Ours In Another Story

Ours In Another Story
56. Kelelahan


__ADS_3

Jevan tanpa sadar sudah melamun. Dia juga teringat pada pukulan yang pernah dia layangkan pada saudara kembarnya. Pukulan pertama yang dia berikan pada Jovan. Seumur hidup, sejengkel-jengkelnya Jevan pada saudara kembarnya itu dia tidak akan se-emosi kemarin.


Jevan mulai merasakan perasaan tidak enak dan merasa bersalah karena main hakim sendiri tanpa tahu bagaimana dan seperti apa kejadian yang sebenarnya. Dia bahkan ketika itu belum mendengar ceritanya dari versi Jovan. Dia menyesali kenapa dia langsung memukul Jovan tanpa bertanya dulu padanya. Kenapa pula Jevan tidak bisa menaruh kepercayaan sedikit saja pada saudara kembarnya. Padahal selama ini kan Jovan selalu menceritakan apapun yang terjadi padanya. Jovan dan Jevan sering berbagi cerita, tapi kenapa pula dia dengan mudah tersulut emosi begitu.


Sesaat Jevan berpikir jika dia tidak kalah brengs*knya dibandingkan dengan Jovan. Dia juga bekerja, memiliki kesibukan yang sering menyita waktunya. Bahkan sebenarnya jauh sebelum ini dia memiliki satu dosa besar yang sampai sekarang masih dia usahakan pengampunannya. Dia pernah menduakan Rere dan dengan ketidak-tegasannya itu hampir membuat cantiknya pergi dari sisinya. Lalu apa bedanya dia dan Jovan? Dia sekali lagi menyalahkan dirinya sendiri. Seharusnya dia mengerti jika saudara kembarnya itu membutuhkannya. Bukannya malah dia hantam begitu saja bahkan di hadapan Junius dan Mama.


Tanpa Jevan sadari, Rere terus memperhatikan suaminya yang tengah duduk di bangku panjang dekat pintu sambil melamun. Rapat koordinasinya baru saja selesai dan para karyawannya mulai kembali pada kesibukan masing-masing. Mereka membenahi isi butik, mengubah beberapa tatanannya sesuai dengan kesepakatan yang sudah mereka buat barusan.


Tidak satu pun karyawan Rere memberikan izin pada bosnya itu untuk ikut bekerja kasar. Jadi Rere hanya mengawasi dari meja kasir saja. Sesekali dia akan memberikan instruksi tambahan atau menegur jika memang ada yang tidak sesuai dengan keinginannya. Tadinya Rere ingin mendekati Jevan, tapi ternyata pekerjaannya ini masih membutuhkan kehadirannya membuatnya harus mengurungkan niat mendekati Jevan untuk mengajaknya pulang.


"Mbak, yang di sini gimana biar aku saja yang urus? Kayanya kok Mas Bos Jevan sudah lelah banget. Mending Mbak Rere segera pulang," kata Hanna.


"Kamu yakin nggak papa aku tinggal?"


"Yakin nyonya. Kan ada saya, nanti kalau ada yang dibingungkan saya langsung telpon nyonya deh biar hasilnya tetap sesuai sama apa yang nyonya mau," kata Doni.


"Pulang saja Mbak. Angin malam nggak baik buat ibu hamil," tambah Dwi.

__ADS_1


"Yasudah, aku pulang deh. Tapi kalian jangan kemalaman ya pulangnya. Maksimal jam 11," kata Rere.


"Siap Nyah...," jawab Doni dan Dwi dengan semangatnya.


Rere meraih tasnya di dalam ruang staff, kemudian menggunakan jaketnya lebih dulu sebelum melangkah keluar. Rere berpamitan pada semua karyawannya dan melangkah mendekati Jevan yang masih duduk diam pada posisi yang sama sejak tadi. Rere baru akan menepuk bahunya, tapi dia menyadari jika Jevan bukannya melamun. Dia tertidur. Jevan terlelap dalam posisi tetap duduk tegak.


Rere dengan sangat terpaksa membangunkannya. Lagi pula dia tidak akan kuat menggendong Jevan. Dia meminta kunci mobilnya pada Jevan dan memilih menyetir malam ini. Walaupun dia juga tidak kalah lelahnya, tapi setidaknya dia masih sadar, sedangkan suaminya ini sudah tidak. Jevan terus berada di antara bangun dan tidur. Dia beberapa kali tersadar, membuka matanya kemudian mencoba menyamankan posisinya untuk tidur lagi.


