
Setelah bersiap-siap, mereka bertiga pergi mencari soto kuah bening sesuai permintaan Rere. Untung dia tidak minta aneh-aneh. Hanya minta semangkuk soto kuah bening dan tepat di pagi hari di mana orang kebanyakan menjualnya. Karena jika mengingat ngidamnya Rere ketika hamil Nafiza dulu dia bisa bisa kesulitan lagi. Jevan membawa Rere makan di daerah Klebengan di mana mereka sering makan berdua ketika masih pacaran dulu. Jevan yang memesan sedangkan Rere langsung mencari tempat duduk yang jauh dari asap rokok, jauh dari dapur dan jauh dari tempat yang kira-kira bisa membuatnya mual.
“Kak sini sama Papa makannya,” kata Jevan membuat Nafiza turun dari tempatnya duduk dan pindah ke sebelah kanan Papanya.
Jevan sudah lebih dulu habis kemudian membantu Nafiza menghabiskan miliknya sambil mengawasi andai istrinya tiba-tiba mual dan ingin muntah. Untungnya Rere baik-baik saja jadi Jevan tidak perlu khawatir. Rere juga sanggup menghabiskan semangkuk soto tanpa sisa. Setelah mereka selesai makan, Jevan mengajak Rere dan Nafiza berjalan-jalan di Malioboro. Mumpung masih pagi dan udaranya masih bersih. Sudah lama juga mereka tidak bersantai begini.
“Mama capek nggak?” tanya Jevan pada Rere.
“Duduk bentar ya Pa,” kata Rere.
Rere dan Nafiza sudah duduk di salah satu bangku yang ada di jalan Malioboro. Jevan meninggalkan keduanya, berjalan mencari minimarket. Jevan membeli 2 botol air mineral dan satu bungkus biskuit regal kemudian dia kembali ke tempat di mana istri dan putrinya menunggu. Baru Jevan keluar dari minimarket, dia tidak sengaja menabrak seorang wanita hingga terjatuh.
“Eh Mbak maaf, Mbak nggak papa?” tanya Jevan belum menyadari siapa yang ditabraknya.
“Astagfirullah Monika? Mon, kamu kok di sini? Jovando mana? Anak-anak?” tanya Jevan.
“Jevan…,” Monika bukannya menjawab pertanyaannya dia malah menangis.
__ADS_1
Bukan hanya Jevan yang kaget dengan pertemuannya dan Monika, tapi Rere tidak kalah kagetnya. Apalagi ketika Monika menangis dalam pelukannya, Rere tidak bisa berkata apa-apa selain hanya memeluk dan berusaha menenangkan deru air mata iparnya.
Jevan membawa Monika pulang ke rumah Mama Tiwi. Selama perjalanan, Jevan mendengar semua yang terjadi antara Monika dan suaminya hingga dia bisa senekat ini meninggalkan rumah hanya berbekal dompet dan handphone saja. Monika bahkan sampai senekat itu meninggalkan Tirta dan Genta berada di Singapura hanya bersama dengan pengasuh mereka.
Papa Jeff dan Mama Tiwi jelas kaget dan syok melihat siapa yang datang bersama dengan anak keduanya. Begitu melihat kondisi Monika, Mama langsung memeluknya dan ikut menangis bersamanya sedangkan Papa yang emosi langsung meraih vas bunga yang terletak di atas meja kemudian membantingnya. Untung Rere dan Nafiza sudah naik ke lantai dua dan diam di dalam kamar jadi kedua cantiknya Jevan tidak perlu melihat murkanya Papa Jeff yang begitu menakutkan ini.
“Pa, udah Papa jangan emosi. Inget kondisi Papa.” kata Jevan berusaha menenangkan Papanya.
“Kamu suruh Papa tenang? Lihat kelakuan kembarmu kaya gitu kamu minta Papa tenang? Yang selalu Papa banggakan, yang dari kecil Papa didik dengan baik membuat kesalahan seperti itu sampai istrinya kabur dari rumah. Apa mungkin buat Papa tetap tenang?!” Papa sudah terus berteriak sedangkan Monika yang ketakutan semakin ciut di dalam pelukan Mama.
