
Hari Minggu adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh hampir semua orang. Namun ada juga sebagian orang yang masih harus terus bekerja di hari Minggu. Seperti Rere dan Jevan misalnya. Percetakan Jevan dan Butik Rere tidak pernah tutup di hari Minggu. Tapi tidak ada salahnya juga mereka ikut berbahagia karena hari Minggu adalah hari satu-satunya putri mereka Nafiza akan berada di rumah dan bermain bersama dengan kedua orang tuanya.
Sejak semalam Jevan sudah membayangkan akan membawa Rere dan Nafiza berjalan-jalan, tapi belum juga sang matahari menampakkan seluruh terangnya kediaman keluarga Jevando sudah heboh karena Rere yang terus muntah-muntah di kamar mandi. Nafiza jadi ikut ikutan menangis walaupun Jevan sudah mendekapnya. Dia takut karena melihat Mamanya seperti begitu kesakitan padahal Rere sudah memperlihatkan akting terbaiknya agar putrinya ini tidak khawatir. Tapi mau bagaimana lagi, wajah pucat Rere memang tidak bisa diajak berbohong. Nafiza bahkan bilang wajah mamanya saat ini seperti wajahnya kakek buyut yang meninggal 2 bulan lalu.
“Kak udah nangisnya ya, cup cup,” kata Jevan berusaha menenangkan putrinya.
“Takut Mama,” kata Nafiza.
“Pa, kakak di bawa ke kamar dulu dong. Jangan di sini kasihan,” kata Rere di sela mualnya.
“Nggak mau. Mau sama Mama. Nafiza takut Mama kenapa-napa,” kali ini Nafiza berontak minta turun dari gendongan Papanya agar bisa dekat dengan Mama.
Rere menguatkan dirinya, dia membasuh mulutnya dan berkumur setelah itu meminta Nafiza dari gendongan Papanya. Dia membawa Nafiza yang masih menangis untuk duduk bersamanya di sofa ruang tengah sedangkan Jevan ke dapur membuatkan teh hangat untuk Rere.
Rere mendekap Nafiza yang masih terus menangis karena takut Mama kenapa-napa. Nafiza bahkan memukuli Papa Jevan karena Papa dia anggap ingkar janji. Jevan ingat pernah berjanji pada Nafiza kalau dia akan diberi adik tanpa membuat Mama sakit tapi pagi ini dia malah harus melihat sendiri bagaimana ibunya berjuang melawan morning sickness yang parah.
“Papa jahat, Papa nakal, Papa nggak nepati janji, Papa pembohong,” kata Nafiza terus memukuli Jevando.
“Kak, udah jangan sayang, shtt…, Nafiza. Hey dengerin Mama ngomong dulu,” kata Rere berusaha menenangkan putrinya walaupun berakhir gagal. Semakin Rere berusaha memeluk dan menenangkan putrinya, dia justru semakin menangis. Nafiza bahkan berontak karena Rere yang gemas mulai menahan paksa Nafiza.
__ADS_1
Jevando takut Nafiza semakin tidak terkendali dan kemudian menendang perut Mamanya akhirnya dia memaksa Nafiza lepas dari pelukan Rere kemudian membawanya paksa masuk ke dalam kamar. Rere sempat ingin menyusul tapi ketika dia akan berdiri tiba-tiba kepalanya terasa begitu pening dan perutnya kram membuatnya jatuh terduduk begitu saja.
“Mas…, Mas Jev kakak jangan dimarahin,” kata Rere yang hanya bisa berteriak dari tempatnya duduk.
Di dalam kamar Nafiza, Jevan menurunkan putrinya kemudian dia berlutut membiarkan Nafiza terus memukuli lengan dan dadanya. Setelah Nafiza lelah dan berhenti, baru dia dekap kembali putrinya dan perlahan menepuk-nepuk punggung Nafiza agar lebih tenang. Mau bagaimana lagi, sejak masih bayipun anak ini jika sedang tantrum akan sulit sekali ditenangkan. Yang bisa dan biasa Jevan dan Rere lakukan hanya membiarkannya melampiaskan emosi sembari menjaga agar dia tetap aman di tempatnya.
