
Sekretarisnya sudah mulai melangkah keluar. Jovan kini kembali seorang diri di dalam ruangannya. Dia meletakkan pulpen yang sedari tadi digenggamnya dan memilih untuk scrolling instagram mencari ide hampers yang sedang hits di kalangan anak muda sebagai kado untuk Monika. Merasa tidak mendapatkan ide, dia memutuskan menelpon Jevan kembarnya, biasanya anak itu lebih pintar kalau soal menyenangkan istri.
“Ya suka-suka sih. Kalau cantikku lebih seneng diajak kulineran ketimbang shopping atau dibelikan hadiah. Tapi Monik kan nggak gitu. Ya lagian kamu tuh udah sama Monik berapa lama cuma nentuin kado ultah aja sampe tanya sana-sini?” kata Jevan.
“Habis bingung aku. Monik tuh kalau ada butuh apa-apa nggak pernah minta. Mandiri banget dia, mau kutawarin butuh beli apa juga dia selalu jawab nggak butuh apa-apa. Orang punya penghasilan sendiri juga,” curhat Jovan.
"Emangnya cantikku nggak punya penghasilan sendiri? Dia duitnya lebih banyak dari aku lho by the way. Makanya kalau punya istri tuh jangan dibiarin terlalu mandiri. Hilang dong pamornya kamu jadi suami," kata Jevan membuat Jovan terdiam. Kalau dipikir-pikir benar juga. Dia terlalu membebaskan istrinya hingga dia seakan tidak dibutuhkan lagi oleh Monika.
“Kado ultah nggak melulu soal apa yang dia butuhin kali Jo. Coba kamu beliin lingerie, kali aja dia jadi seneng. Kalau dia pake kan kamu kecipratan seneng juga.”
“Bocah sableng. 5 menitku yang berharga terbuang sia-sia tau nggak. Kupikir kamu bakal kasih saran yang bener. Nyebelin banget sih Je.”
“Ampun bos, canda elah serius amat hidup. Ya terserah kamu aja Jo, kasih sesuatu yang berarti nggak harus berwujud barang. Maybe ngajak dia kencan, makan malam romantis, atau apalah aku yakin dia nggak akan nolak. Lakukan sesuatu yang out of the box. Yang nggak biasanya kamu lakukan. Biar bisa jadi surprise terbaik buat dia yang penting bukan seberapa mewahnya tapi seberapa tulusnya. Itu udah berarti banget buat dia.”
Ide brilian. Ok fiks Jovando akan mengajak Ibu Negaranya untuk kencan besok. Pas sekali agenda kerjanya kosong besok malam. Sepertinya mengajak Monik makan malam romantis di resto berbintang bisa jadi opsi yang menjanjikan. Mumpung lagi ada orang tua Monik juga sedang berkunjung jadi anak-anak ada teman di rumah.
__ADS_1
Jovando malam itu pulang sambil membawa sekotak donat untuk anak-anak dan beberapa gelas vanilla latte pesanan Monik. Tirta dan Genta sedang asik belajar ditemani eyang uti, sedangkan Monik masih mencuci piring di dapur. Jovando langsung menyusul Monik setelah menyapa anak-anak sebentar. Dia mengeluarkan setangkai mawar merah untuk Monik dan mencium pipinya sambil mengucap selamat ulang tahun.
Walau sudah bukan umurnya tapi kejutan-kejutan kecil seperti ini selalu Monik terima dengan senang hati tanpa protes sedikitpun. Lagi pula Jovan tidak pernah berlebihan ketika memberikan surprise, ala kadarnya saja asal Monik sudah senang. Jovan benar-benar mengajak Monik makan malam romantis besok, dan berniat menitipkan anak-anak pada ibu mertuanya untuk beberapa jam. Dia berniat memberikan me time untuk Monika yang dia yakin pasti lelah sudah menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya.
