Ours In Another Story

Ours In Another Story
55. Kesepakatan Antara Saudara


__ADS_3

"Maksudmu?" tanya Jevan balik.


"Mas Jov nggak lagi mencurigai Pak Haryo kan? Pak Haryo itu sahabat Papa dari jaman nama Papa belum besar. Dari jaman Kusuma Group belum sebaik ini. Pak Haryo yang temani Papa membangun semua ini. Kayanya nggak mungkin sih beliau dalangnya," kata Junius.


"Bener Jo, lagian kalau Pak Haryo dalangnya, ngapain juga manggil kita ke sini," kata Jevan menambahkan.


"Yang pertama kalian harus lakukan ketika mengusut masalah di kantor adalah menjadi objektif. Nggak peduli dia sahabat atau bahkan saudara, semua harus kalian anggap bersalah. Jadi penyelidikan bisa berjalan. Kita berdiri di tengah-tengah tepat di porosnya dan anggaplah semua sisi punya kesalahan, dengan begitu kita akan berhati-hati memilih rekan kerja dan mempercayakan sesuatu padanya," kata Jovan membuat Junius dan Jevan mengangguk.


Keberadaan Jovan di kantor memang baru setengah hari, namun sudah beberapa masalah mulai menemui titik terang. Jovan mampu bergerak cepat, bahkan masalah yang tidak mampu diselesaikan oleh Jevan dan Junius mampu dia tuntaskan. Pola pikir Jovan sungguh jauh berbeda dengan kedua saudaranya yang memang tidak begitu berpengalaman dalam dunia manajemen perkantoran seperti ini.


"Terima kasih Mas Jovan, saya tidak menyangka jika orang sibuk seperti anda akan membantu juga. Saya sangat berterima kasih," kata Pak Haryo.


"Sama-sama Pak, ini adalah perusahaan Papa. Mau bagaimanapun juga perusahaan ini sudah seperti saudara saya sendiri. Saya pasti akan membantu sekuat tenaga," kata Jovan.


Pak Haryo berpisah dari triple J. Jovan terlihat tenang dan dalam satu waktu dia tetap waspada pada sekelilingnya. Senyumnya mungkin ramah, tapi seperti ada berjuta pertanyaan di dalamnya. Belum pernah Jevan dan Junius melihat langsung bagaimana Jovando menyelesaikan pekerjaannya. Sekarang mereka mulai paham, kenapa karir kakak tertua mereka ini bisa dengan cepat naik. Pengetahuan dan ilmunya bisa berjalan selaras dengan pengalamannya. Dia kerahkan semua tenaganya untuk ini.

__ADS_1


"Pak Bejo masih di ruangannya kan?" tanya Jovan pada Jevan dan Junius beberapa saat setelah pak Haryo berlalu.


"Sepertinya masih. Mas Jovan kan yang tadi minta Pak Bejo lembur ngurus analisa keuangan 5 tahun terakhir. Pak Bejo kerja sendirian tuh," kata Junius.


"Ok gini. Mulai besok pagi aku gabung sama Pak Bejo, sedangkan kalian berdua selesaikan masalah di gudang sama Pak Haryo. Kita temukan dalangnya dari sana. Aku mau usut dulu siapa yang bertanggung jawab atas penggelapan barang itu," kata Jovan.


"Bentar Jo, kalau kita nggak perbaiki dulu prosedur perusahaan kita sepertinya akan berputar-putar lagi," jawab Jevan.


"Kamu tenang saja. Mulai besok aku yang pegang kendali. Diam-diam aku sudah menemui Pak Bejo dan memintanya menghubungi beberapa dewan direksi yang bisa dipercaya. Aku juga sudah mengubungi bibi medusa dan memintanya menandatangani dokumenku," kata Jovan.