“Kak, maafin Papa ya,” kata Jevando.
“Papa jahat banget. Nafiza nggak mau sama Papa,” katanya masih sambil sesenggukan.
“Nafiza boleh marah sama Papa sebanyak yang Nafiza mau, tapi jangan bikin Mama tambah sakit. Kalau kakak nangis, Mama jadi sedih terus jadi makin sakit. Sayang, Mama itu nggak beneran sakit. Percaya sama Papa, Mama itu cuma lagi ngosongin perut. Soalnya kalau perut Mama penuh nanti adek jadi sempit, Mama muntah itu cuma karena ngurangi isi perutnya Mama kok. Nanti kalau adek sudah enak diperut Mama kan Mama nggak akan muntah-muntah lagi. Mama akan baik-baik aja. Dari pada kakak nangis kaya gini sekarang kakak bantuin Papa aja ya buat jagain Mama biar Mama sama adik sehat terus,” kata Jevan berusaha menjelaskan dengan bahasa yang dimengerti oleh putrinya.
“Beneran Mama nggak sakit Pa?” tanya Nafiza yang masih sesenggukan.
“Percaya. Tapi kenapa muka Mama berubah jadi putih banget?” tanyanya pelan.
Jevan tersenyum. Dia kembali menyeka air mata putrinya dengan kedua ibu jari. Matanya merah dan masih sangat berair, "nggak papa, Nafiza nggak perlu takut ya. Anak Papa yang satu ini kan pintar sekali. Nanti Mama juga pasti akan kembali seperti semula. Sekarang Nafiza sudah menangisnya kita keluar dan peluk Mama ok?" ajak Jevan.
Nafiza mengangguk kemudian berusaha menghapus air matanya karena tidak mau Mama lihat dia menangis. Setelah sedikit lebih tenang, Jevan membantu putrinya meminum air putih dari dalam botol yang selalu dibawanya kemana-mana baru menemui Mama yang hanya bisa duduk lemas di sofa.
__ADS_1
“Mama…,” kata Nafiza yang langsung naik ke pangkuan Rere.
“Maafin kakak. Kakak bikin Mama sedih ya,” kata Nafiza.
“Nggak kok sayang. Anak pinter bantu jagain adik ya. Mama nggak bisa kalau jagain sendirian. Mama butuh bantuan dari kakak sama Papa,” kata Rere. Nafiza mengangguk kemudian dia masuk kembali ke dalam pelukan Mama.
Jevan mencium kening kepala Nafiza kemudian juga kening Rere sebelum dia melangkah ke dapur berniat membuat sesuatu untuk mereka makan, “Ma, mau makan apa yang kira-kira nggak bikin kamu mual deh,” kata Jevan.
“Nggak tau Pa, lagi nggak mau makan apa-apa. Lidahku pahit banget,” jawab Rere.
“Tapi kalau kamu nggak makan nanti kamu makin lemes. Makan ya dipaksa dikit,” kata Jevan.
“Mas, cari soto yuk. Tapi soto kuah bening. Mungkin kalau makan itu aku jadi nggak mual,” kata Rere.
“Ya ayo, siap-siap. Kakak juga mandi dulu,” ajak Jevan.
"Kakak mandi sama Mama ya?"
"Boleh, yuk. Mandi sama Mama sekalian Mama sampoin rambut kakak sudah hmm baunya udah nggak enak nih," goda Rere.
__ADS_1
Nafiza langsung memegangi kepalanya dan berusaha agar bau dari rambutnya tidak menyebar ke seluruh ruangan, "Mama...," rengeknya.
Rere tertawa, dia menciumi kepala dan pipi Nafiza sebelum akhirnya menggendong putrinya dan masuk ke kamar mandi. Di ruangan itu hanya ada Jevan yang tersenyum. Bahagianya sesederhana melihat kedua cantiknya bisa bahagia dan tertawa bersama. Rasanya dunianya berubah seindah surga seketika Rere dan Nafiza memperdengarkan suara tawa mereka. Dia merasa sangat bersyukur karena di antara 3 putra Jeffrey hanya dia satu-satunya yang dikaruniai malaikat secantik dan semanis Nafiza.