Ours In Another Story

Ours In Another Story
16. Bertengkar


__ADS_3

“Hahaha, very funny Jov. Kadonya indah banget,” kata Monika. Tanpa ekspresi dan tanpa nada. Kalimatnya terdengar begitu pasrah dengan penuh kesedihan dan kehancuran. Hal semacam ini bukan yang pertama kali terjadi. Monika juga tahu itu, tapi sepertinya semesta sedang tidak berpihak padanya. Monika langsung berlari keluar tanpa mendengar penjelasan apapun dari Jovan. Untung reflek Jovan bagus jadi tidak sampai Monika keluar dari kantor Jovan berhasil meraihnya dan membawa Monik kembali ke ruangannya.


“Bunda…, dengar dulu ayah mau ngomong.”


“Mau ngomong apa? Baru kemarin sore lo kamu nyenengin aku. Baru kemarin sore kamu bikin aku terbang, sekarang dengan santainya kamu jatuhin gitu aja. Sakit Jov,” kata Monik.


“Bunda, jangan panggil aku kaya gitu….”


“Kenapa? Cuma karena aku nggak manggil kamu kaya biasanya terus kamu mau protes gitu? Kamu sadar nggak sih kamu habis bikin kesalahan?” Monik sudah tidak kuasa, kini dia mulai menangis.


“Bunda, Ayah nggak tahu dia siapa. Ayah nggak tahu dia datang dengan maksud apa, ini bukan pertama kalinya kan Bunda, jangan marah dong Ayah takut,” kata Jovan masih berusaha membujuk Monik.


“Kamu udah tahu ini bukan kali pertama tapi masih aja kamu terima. Kamu jujur deh sama aku, kamu juga seneng kan dapet tamu cantik kaya gitu? Wajar Jov, kamu laki-laki. Lihat istrimu sudah nggak cantik di rumah kamu pasti cari yang lebih di luar kan?”


“Astaghfirullah Bunda, kok bisa mikir gitu sih? Ayah nggak pernah suka dapet tamu nggak jelas kaya gitu.”


“Udahlah, aku mau pulang aja.”


Monik tanpa ampun melangkah keluar dari ruangan tanpa mampu dikejar oleh Jovan. Sekujur tubuhnya sudah keringat dingin. Monika yang ceria dan penuh tawa kalau marah memang bisa seseram ini, dan untuk kali ini marahnya dia benar-benar serius. Tanpa pikir panjang Jovan meraih kunci mobilnya dan sesegera mungkin menyusul Monika. Sayangnya Monika tidak sebodoh itu. Dia saat ini sudah menaiki sebuah taksi dan mulai melaju meninggalkan kantor Jovan. Jovan berlari menuju mobilnya dan menyusul Monika yang untungnya pulang ke rumah dan tidak pergi ke tempat aneh-aneh.


Monika mengunci pintu kamar membuat Jovan tidak mampu masuk. Mau sekeras apapun dia mengetuk pintu Monik tidak memiliki niat sedikitpun untuk membukakan. Bodohnya dia tidak memperkirakan keberadaan kedua putranya hingga dia sadar ketika keduanya sudah menangis mencari perlindungan dengan utinya yang juga sama bingungnya.


"Jov, ada apa? Kenapa?" tanya ibu mertuanya.


"Maaf Mam, titip anak-anak sebentar," kata Jovan.

__ADS_1


Mendengar itu membuat Uti membawa kedua cucunya menjauh dari tempat perkara. Kasihan Tirta dan Genta yang masih kecil takut mendengar amarah ayah bundanya. Jovan berusaha menggedor pintu lagi tapi sedetik kemudian Monika membukanya dan langsung menuding ke arahnya dengan mata yang begitu penuh dengan kemarahan.


“Berani ya bikin anak-anak nangis?! Keluar Jov!” Monik semakin murka.


Tidak, alih-alih menurut Jovan justru mendorong Monika masuk ke dalam kamar hingga tubuh wanita itu terkunci di sudut kamar, “Mon, sekuat apapun kamu berontak kamu nggak akan bisa. Kamu tahu kan?”