Rere mencoba membangunkannya ketika mereka sudah sampai di rumah, "Papa...," panggil Rere sambil menepuk pelan bahu suaminya.


"Mas Jevan?" panggilnya lagi karena Jevan tidak segera bangun.


"Sudah sampai di rumah. Tidur di kamar sana," kata Rere.


Nafiza ada di rumah kakek neneknya, dia tidak mau di ajak pulang karena di sana memang masih ada kak Tirta kesayangannya, juga Genta, dan Abi. Rere hanya memastikan anaknya itu sudah makan dan sudah bersiap tidur melalui Monika. Monika bilang Nafiza sedang bermain piano bersama kakek dan Abi. Rere meminta Monika memberikan handphonenya pada Nafiza. Dia katakan jika Nafiza tidak boleh terlalu larut tidurnya karena besok pagi dia harus sekolah. Rere akan menjemputnya besok sekalian membawakan seragam untuknya.


Selesai memastikan putrinya tidak rewel bahkan tanpa kehadiran kedua orang tuanya terutama Papanya, Rere kembali ke depan dan memastikan pagar rumahnya sudah terkunci rapat. Dia menggemboknya kemudian kembali masuk. Rere tidak lupa mengunci pintu depan lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya. Jevan sudah tertidur kembali, dengan posisi tengkurap masih lengkap memakai jas, dasi, dan sepatunya.

__ADS_1


Dengan perlahan Rere lepaskan sepatu dan kaos kaki Jevan, dia gulingkan tubuh suaminya agar Rere bisa melepaskan dasi dan jas Jevan. Jevan entah sadar atau tidak membuka bajunya dan dia sekarang malah bertelanjang dada. Rere melepaskan gesper di pinggang suaminya lalu menyelimuti tubuhnya agar tidak kedinginan. Rere membawa pakaian kotor Jevan dan meletakkannya di keranjang. Rere sudah kelewat malas untuk makan malam, jadi dia hanya membuat satu gelas susu hangat dan langsung meminumnya sampai habis.


Rere tidak lupa membersihkan rumahnya, menyapu, dan memastikan tidak ada piring kotor tertinggal di wastafel. Setelah memastikan rumahnya rapi dan bersih, dia mematikan lampu dapur, mengunci pintu menuju ke tempat cuci lalu menyusul suaminya untuk tidur. Rere melepaskan pakaiannya dan menggantinya dengan baju tidur bergambar kelinci yang sudah dia pakai sejak hamil Nafiza dulu. Dengan perlahan dia naik ke atas tempat tidur lalu ikut dengan suaminya menuju ke alam mimpi.


***


Pagi harinya, Rere lebih dulu bangun. Di sebelahnya Jevan terlihat tidak terganggu sama sekali. Tidurnya masih lelap dan terlihat sekali raut wajah lelahnya. Rere bangun dengan perlahan kemudian melangkah langsung masuk ke dalam kamar mandi. Sebelum melakukan aktivitasnya, dia sudah lebih dulu sholat baru melangkah masuk ke dalam kamar Nafiza untuk menyiapkan tasnya.


Monika beberapa waktu lalu memberi kabar kalau Nafiza dan Abi sudah terbangun dan sedang berebut untuk mandi. Rere tertawa, dia letakkan handphonenya begitu saja di meja makan lalu dia kembali fokus pada dua gelas teh hangat yang ada di hadapannya. Rere tidak memasak hari ini karena Mama sudah masak dan berharap Jevan dan Rere mau sarapan bersama.


Ketika Rere sedang mengaduk tehnya, dia merasakan dua tangan melingkari dan mengelus perutnya. Jevando, dia masih setengah bangun tapi sudah sempat menyapa istrinya. Rere menghentikan kegiatannya dan memilih fokus pada Jevan. Tangannya menangkup kedua tangan Jevan membuat si kecil dalam perutnya ada dalam dekapan kedua orang tuanya.


"Capek ya?" tanya Rere.


"Lumayan...," jawab Jevan.


"Kok serak gitu suaramu. Papa sakit?"

__ADS_1


"Nggak cantik, kayanya kelamaan tidur deh makanya suaraku serak. Semalam aku nggak ngelindur kan?"


"Ngelindur sih Pa. Tapi nggak ngomong apa-apa, ya cuma bersuara doang sama tanganmu nindih perutku," jawab Rere.


__ADS_2