Ours In Another Story

Ours In Another Story
60. Jevando yang Kacau


__ADS_3

"Nggak bisa Haidar, kalau kamu nggak ada kerjaan bakal banyak yang keteteran. Kalau kamu cuti yang ngurus percetakan siapa? Mau kamu back up-in ke siapa? Nek kamu mau nekat boleh silahkan, kamu cuti nikah bablas cuti tahunan tapi ketika kamu balik kerja siap-siap terima SP II," kata Jevan kemudian dia meminta Haidar untuk keluar dari ruangannya dan menyisakan Cedar yang kembali masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Bos hari ini nggak ke kantor?" tanya Cedar sembari membawakan segelas teh hangat.


"Ntar habis jam makan siang."


"Bos, aku mau bilang sesuatu. Kinerja Haidar agak menurun beberapa bulan ini," kata Cedar.


"Sudah kelihatan. Bisa sampai ada kasus komputer kena virus segala macem. Dia sebenernya punya masalah apa sih? Ngabari mau nikah juga mendadak banget kayanya," tanya Jevan.


"Anu, ini tapi rahasia ya Bos. Jadi gini, Haidar itu kan tadinya punya pacar tapi pacarnya itu selingkuh. Nah karena patah hati, dia akhirnya minum dan dalam kondisi mabuk itu dia sudah niduri seorang cewek sampai hamil makanya dia minta nikahnya dadakan, karena dia married by accident," kata Cedar setengah berbisik.


"Soal cewek lagi. Heran aku sama kalian-kalian. Mau sampai kapan aku kehilangan karyawan cuma perkara cewek?! Konyol tau nggak?" kata Jevan yang sudah geram. Entah kenapa emosinya terasa tidak bisa dikendalikan. Rasa-rasanya dia ingin sekali membanting meja kerjanya demi bisa meluapkan emosinya.


Ketika itulah Rere melangkah masuk. Niat hati dia mau mengawasi kerja karyawan Jevan karena dia pikir suaminya itu sudah berangkat ke kantor Papa tapi ternyata masih ada di dalam ruangannya, marah-marah lagi.


"Papa masih di sini? Aku pikir sudah berangkat," kata Rere sambil berjalan mendekat.


"Hmm."


Jevan bahkan setengah hati menjawab istrinya, bagaimana Cedar tidak takut? Dia hanya mengatakan pada Rere kalau Jevan sedang marah. Cedar yang takut meminta bantuan Rere untuk meredam emosi kemudian dia memilih untuk pergi dari ruangan bosnya. Setelah pintu ruangan Jevan kembali tertutup, Rere berjalan kembali mendekati Jevan. Dia berusaha meraih tangan suaminya kemudian menenggelamkan kepala Jevan dalam dekapannya.


"Kalau capek istirahat Papa, bukan marah-marah," kata Rere.


"Siapa juga yang nggak sebel Ma? Tingkah anak-anak konyol banget tahu nggak. Sudah dikasih hati masih minta jantung," kata Jevan.


"Pa, udahan marah-marahnya, yang di sini ikut tegang lho," kata Rere kali ini dia bawa tangan suaminya dan dia tempelkan di atas perutnya yang terasa kaku sejak pagi tadi. Mau bagaimana pun, kesehatan mental kedua orang tuanya akan berpengaruh. Sedangkan Rere cenderung ikut panik jika suaminya sedang panik dan akan ikut gelisah jika suaminya sedang gelisah. Jadi wajar saja kalau si kecil jadi ikut merasakan apa yang ibunya rasakan.


"Istighfar dulu coba," kata Rere lagi.


"Astaghfirullahaladzim, maaf Papa marah-marah," kata Jevan.

__ADS_1


Rere tersenyum, dia kemudian berusaha melepaskan pelukan untuk bisa menatap suaminya tapi Jevan menahan tangan Rere agar tidak melepaskan pelukannya, "bentar cantik, jangan dilepas dulu."


Rere urung untuk melepaskan pelukannya karena kini Jevan melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Rere. Kepalanya tetap dia letakkan di dada istrinya karena dia memang sedang membutuhkan sandaran saat ini. Kalau boleh berkata jujur, Jevan melemah akhir-akhir ini. Karena menumpu banyak beban keluarga besarnya ditambah dia masih harus mengurus keluarga kecilnya dia jadi merasa lelah bukan hanya fisik tetapi juga hatinya. Rere juga merasa jika Jevan akhir-akhir ini lebih sensitif dibanding biasanya.


"Kepalamu berasap Mas," kata Rere sambil mengelus kepala Jevan.


"Di dalemnya sudah berapi malah," jawab Jevan.


