
Jevan hanya mampu diam mendengar kabar jika saudara kembarnya berada di kantor polisi. Di sebelahnya Rere dan Nafiza tengah asik mewarnai. Belum sampai hati Jevan mengatakan kabar ini pada Rere yang dia lihat masih sering mual-mual dan demam. Dia juga belum sanggup melakukan banyak hal karena perubahan tubuhnya yang harus beradaptasi menerima si janin dalam rahimnya. Tapi yang namanya Reva Aulia, perasaannya begitu peka. Dia tahu jika suaminya tengah merasakan sesuatu.
“Mas, kalau kamu mau pergi ya pergi aja. Bantu kembaranmu buat menyelesaikan masalahnya. Dia juga pernah bantu kamu buat nemuin aku lho. Bantu Mas. Dia butuh dukungan keluarganya,” kata Rere.
“Kamu nggak mau dengar masalahnya apa? Kamu nggak Mas ceritain sama sekali tapi kamu sudah seyakin itu biarin Mas pergi?”
“Nggak perlu Mas cerita aku sudah tahu. Seharian ini kamu ada di rumah padahal kamu bilang kamu mau ngantar Monika ke rumah kerdua orang tuanya. Kalau aku boleh saran akan lebih baik kamu temani Monika ke Singapura. Bantu Monika dan Jovan. Setelah kamu antar Monika ketemu sama suaminya kamu pulang. Aku nggak akan nunggu kapan kamu pulang yang penting masalahnya selesai dulu. Kalau aku tahan kamu tetap di sini, kasihan nih yang di perut. Bukan cuma Mamanya tapi Papanya, kalau perasaanmu tegang terus kaya gini perutku jadi ikut kenceng terus,” kata Rere sambil membawa tangan Jevan dan meletakkannya di atas perutnya.
Jevan memeluk istrinya, juga memeluk Nafiza yang tidak terima karena tidak ikut masuk ke tengah-tengah orang tuanya. Ketika itu juga akhirnya Jevan pamit pada Rere dan Nafiza juga pada Papa dan Mas Reno jika dia akan pergi ke Singapura mengantar Monika. Papa Dirga memberi izin pada menantunya dan meminta Jevan untuk berhati-hati. Bagaimanapun juga dia meninggalkan istrinya yang tengah hamil di sini jadi Papa minta pada menantunya itu apapun yang terjadi dia harus segera kembali.
“Cantikku, Permatanya Papa, kalian berdua baik-baik di sini ya. Papa pergi dulu, assalamualaikum,” kata Jevan.
"Waalaikumsalam. Hati-hati Mas, kamu lagi bantuin orang tapi ingat juga soal keselamatanmu. Jangan pernah bergerak sendirian. Kalau kamu butuh bantuan apapun kabari kami yang ada di sini," kata Rere sembari menerima pelukan dari Jevan.
Jevan segera menuju ke rumah Papa, dengan perlahan dia mengatakan pada Monika tentang kondisi Jovan di Singapura. Di luar dugaan, Jevan kira Monika akan menangis begitu keras mendengar kondisi suaminya, tapi nyatanya dia malah langsung meraih jaket dan mengganti pakaiannya bersiap untuk pergi.
__ADS_1
"Kita ke Singapura sekarang. Jev, pesankan aku tiket ke Singapura dengan penerbangan paling cepat. Berapapun biayanya akan aku ganti begitu kita sampai di sana," kata Monika.
"Itu perkara gampang. Aku akan ikut, aku nggak yakin kamu bisa menyelesaikannya sendirian. Jadi, izinkan aku membantumu di sana. Jovan kembaranku Mon. Jauh sebelum dia kenal sama kamu dia selalu sama-sama aku. Aku nggak mau kakak kembarku kenapa-napa," kata Jevan.
"Makasih ya Jev. Maaf sudah merepotkanmu. Aku janji akan selesaikan masalah ini segera biar kamu bisa segera pulang dan kembali fokus sama anak istrimu," kata Monika.
Jevan dan Monika langsung memesan taksi, lebih dulu mereka berpamitan pada Mama namun Mama tidak secara langsung mereka beri tahu. Junius yang Jevan minta memberi tahu Mama perlahan sedangkan Jevan dan Monika sudah melangkah memasuki pesawat yang akan membawa mereka ke Singapura.
