Ours In Another Story

Ours In Another Story
38. Kesibukan Masih Berlanjut


__ADS_3

Ketika itulah Nafiza terbangun mencari ibunya. Dia merengek dan langsung minta digendong oleh Rere. Terpaksa, mau tidak mau Nafiza akhirnya tidur dalam gendongan Rere sementara dia bekerja menyelesaikan pekerjaannya. Tangan kirinya menopang tubuh Nafiza, sedangkan tangan kanannya terus menggoreskan garis di buku sketsa.


“Han, ini polanya udah aku buat sekaligus ukurannya. Tolong besok kamu cutting, sekalian dicicil ya. Ini di setiap design sudah aku kasih nama client sama deadlinenya. Maaf banget aku pulang duluan ya, kalian kalau mau lembur jangan sampai lebih dari jam 11. Badan kalian juga butuh istirahat,” kata Rere.


"Terus mbak rapatnya?" tanya Dwi.


"Besok aja," jawab Rere.


“Siap mbak, makasih. Hati-hati di jalan mbak,” jawab Hanna diikuti dua yang lainnya.


Rere memilih duduk di belakang memangku Nafiza sedangkan Jevan kini mengendarai dengan pelan agar tidak mengganggu tidur pulas putrinya. Jevan lebih dulu mampir ke salah satu penjual bakso dan membeli 2 porsi untuk mereka makan malam. Sampai di rumah, Rere dan Jevan dengan perlahan menidurkan Nafiza lalu mengganti pakaiannya dengan piyama tidur. Tadinya anak ini sempat merengek, tapi begitu mendengar suara Papanya dia bisa kembali tidur.


Rere lebih dulu melangkah masuk ke kamar mandi dan secepat kilat membersihkan seluruh badannya yang lengket karena keringat. Dia benar-benar lelah hari itu. Mereka bahkan baru mendarat dari Bali kemarin dan hari ini keduanya langsung bekerja keras menyelesaikan semua pekerjaan yang sempat tertunda. Jevan juga sudah selesai mandi ketika Rere selesai menata makan malam untuk keduanya. Selesai makan, Rere menuju ke rak di bawah tv dan meraih kotak obat yang selalu dia letakkan di sana. Dia menelan satu butir Paracetamol kemudian menghabiskan segelas air langsung menuju ke kamar untuk tidur.


“Mas, mangkoknya tinggal aja biar kuberesin besok. Ayo tidur aja sekarang, aku udah ngantuk,” kata Rere.


Jevan menurutinya. Dia kemudian meraih kotak obat yang sama, mencari dua lembar koyo dan meminta tolong pada Rere untuk memasangkannya baru mereka pergi tidur.


Hari berikutnya, kesibukan pagi yang sama selalu terjadi. Hanya Rere yang bertugas mengantar Nafiza hari ini sedangkan Jevan ganti yang harus menjemputnya siang nanti. Terkadang kesibukan kedua orang tua Nafiza memaksa gadis kecil itu jauh dari mereka, tapi dia pernah diberi tahu oleh nenek kalau dia harus belajar untuk mandiri jadi dia sudah tidak lagi protes jika saja orang tuanya tidak bisa menemani dia ke sekolah.

__ADS_1


Rere sedang duduk di depan mesin jahit ketika dia teringat belum memberi tahu suaminya soal jadwal sekolah Nafiza padahal dia mendengar deru mobil suaminya yang berjalan keluar dari tempat parkir sudah sejak beberapa menit lalu, “halo Pa? Aku lupa kasih tahu, ini hari Rabu. Biasanya kakak ngaji dulu sepulang sekolah, jadi pulangnya bisa lebih siang,” kata Rere melalui telepon.


“Nggak papa Ma, Papa tungguin. Ketimbang nanti kakak bingung nunggu jemputan. Kerjaanku nggak sebanyak kemarin. Ini aku mau taken kontrak setelah itu cuma nyelesain deadline di kantor. Mama jadi mau ikut makan siang bareng kan?”


“Jadi, nanti Mama nyusul ya. Habis dari Beringharjo Mama langsung ke lokasi.”


“Ok.”