Rere mencium ujung kepala suaminya kemudian dia berucap, "Aku tahu kamu capek. Terbeban sama pekerjaanmu, di tambah masalah di kantor Papa. Belum lagi aku sama Nafiza di rumah, itu juga kan alasanmu sampai minta Haikal ngajak aku pergi kemarin," kata Rere membuat pelukan mereka terlepas.


"Maaf banget ya cantik, lagi-lagi kamu sama anak-anak yang aku korbankan," kata Jevan.


"Bukan dikorbankan. Kalau aku terpaksa menjalaninya itu baru disebut berkorban. Tapi kan aku menjalaninya dengan senang hati, suka-suka aja aku. Dibanding pengorbanan aku lebih seneng menyebutnya dengan pengabdian. Lagian kamu juga selalu memastikan kebutuhanku sama anak-anak lebih dari cukup baik secara lahir maupun batin. Kamu nggak perlu merasa bersalah, Nafiza juga paham kok kalau Papa Mamanya kerja ya buat dia," kata Rere.


"Tuh kan istriku pinter banget bikin suasana jadi melow," kata Jevan.


"Habis kamu kalau nggak dibikin melow nggak akan dengerin."


"Nggak ada hubungannya," kata Rere kemudian menjauhkan dirinya dari Jevan.


"Papa, kalau belum mau ke kantor temenin jemput Nafiza ya," kata Rere yang sudah berdiri di depan pintu.


"Ya...," kata Jevan sambil tersenyum kemudian beranjak berdiri menyusul istrinya yang sudah lebih dulu keluar dari ruang kerjanya.


***


"Kakak mandinya jangan kelamaan kamu nanti kedinginan lho," teriak Rere dari arah dapur.


"Iya Mama..., kakak lagi pake sabun," jawab Nafiza.


"Papa...," kali ini ganti Jevan yang diteriaki oleh Rere.

__ADS_1


"Pa...? Papa tidur lagi ya?" tanya Rere lagi karena suaminya tidak kunjung menyahut.


"Astagfirullah Papa! Bangun ih udah siang ini katanya mau ada rapat pagi ini gimana sih. Papa...!" Rere menemukan suaminya itu kembali bergulung di balik selimut dan kembali memejamkan matanya padahal tadi Rere tahu dia sudah bangun dan sholat.


"Hmm, bentar. Lima menit lagi," jawabnya.


"Mas Jev ini sudah jam berapa kamu nih katanya jam 8 ada rapat di kantor. Kamu juga harus anter aku sama Nafiza dulu. Bangun kenapa sih, jangan batu dong perutku sakit ini buat teriak-teriak," kata Rere.


"Ya jangan teriak-teriak dong Ma kalau sakit," kata Jevan entah sadar atau tidak dia bicara begitu.


Rere langsung mengambil ancang-ancang. Dia meraih bantal di sisi kanan suaminya tidur kemudian dengan brutal dia pukuli suaminya dengan bantal itu sambil satu tangannya memegangi perutnya, "Jevando kalau kamu kaya gini terus gimana aku nggak marah-marah. Bangun...! Kalau kamu sampai telat bukan kamu yang rugi tapi perusahaanmu yang merugi. Kamu janjian sama orang penting tapi kok nggak serius gini sih."


"Apa sih aku masih ngantuk cantik, lagian ini masih jam...," Jevando langsung terdiam ketika Rere menunjuk jam dinding di seberag tempat tidur dan dengan emosinya.


"Bajing wis jam setengah 7...!" teriak Jevan begitu dia menyadari dia sudah kesiangan.


Jevan langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi. Sedangkan Rere hanya bisa geleng-gelengĀ  kemudian melangkah ke lemari untuk membantu mengambilkan pakaian bersih untuk Jevan juga menyiapkan jasnya. Dia meletakkannya di atas tempat tidur kemudian keluar untuk ganti memastikan putrinya sudah selesai mandi dan mulai sarapan.


10 menit kemudian Jevan ikut melangkah keluar dari kamar sudah rapi mengenakan kemejanya. Rere menghentikan sejenak acara makannya hanya agar dia bisa membantu suaminya memakai dasi baru dia kembali makan bersama Jevan dan Nafiza.


"Mama nanti kakak mau ke rumah nenek boleh ya?" tanya Nafiza ketika ibunya meraih sisir dan karet rambut untuk menguncir rambut hitam panjang Nafiza.


"Tapi Nafiza nanti sore ada les lho sama om Haikal," kata Rere.


"Kemarin Om Haikal bilang lesnya hari ini boleh di rumah nenek aja. Nanti Abi juga mau ke sana sama tante Lia," kata Nafiza.


"Berarti nanti pulang sekolah Nafiza Mama anter sekalian ke rumah nenek aja ya."


"Iya Mama," kata Nafiza.


"Kalau sudah selesai sarapannya berangkat yuk," kata Jevan diiyakan oleh Rere dan Nafiza.

__ADS_1


__ADS_2