Ours In Another Story

Ours In Another Story
36.Terima Kasih untuk Yang Terkasih


__ADS_3

Jovan lebih dulu tersenyum, “kamu sebenarnya sudah menerima keberadaan Lia dari dulu. Alasan kamu nggak mau pacaran sama dia apa? Karena kamu nggak mau menyakiti gadis sebaik Lia, kan?” Junius mengangguk. Memang benar, untuk yang satu itu dia tidak berani bermain-main. Entah mendapat dorongan dari mana, tapi tanpa sadar Junius selalu memperhatikan dan selalu menjaganya tanpa ada satu orangpun yang tahu termasuk juga dirinya sendiri.


Junius jadi ingat jika dia dulu pernah begitu marah mengetahui Lia sudah menjalin hubungan khusus dengan seorang dari rekan OSIS mereka. Lia bahkan lebih marah lagi ketika dia tahu jika laki-laki itu adalah laki-laki yang tidak baik. Dia selalu memaksa Lia dan sering kali memarahi temannya itu karena sudah membuat Lia menangis.


"Yud, kalo lo nggak bisa bikin Lia seneng mending jangan lo pacarin," kata Junius.


"Kenapa? Lo cemburu? Emang lo siapanya Lia?" tanya Yudha kekasih Lia.


Kalimat Yudha ketika itu membuat Junius termenung. Bahkan saat ini kalimat itu kembali bergema di telinganya seakan-akan mengingatkan seberapa jahat dirinya pada Lia. Dia mulai menyadari kesalahannya dan saat ini dia mulai bingung harus bagaimana.


“Ya terus aku harus gimana sekarang?”


“Minta maaflah. Aku yakin Lia akan maafin kamu. Apapun yang nanti akan dia bilang ke kamu, jangan pernah kamu bantah pokoknya. Dengerin aja, koreksi diri. Berarti sebanyak itulah kamu punya salah sama dia. Kalau setelah itu kamu mau lanjut sama dia berjanjilah kamu nggak akan menyakiti dia lagi. Pacaran, nikah, berumah tangga, semua itu cuma bisa terjadi kalau ada kesepakatan dari kedua belah pihak. Kamu udah gede, udah dewasa. Kamu harus cari sendiri jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu.”


Setelah mendapat wejangan panjang lebar dari Mas Jovan, Junius langsung meraih kunci motornya lalu segera pergi menemui Lia. Mumpung masih sore juga, jadi Junius memutuskan untuk pergi ke sekolah tempat Lia mengajar. Sambil menunggu Junius mengobrol dengan pak Budi, satpam SMK yang sering mengajaknya beradu skor di permainan hitz 90'an Zuma Deluxe. Memang sejak “kontrak” itu dimulai Junius sering antar jemput Lia, makanya dia bisa kenal dengan satpam yang satu ini.


Untung Lia mau dia bonceng tanpa ada drama ala-ala. Keduanya memilih untuk cari makan di rooftop Lippo Mall. Di sana lah akhirnya Junius meminta maaf pada Lia yang setulus-tulusnya. Semua ucapan Mas Jovan terus menggema di telinganya sampai tanpa sadar Junius nyeletuk begitu saja mengajak Lia menikah.

__ADS_1


Yang jadi Lia tentu saja kaget. Baru 5 menit lalu dia berusaha memaafkan laki-laki di hadapannya ini, tapi dalam hitungan detik selanjutnya dengan seenak jidat dia mengajak Lia menikah. Sudah begitu, Junius menyatakan ajakan menikah itu seenteng seperti seorang anak mengajak temannya membeli sebuah permen. Enteng sekali.


“Awas ya kalau sampai nanti malem aku mimpi buruk gara-gara kamu,” kata Lia.


“Maaf, aku terlalu ngegas ya?”


“Menurutmu?!”


“Ampun Nyai, santai aja. Aku akan tunggu sampai kapanpun itu. Tapi bener ya kita lanjut pacarannya. Kali ini beneran, janji bukan main-main,” kata Junius.