“Lepasin Jovando!”


“Cukup teriak-teriaknya. Kamu tadi marahin aku karena bikin anak-anak nangis kan? Sekarang aku yang akan marahin kamu karena bikin mereka ketakutan.”


Diluar ekspektasi, Jovando justru sama murkanya. Dia menahan tubuh Monik semakin kuat ke arah dinding. Dengan mata yang menatap tajam dia mulai bicara, “Terserah kamu mau percaya atau nggak. Aku sudah ribuan kali bilang kalau aku nggak akan pernah punya yang lain selain kamu. Apa masih kurang terlihat selama ini? Kuterima apa adanya kamu sampai ke sifat terburukmu juga karena apa? Karena aku sayang sama kamu Mon, paham?”


Begitu saja kemudian Jovan melangkah keluar meninggalkan Monik yang mulai jatuh terduduk sambil menangis. Jovan meraih tubuh Genta dan Tirta lalu memeluk keduanya. Dia terus meminta maaf pada keduanya dan pada ibu mertuanya yang juga sama menangis. Suasananya mulai tenang menjelang malam. Tirta dan Genta juga sudah tenang tertidur dalam pelukan Jovan. Perlahan dia bangkit berdiri, membetulkan posisi tidur si sulung dan meletakkan bantal di punggung si bungsu.


Jovan mencoba melangkah kembali ke kamarnya dan menemukan Monik masih dengan posisi yang sama ketika dia meninggalkannya tadi. Jovan perlahan mendekat. Begitu dia berjongkok di hadapan Monik, dia langsung mendapat pelukan yang mendorongnya hingga jatuh terduduk. Untung ada tempat tidurnya yang jadi sandaran Jovan saat ini. Monik masih menangis dalam pelukannya, dia terus menangis dan hanya menangis. Jovan tidak berusaha mengatakan apapun, dia hanya membalas pelukan itu dan mengelus kepala Monik.


“Maaf hari ulang tahunmu jadi kacau, Bunda…,” kata Jovan setelah mengakhirinya.


“Dengan ayah ada di sini, masih sayang sama bunda dan anak-anak itu sudah lebih dari cukup,” kata Monik akhirnya bisa tersenyum.


“Belum lewat tengah malam. Selamat ulang tahun Bunda,” kata Jovan kembali mencuri satu kecupan di bibir Monik.


“Kadomu ada di atas sini Bun, mau di unboxing sekalian nggak?” tanya Jovan dengan nada mulai nakal sambil menepuk-nepuk kasur.


“Nggak ah, lagi ada tamu.”

__ADS_1


“Ho pantes ngeselin,” kata Jovan.


“Siapa?”


“Aku lah, masa kamu Bun. Kamu mah nggak pernah ngeselin, adanya ngangenin.”


“Dih gombalanmu kok jadi turun kasta si Yah? Habis minta saran ke Jevan pasti,” kata Monik yang sudah hafal dengan kebiasaan suaminya.


“Hehe…, iya…, Love you Mom,” kata Jovan yang sekali lagi mengecup bibir Monik tanpa ijin.


“Iya tau, love you too Ayah,” setelahnya Monika yang mulai nakal. Dia yang lebih dulu mencuri kecupan di bibir Jovan dan memulai permainan caturnya kembali.


Sementara itu dikediaman Jevando...


HACHIIIM~


"Papa kenapa?" tanya Nafiza karena Papanya sejak tadi bersin-bersin.


"Nggak tau tiba-tiba hidung Papa gatel," jawab Jevan.


"Perasaan rumah nggak lagi berdebu deh, Papa nggak lagi sakit kan?" kali ini istrinya yang bertanya.


"Nggak Mama. Paling karena aku dijulid Monik. Jojo kemarin minta saran kado ulang tahun buat Monik terus kukasih saran rada nyeleneh. Mungkin beneran dilakuin sama Jojo terus Monik ngata-ngatain aku," jawab Jevan membuat Rere ikut tertawa.


"Papa sih jahil banget jadi orang."

__ADS_1


"Bodo, ahahahaha...."


__ADS_2