Ours In Another Story

Ours In Another Story
8. Kabar dari Rere


__ADS_3

Setelah anak-anak selesai gantian Ayah Jovan, Papa Jevan, dan Ayah Junius yang mandi. Ada yang masuk ke kamar mandi di lantai 1 ada yang masuk di lantai 2. Intinya semua selesai tepat ketika waktunya makan malam. Jovan dan Jevan sedang menata tempat, menggeser sofa dan menggelar karpet untuk mereka makan bersama. Rumah Papa Jeff memang cukup luas, tapi sudah tidak lagi muat kalau harus menampung semua cucu-cucunya. Makanya mereka memilih untuk makan bersama lesehan di depan tv, sekalian nanti setelah makan digelar kasur untuk mereka tidur bersama di sana.


Jovan dan Jevan baru beres meletakkan kasurnya ketika Genta dan Abi naik ke atas dan langsung berjingkat seperti sedang ada di atas trampolin. Keduanya terus melompat-lompat dengan senangnya.


"Bi, Ta, turun dulu biar om pasangin sprei," kata Jevan pada kedua keponakannya.


“Udah pada selesai makan semua belum? Jadi beli ice cream nggak?” tanya Junius menyelamatkan Jevan dari anak-anak yang mengganggunya menyiapkan tempat tidur.


“Jadi….,” jelas Abi adalah yang paling keras menjawab. Seketika dia langsung turun dari kasur dan berlari mendekati ayahnya agar bisa segera berangkat.


“Mau Ayah ajak ke mana?” tanya Lia.


“McD kalau nggak di KFC Sudirman.”


“Jangan ke tempat ramai Yus, kamu sendirian kerepotan nanti jaga anak-anak,” kata Monik.


“Nafiza, boleh ikut kan Ma?” tanya Nafiza pada Mamanya.


“Boleh, tapi janji ya nggak nakal. Dengerin om Iyus, jangan pergi jauh-jauh dan jangan misah dari Kak Tirta Genta sama Abi ya,” kata Rere yang diangguki putrinya dengan semangat.

__ADS_1


“Ayo deh, Papa ikut sekalian. Kasian om Iyus nggak akan mampu jagain sendiri,” kata Jevan yang kemudian ikut pergi bersama Junius dan anak-anak. Kalau Jovan selepas makan malam dan membantu Jevan langsung masuk kamar dan mengurung diri di dalam kamar menghindari keramaian karena dia harus menyelesaikan pekerjaannya.


Setelah anak-anak dan ayahnya membubarkan diri, Mama memberikan komando pada ketiga menantu cantiknya untuk segera membantu membereskan dapur dan meja makan. Kalau Papa Jeff memilih untuk nonton tv karena ada satu acara yang tidak pernah Papa lewatkan. Opera Van Java. Papa selalu nonton itu. Bahkan ketika saat ini pemainnya sudah berbeda sejak pertama kali Papa nonton, Papa masih tetap saja setia duduk di depan tv ditemani secangkir teh hangat dan cemilan buatan Mama.


Lia membantu Mama mencuci piring, Rere memindahkan piring-piring kotor di atas meja ke wastafel dan membereskan sisa sayur dan lauk tadi ke dalam lemari makanan, sedangkan Monika meraih lap bersih dan cairan pembersih untuk membersihkan ceceran makanan di atas meja.


“Ini obat siapa?” tanya Monik yang menemukan bungkus obat di atas meja ketika membersihkan meja makan. Karena pertanyaannya barusan, dia langsung mendapatkan atensi dari seisi ruangan termasuk orang yang memiliki obat tersebut.


“Obatku Mon,” kata Rere merebut bungkus itu lalu menyembunyikannya cepat-cepat.


“Aku pikir sakit perutmu cuma sakit perut biasa. Kamu sakit banget Re sampai minum obat? Sakit apa? Kok kamu nggak cerita?” Monika langsung memberondong Rere dengan pertanyaan.


“Kok aku nggak tau sih?”


“Jangankan Mbak yang jauh, aku yang deket aja nggak dikasih tau. Kebiasaan mbak Rere mah emang gitu. Pinter banget jaga rahasia,” kata Lia protes. Jujur dia juga ikut kaget ketika mendengar kabarnya dari sang suami beberapa waktu lalu. Itu saja Lia dan Junius tahu setelah Rere sembuh dan pulang dari rumah sakit.