Hari berikutnya Jovan masih bekerja seperti biasa, sibuk dengan berkas ini dan itu juga laporan yang menggunung memenuhi mejanya. Demi menyelesaikan pekerjaannya sebelum maghrib, dia sampai harus menyogok sekretarisnya untuk mau bekerja lembur bersamanya hari ini. Walaupun permintaannya agak ngelunjak tapi ya sudahlah, ketimbang sekretarisnya itu jadi bujang lapuk karena gagal kencan weekend besok kasihan juga.
“Hallo Bun?” Jovan segera mengangkat telepon yang datang dari Monik.
“Ayah, Bunda kesananya setelah ashar kecepetan nggak? Sekalian mau belikan pesanan Mama soalnya. Nanti Ayah nggak usah jemput ke rumah, Bunda aja yang ke kantor,” kata Monik.
“Semangat Ayah…,” kata Monik.
“Semangat Bunda, kamu hati-hati di jalan ya.”
Hanya begitu telepon dimatikan dan Jovan kembali berkutat dengan segala analisa kerja pegawai yang berjubel. Serangkai, dua rangkai, hingga beranak-pinak menjadi paragraf yang berlembar-lembar banyaknya. Sudah biasa Jovan mengerjakan semua ini. Padahal kedua saudaranya ahli desain tapi entah kenapa dia sama sekali tidak bisa kalau harus mengikuti jejak yang sama.
__ADS_1
Padahal dulu dia sempat bermimpi ingin menjadi pelukis, hanya karena gambarnya dipuji oleh Mama. Untung dia sadar dia tidak berbakat di bidang itu dan segera menemukan jalan menuju mimpinya yang sesungguhnya hingga berakhirlah dia di sini, di balik meja menyeruput kopi yang tersisa separuh di cangkir yang sudah sedingin AC ruangan Jovan.
Adzan sudah mulai berkumandang, Jovan menjeda pekerjaannya dan duduk diam mendengarkan Adzan baru setelahnya dia melangkah menuju mushola di lantai 1 untuk ikut sholat berjamaah yang biasa di imami oleh Pak Ahmad, satpam kantor. Selesai sholat, Jovan menyempatkan waktu untuk mengecek pekerjaan bawahannya baru kembali masuk ke dalam ruangannya untuk bersiap menyambut Ibu Negaranya tercinta yang sebentar lagi akan datang.
Wajah Jovan masih berseri ketika dia menggoda Rafael yang kalang kabut karena panik mencari handphonenya padahal sedari tadi ada di saku dada. Baru saja dia akan melangkah lebih jauh, dia melihat satu siluet yang tidak seharusnya ada di sana. Bayangan seorang gadis berbaju merah terang terlihat sedang duduk di sofa dalam ruangan Jovan yang sebagian dindingnya terbuat dari kaca.
Jovan masih sanggup berpikir positif walau di dalam hati dia sudah merasa was-was. Gadis itu membawa sebuah map berwarna merah yang entah kenapa baunya menyengat seperti sengaja disemprot parfum. Jovan tidak menoleh, bahkan melirik pun tidak. Matanya benar-benar tertuju hanya pada proposal yang dibawa oleh gadis itu tanpa menyadari jika wanita di hadapannya ini mulai duduk di atas meja sambil menyilangkan kakinya.
Jovan baru menyadari posisi tidak menyenangkan ini ketika mendengar Monika memanggil namanya dari arah pintu. Tangan Monika mengerat seperti berusaha meremukkan gagang pintu yang digenggamnya, namun sedetik kemudian dia mengulum senyum manis pada gadis di hadapan Jovan ini.
“You're here to work or flirt with someone's husband?” tanya Monik masih kalem.
“Who are you?” bukannya takut gadis ini malah bertanya.
“Me? Monika Arum Sari. The wife of the person you just seduced. Go away before I call the security to kick you out,” kata Monika masih dengan nada yang ramah. Rafael dari mejanya mendengar keributan itu membuatnya menerobos masuk, menyeret gadis aneh itu keluar meninggalkan bosnya yang sedang berdiri di ambang kematian.
__ADS_1
“Bun…,”