“Mon, kamu yakin nggak papa?” tanya Jevan ketika keduanya sudah duduk tenang di dalam pesawat.
“Aku jelas kenapa-napa. Tapi apakah menangis mampu membuat masalah selesai? Nggak Jev. Jovan butuh aku buat menguatkan dia. Kalau aku nangis gimana aku bisa kasih dia dukungan,” kata Monika membuat Jevan tidak habis pikir ada ternyata wanita sehebat menantu-menantu keluarga Kusuma ini.
"Nggak semua perempuan melampiaskan emosinya dengan menangis Jev."
"Benar juga. Mungkin karena aku sudah lama hidup bersama cantikku makanya aku menganggap jika tangisan perempuan adalah cara mereka menenangkan hatinya," kata Jevan.
__ADS_1
"Kamu nggak sepenuhnya salah. Hanya saja timingnya nggak pas untukku hanya duduk diam dan menangis. Setiap detikku berharga sekarang. Aku harus kuat untuk menjadi tameng buat suamiku," kata Monika.
"Makasih Mon, makasih kamu sudah memberikan cinta yang begitu besar buar Jovan. Aku khawatir banget, kalau tanpa kamu dia nggak akan bisa melakukan apapun. Dia ambisius dan terkadang tidak menyadari kerikil di jalannya. Jadi kuharap kamu akan terus menjadi matanya dan memberi tahunya agar dia tidak tersandung ketika sedang berlari," kata Jevan.
"Fungsinya istri untuk apa sih kalau bukan untuk mendampingi dan mendukung keputusan suaminya?" kata Monika sembari tersenyum.
Jevan pikir begitu mereka sampai di Singapura Monika akan meminta sekretaris Jovan ini mengantar mereka ke kantor polisi. Nyatanya dia malah memintanya mengantar mereka ke rumah. Jevan hanya mengikuti apapun yang dilakukan Monika. Rere bilang padanya jika Jevan harus percaya Monika bisa menyelesaikan perkara Jovan seorang diri. Dia hanya bertugas untuk memastikan Monika bertemu dengan suaminya dan aman dalam segala langkahnya, tidak lebih.
“Ini ada berkas-berkas yang mungkin menguatkan nama Bapak. Saya hanya perlu beberapa berkas pendukung. Apakah saya bisa meminjamnya dari kantor sekarang juga?” tanya Monik pada sekretaris Jovan.
“Tentu saja, mari saya antar.”
Monika dan Jevan di antar ke kantor Jovando. Di sana kondisinya sedang heboh karena desas desus antar karyawan. Monika sempat mendengar salah satunya. Dia dengar mereka sedang membicarakan Jovan yang ditangkap oleh polisi.
“Bu Monika, maaf mengganggu. Saya hanya ingin bilang, kalau saya percaya Pak Jovan tidak melakukan sesuatu seperti itu. Kami mendukung Pak Jovan, Bu. Pak Jovan itu pemimpin yang baik, beliau tidak pernah membeda-bedakan karyawan. Selama saya bekerja dengan Bapak belum pernah saya menerima murka beliau sebesar apapun kesalahan yang saya buat. Jika Bu Monika butuh saya untuk bersaksi saya siap Bu, saya akan mendukung Pak Jov hingga akhir,” kata salah satu karyawan sebelum Monika hilang di balik pintu lift.
__ADS_1
“Terima kasih atas dukungannya. Saya apresiasi usaha anda sekalian. Saya mohon doanya yang terbaik untuk suami saya,” kata Monika kemudian menunduk 90 derajat pada para karyawan Jovan yang begitu setia pada pimpinannya.
Di dalam lift Monika terdiam sedangkan Jevan di belakangnya terus mengamati bagaimana iparnya ini sebenarnya sudah terseok tidak mampu berjalan tapi masih memaksakan diri melangkahkan kaki demi suaminya yang sedang menanti bantuannya di ujung jalan. Diam-diam Jevan menghela nafasnya dan berdoa berharap kondisi keluarga Jovan saudara kembarnya akan segera membaik dan bisa harmonis seperti semula.