Rere tersenyum berusaha mencairkan suasana dan memperlihatkan jika dia memang benar sudah baik-baik saja, “lagian nggak darurat. Aku juga nggak sampe yang berhari-hari di rumah sakit. Aku sengaja nggak ngomong, karena nggak mau bikin kamu khawatir Mon. Kamu kan orangnya panikan, nggak ada jaminan kamu nggak akan langsung terbang dari Singapura untuk pulang dan nemui aku kaya waktu Nafiza dulu makanya aku nggak cerita. Kalau Lia emang nggak aku kasih tau biar nggak overthinking. Kasian si kembar di dalem perut. Lagi hamil tuh dengernya yang baik-baik aja nggak usah denger yang jelek,” jelas Rere.


“Reva Aulia, kamu tuh kalau nggak kasih tau malah bikin aku makin khawatir tau. Kamu kasih kabarlah kalau ada apa-apa tuh, jangan cuma kabar baik aja. Kabar yang kaya gini juga aku wajib tau pokoknya,” kata Monika.

__ADS_1


“Udah sana kalian berdua istirahat aja. Biar aku yang selesain semuanya,” kata Monik pada Rere dan Lia.


“Nggak papa Monika sayang, aku udah sembuh. Ini aku minum karena sakit bulanan bukan karena apa-apa. Lagian kejadiannya sudah lumayan lama. Sudah 3 bulan lalu juga.”


“Cerita dong Re kenapa, kok bisa kamu keguguran?” kata Monik.


“Belum sampe aku tahu kalau hamil udah keguguran. Kan nggak direncana jadi ya nggak ngeh juga, mana aku sibuk banget kemarin jadi udah nggak kepikiran apa-apa, nggak dapat tanda apa-apa. Pikirku paling juga cuma stress sampe nggak dapet hampir 2 bulan. Masuk bulan kedua kok tiba-tiba perutku sakit dan keluar darah. Kupikir cuma bulanan biasa tahunya sampai pingsan aku di butik, di bawa ke rumah sakit langsung nginep di sana nggak pulang 2 hari. Dokter bilang seharusnya aku hamil tapi karena embrionya nggak berkembang akhirnya gugur,” kata Rere.


“Astaga Rere…, kuat ya kamu,” kata Monik memeluk iparnya itu.


“Ini beneran sana kamu istirahat, aku jadi nggak tega liat kamu kerja.”


“Mon, Li, aku minta kalian pura-pura nggak ngerti aja ya. Soalnya Nafiza juga nggak aku kasih tau aku sakit apa, jangan dianggep aku sakit. Kaya biasa aja, toh aku juga udah baik-baik aja. Aku sudah sehat. Tanya tuh ke Mama,” kata Rere.


"Iya, iya aku akan keep. Tapi kamu juga jangan maksain diri ya. Kalau sudah capek langsung istirahat aja," kata Monika diangguki oleh Lia tanda setuju membuat Rere tersenyum berterima kasih.


Setelah pulang Jevan dan Junius membantu menata tempat untuk mereka tidur. Kasur di kamar lama Junius, Jovan dan Jevan sudah dikeluarkan semua dan ditata berjejer oleh Jevan sebelum pergi tadi jadi mereka hanya tinggal mengeluarkan bantal dan gulingnya saja. Seisi ruang tengah sekarang sudah penuh dengan kasur. Bantal dan guling juga dikeluarkan semua termasuk selimutnya. Cuma Papa sama Mama yang tidur di dalam kamar. Di antara mereka yang pertama memposisikan diri untuk tidur adalah Abi. Dia langsung tidur berjejer dengan Nafiza yang sudah berada di pelukan Mamanya. Di sebelah Abi ada Tirta dan Genta yang ikut merebahkan diri dan bersiap tidur.


Junius dan Lia masih asik mengobrol di teras bersama Jovan-Jevan, Papa dan Mama. Monik sedang membereskan sisa-sisa kekacauan di dapur baru menyusul ke teras bergabung dengan yang lainnya. Setelah Nafiza tertidur, Rere juga perlahan bangun dan bergabung dengan yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2