“Papa, sabar dulu. Kita bicarakan dengan kepala dingin. Ini Monika saja ketakutan, Rere di atas kalau sampai dengar juga bisa ikutan panik. Istriku itu lagi hamil lho Pa, aku nggak bisa lihat dia kenapa-napa. Ayolah tenang dulu. Marah nggak akan menyelesaikan masalah,” kata Jevan sembari berusaha menekan emosi Papanya.
Jevan, Mama, Papa, dan Monika kini sudah tenang. Mereka duduk di ruang tengah membicarakan masalah ini dengan serius. Papa akhirnya tahu seluk beluk permasalahannya. Papa sudah kembali yakin dan percaya jika putranya tidak mungkin melakukan hal sekeji itu setelah mendengar penjelasan dari Monika. Walaupun masih ada sisi kemarahan yang tidak terbendung karena putranya itu begitu tidak pekanya hingga menantu sulung Jeff bisa jadi begini.
“Jovan sudah tahu kamu pergi Mon?” tanya Papa hanya digelengi oleh Monika.
“Pa, Ma, Monika nggak kuat di sana sendirian lihat cewek itu terus datang dan gangguin Jovan. Dia bahkan mulai berani datang ke rumah dan bilang yang nggak-nggak ke anak-anak,” kata Monika.
__ADS_1
“Tapi kalau kamu di sini terus kasihan Tirta sama Genta di sana pasti nyariin Bundanya. Kamu seorang ibu Monika, pikirkan juga anak-anakmu,” tegur Mama Tiwi.
“Tapi aku nggak mau mereka ikut ke sini Ma. Tirta sama Genta sudah sekolah. Aku juga nggak rela mereka harus kesusahan hanya karena masalah yang nggak seharusnya mereka tahu. Aku sudah bilang sama pengasuhnya Tirta dan Genta untuk nggak menerima tamu siapapun yang datang,” kata Monika.
“Kamu yakin pengasuhnya anak-anak bisa dipercaya Mon?” tanya Jevan.
“Yakin. Dia sudah ikut dengan keluargaku bahkan sejak aku belum lulus sekolah. Sekarang ini juga dia kasih kabar terus ke aku. Aku nggak matikan handphone tapi semua kontak Jovan aku blokir. Aku cuma mau menenangkan diri di sini selama beberapa hari. Kalau aku di sana terus-terusan aku bisa gila sendiri. Aku nggak mau mengorbankan anak-anak. Karena nggak kuat lihat tingkah Jovan bikin aku jadi nggak sengaja sering ngebentak mereka,” kata Monika.
“Ok. Kamu sementara di sini dulu. Masalah Monika bisa ada di sini cukup kita saja yang tahu. Jevan, kalau kamu mau kasih tahu Junius jangan sampai Lia ikut tahu. Dia masih harus fokus jagain si kembar. Dia juga kemarin habis sakit. Jangan sampai dia ikutan stres. Rere juga dijagain baik-baik. Monika aman sama Papa sama Mama,” kata Papa.
"Kamu udah nggak bisa nolak bantuanku lagi Mon. Jovan udah keterlaluan. Biar aku dan Junius yang turun tangan," kata Jevan yang sebenarnya tidak kalah marah juga. Dia hanya berusaha menahan diri saja.
"Tapi Jev, jangan marah sama Jovan."
"Di saat begini saja kamu masih membela suamimu? Kamu itu bodoh apa gimana sih?" tanya Jevan.
"Hus Jevan!" Mama memperingatkan.
__ADS_1
"Memang aku bodoh. Terus kenapa? Aku percaya sama suamiku. Dia pasti punya alasan di balik tingkah lakunya. Dia nggak mungkin mengkhianati keluarganya sendiri. Aku kenal siapa Jovan dan seperti apa dia," kata Monika.
"Ok. Kalau kamu mau tetap percaya sama dia. Tapi aku nggak Mon. Aku harus netral. Kalau nggak aku cuma akan menyakiti salah satu pihak. Jangan permasalahkan cara apapun yang akan kupake nanti. Papa dan Mama juga. Kalau kalian sudah menyerahkan masalah ini sama Jev dan Iyus maka Papa sama Mama nggak akan kuperbolehkan ikut campur," kata Jevan. Murka Jevan akhirnya membuat Papa dan Mama mengangguk. Keduanya tidak memiliki pilihan selain itu.