“Yus, sebelum itu aku mau ngomong sama kamu. Aku nggak akan minta kamu untuk berubah. Kamu playboy, iya aku tahu. Lebih dari tahu. Jangan paksa diri kamu buat berhenti gitu aja, aku nggak mau kamu kesiksa sendiri. Semua butuh proses Yus, tapi satu hal yang aku janjiin ke kamu aku akan bantu kamu sekuat yang aku bisa biar kamu bisa sembuh dari kebiasaan burukmu itu, mau kan?” kata Lia membuat Junius tersenyum padanya.


Bagi Junius Candra, Julia Oktaviana adalah prioritas utamanya. Bahkan hingga detik ini, di mana dia sedang duduk bersama dengan wanita hebat yang menjadi karma manisnya ini. Dia melihat Lia tengah tersenyum menatap Krisna yang baru saja terlelap, sedangkan di gendongannya ada Rama yang juga sedang bermimpi indah. Junius mencium dahi Rama, beralih ke Krisna, lalu pada Abimanyu yang sedang bermain di dekat kakinya, dan terakhir pada Lia.


“Makasih ya kamu mau terima aku yang banyak kekurangan ini. Makasih karena berkat kamu aku punya kebahagiaan sebesar ini,” kata Junius berbisik pada Lia.


“Kamu pegang janjimu, dan aku tahu kamu nggak akan ingkar. Itu sudah lebih dari cukup, Ayah,” kata Lia.

__ADS_1


Junius tersenyum, dia menatap lekat kedua netra istrinya. Dengan perlahan kemudian Junius membawa kedua putranya ke atas box bayi mereka lalu meminta Abimanyu untuk segera pergi tidur, "Mas, udah malem lho tidur sana," kata Junius pada putranya.


"Dih ayah ngusir," kata Abi.


"Udah sana tidur gih, dari pada besok pagi kesiangan kamu ke sekolah. Ayah nggak mau tahu ya kamu terlambat bangun ayah tinggal. Nggak akan ayah anter ke sekolah," kata Junius sedikit mengancam Abi.


"Hu.... Pelit."


Walaupun dia mendapatkan cemoohan dari putranya tapi dia tetap senang karena dia akhirnya bisa berduaan dengan sang istri. Abaikan saja si kembar yang sudah tidur dengan nyenyak di box bayi berukuran besar mereka. Toh keduanya tidak akan paham dan tidak akan bisa melihat apa yang akan dilakukan oleh kedua orang tuanya.


"Sayang, kamu sudah enakan belum?" tanya Junius yang mulai menggoda istrinya.


"Belum."


Junius langsung cemberut begitu mendengar jawaban Lia. Dia langsung memajukan bibirnya dan menggembungkan pipi persis seperti ikan koki berwarna oranye yang dipelihara oleh bosnya di kantor. Lia di atas tempat tidur mulai tertawa. Dia merasa puas karena berhasil mengerjai suaminya ini. Sekali waktu Lia juga ingin menggoda suaminya. Biar dia tidak besar kepala karena semua keinginannya selalu Lia turuti.


Junius memilih tidur sembari memunggungi Lia. Dia hanya mencium kening Lia dan mengucapkan selamat malam, tidak lupa juga mematikan lampu kamar dan menutup pintu. Melihat suaminya melipat kedua tangan di depan badan membuat Lia gemas bukan main. Dia menyelipkan tangannya di ceruk leher Junius kemudian meminta suaminya berbalik arah. Begitu Junius berbalik arah, Lia langsung menenggelamkan Junius ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Maaf ya sayang aku belum bisa kasih yang kamu mau malam ini, aku cuma nggak mau kamu ketularan. Kuharap aku peluk begini sudah cukup," kata Lia sembari mengelus kepala suaminya.


"Nggak cukup sih tapi nggak papalah, yang penting sama kamu. Apapun pasti jadi menyenangkan," kata Junius sembari menyamankan posisinya dalam pelukan hangat Julia Oktaviana.


__ADS_2