagi kehilangan sosok sehangat Jevando juga sosok seramah Rere. Novel ini mungkin bukanlah kisah nyata tetapi novel ini membantu saya pribadi menjadi lebih kuat. Menjadi seseorang yang lebih sabar dan tabah menghadapi lika-liku kehidupan. Novel ini adalah obat di tengah peliknya drama yang tiada usai di tengah keluarga besar. **


Penulis berharap pembaca semua akan terhibur dengan novel ini.


"CANTIK"


"OURS"


"........."


Masih ada satu buku yang saya rahasiakan di sini. Kisah seorang gadis yang mendapatkan kasih sayang dari seluruh keluarga besarnya namun masih merasa kosong. Nanti, ketika waktunya sudah tepat akan saya selesaikan Trilogi Cinta Sejati ini dengan harapan yang penuh dan besar bahwa kisah yang saya buat ini mampu menjadi penghibur untuk kalian pembaca sekalian.


Terima kasih atas semua apresiasi yang diberikan saya berterima kasih sekali karena apresiasi itu sangat berharga bagi saya sebagai penulis. Walau hanya 1 orang saja yang menantikan novel saya, maka sampai saat itulah saya masih akan terus berkarya. Saya tidak akan lelah membagikan kisah yang mungkin lazim terjadi namun juga cukup sakit untuk dirasakan sebagai seorang pribadi.


Selamat dan semangat selalu untuk semua pembaca-pembaca setia trilogi ini. Semoga selalu diberi kesehatan dan keselamatan juga mendapatkan berkah rejeki dalam bentuk apapun itu, aamiin.

__ADS_1


__ADS_2