Seharian ini Rere hanya fokus pada pekerjaannya. Mendekati jam makan siang dia kembali pergi, kali ini dia perlu mencari bahan untuk pesanan kakaknya sendiri. Katanya Mas Reno dan Mbak Tiara mau kondangan di tempat tamu penting 2 minggu lagi, Mbak Tiara minta tolong sama Rere untuk membuatkannya baju untuk Reno, Tiara, Carisa dan Kania. Yang namanya Rere, mana bisa menolak, lagi pula Mbak Tiara ini tidak sembarang minta tolong. Mbak Tiara akan bayar sesuai dengan ongkos yang sudah seharusnya jadi dia tidak begitu merasa kerepotan. Paling-paling hanya minta diskon dan akhirnya Rere hanya minta Mbak Tiara membayar biaya modal bahan tanpa ongkos jahit.


“Assalamualaikum mbak Rere?” sapa Lia ketika mendapatkan telepon dari iparnya.


“Waalaikumsalam Lia, yang jemput Abi hari ini kamu kan?”


“Waduh, berarti mereka berdua bakal dikerubungi ibu-ibu lagi dong?” kata Rere sambil tertawa.


“Biarin biar tahu rasanya. Habisnya triple J kebanggaan Mama Tiwi itu suka banget tebar pesona. Aku sendiri heran kenapa mereka nggak kerja jadi model aja, kan sukanya tebar pesona,” kata Lia. Kalimat barusan membuat Rere memiliki ide yang sedikit gila tapi tidak ada salahnya juga untuk dicoba.


“Yaudah Li, nanti biar aku yang bilang sama Mamanya Cinta aja. Tapi bener ya besok Kamis kamu bantuin aku belanja dulu, sekalian masaknya di rumah aku nggak papa nanti aku yang bilang di grup.”

__ADS_1


“Santai mbak, aku juga udah bilang sama Ayahnya Abi kok. Besok sekalian nganter Abi ke sekolah dia bakal nganter ke rumah Mbak, tapi maaf nih si kembar aku bawa ya.”


“Nggak papa banget, aku juga udah kangen sama kembar.”


“Siap, yaudah ya mbak aku mau lanjutin motong sayuran nih, semangat kerjanya Mbak cantiknya Mas Jevan,” kata Lia.


“Makasih dek, semangat juga permaisurinya Junius,” kata Rere kemudian menutup sambungan telpon.


Selesai dengan obrolannya bersama Lia, dia tiba-tiba mendapatkan telpon dari Monik. Tidak biasanya sahabat rangkap iparnya satu itu akan menelpon di jam segini, jam-jam krusial di mana dia tahu Monik akan sibuk dengan semua pekerjaan rumahnya sebelum menjemput Tirta dan Genta dari sekolah.


“Rere…,” begitu Rere menerima telepon, Monik langsung menangis.


“Loh Mon, kamu kenapa kok nangis sih?” Rere mengurungkan niatnya untuk pergi karena sepertinya sahabatnya ini lebih membutuhkan dirinya sekarang.


“Re, lagi sibuk nggak? Aku mau curhat.”


“Nggak Mon, curhat aja. Ada waktu sampe jam makan siang, kenapa hey kok kamu nangis. Nggak biasanya,” kata Rere yang khawatir.


“Re, aku capek sama kelakuan suamiku. Dia makin kesini makin cuek, kaya bodo amat juga, kalau di rumah dia jadi jarang main sama anak-anak, udah gitu sibuk terus di kamar. Padahal kan aku nggak minta banyak. Kasian Tirta sama Genta kangen Ayahnya. Semalem dia juga bentak aku, padahal kan aku cuma ngingetin,” kata Monik sambil tersedu.

__ADS_1


“Ngebentak gimana? Ada masalah apa sih Mon? Kok kayanya Mas Jev juga nggak cerita apa-apa soal Jovan.”


“Jovan tuh nggak tahu sejak kapan jadi sering banget di datengin cewek sialan itu. Dia yang aku bilang kurang bahan itu loh. Dia tuh bener-bener ngebet banget mau dikasih posisi sama Jovan. Dia dateng tiap hari dong. Sebenernya aku nggak masalah, tapi ternyata aku nggak kuat juga, karena Jovan beberapa kali kupergoki bales chat dari dia juga. Bukan cuma itu yang bikin aku lebih nggak tahan itu ada satu rekan kerja dia di kantor yang agak jahil. Pernah beberapa kali ada nomor nggak dikenal ngirimi aku foto Jovan di pub, main sama cewek ****** lah apa lah. Tapi Jovannya dikasih tahu nggak paham. Dia nggak mau dengerin kata-kataku,” kata Monik.


__ADS_2