"Sudah kubilang. Melangkahlah seperti semuanya punya kesalahan. Rangkul musuhmu, buat mereka percaya bahwa kau bukanlah ancaman. Dengan begitu kita bisa mengorek sebanyak mungkin bukti darinya. Dari analisaku sementara waktu ada 2 kubu besar yang bersaing di sini. Kubu Pak Bejo dan Pak Haryo. Alasan kenapa Pak Haryo tidak secara langsung meminta bantuanku tapi malah mengubungi kalian pasti karena Pak Bejo. Pak Haryo percaya jika aku akan mendukung Pak Bejo," jelas Jovan.


"Kalau dipikir-pikir memang aneh juga sih. Ada Jovan yang kita semua tahu dia berpengalaman nggak dihubungi tapi kita berdua yang nggak ada basic sama sekali yang dimintain bantuan," kata Jevan.


"Jadi maksud Mas? Kita harus...."

__ADS_1


"Bener banget. Kita akan berhadapan. Kalian berdua, jangan ragu dengan langkah kalian. Aku akan mendukung kalian berdua," kata Jovan membuat Jevan dan Junius kembali mendapatkan kepercayaan dirinya.


Untuk hari ini mereka merasa usaha mereka sudah cukup baik. Jovan, Jevan, dan Junius sudah meninggalkan kantor. Jevan lebih dulu menuju ke percetakan dan mengecek apakah ada masalah atau tidak. Dia memastikan seluruh karyawannya bekerja dengan baik walau tanpa kehadirannya secara langsung.


"Sementara waktu seluruh keputusan yang berhubungan dengan keuangan, cuti pegawai, dan manajemen kantor akan kuserahkan pada istriku. Dia yang akan mengawasi kalian sementara waktu, sedangkan untuk yang lainnya kalian bisa tanyakan pada Cedar," kata Jevan dalam rapat evaluasi mingguan.


"Siap Bos."


Jevan melangkah turun dan menemukan Rere masih duduk di balik meja kasir. Dia sedang menghitung pemasukan dan mencatatnya. Dia juga sedang berkoordinasi dengan seluruh karyawannya. Fashion Week akan semakin dekat, dan Rere menggaet beberapa karyawannya yang lain untuk membantu. Dia sedang membagi tugas selama seminggu ke depan dan Jevan tidak ingin mengganggu itu. Dia duduk saja diam di kursi tunggu sambil bermain hp. Dia melihat wajah Rere sudah lelah. Rambut pendek sebahunya juga sudah terikat tidak jelas. Berantakan karena beberapa anak rambutnya lepas dari ikatan.


Dia sebenarnya tidak tega, Rere belum sembuh betul. Dia yakin mual dan pusingnya masih cukup mengganggu tapi Rere bisa begitu hebat bukan hanya menyelesaikan pekerjaannya sendiri, tapi juga membantu Jevan menyelesaikan pekerjaannya. Jevan bangga pada istrinya. Dia juga merasa begitu bangga sekaligus merasa bersalah pada putrinya yang bisa begitu dewasa dan mengerti kesibukan Papa Mamanya yang kadang mencuri waktu bersamanya.


Sedikit banyak dia jadi mengerti, dia paham bagaimana perasaan Jovan dan Monika. Kedua orang itu sama-sama sibuk, dan kesibukan mereka tidak sebanding dengan kesibukan Jevan dan Rere. Terkadang Monika harus bolak-balik Singapura-Indonesia untuk memenuhi jadwal interview dan lain sebagainya. Sedangkan pekerjaan Jovan di kantor jelas bukan pekerjaan yang bisa membuatnya bersantai.


Ketiga menantu Mama memang bekerja semuanya. Monika dengan semua fans fansnya, Monika dengan pelanggannya yang berjubel, sedangkan Lia yang harus melayani kebutuhan murid-muridnya di sekolah. Terkadang Jevan berpikir kenapa pula anak-anak mereka harus merasakan hal yang sama seperti Ayahnya. Jevan merasa tidak senang karena terlalu sering ditinggalkan oleh Mama dan hanya tinggal bersama pengasuh di rumah dulu tapi kini justru dia lebih banyak meninggalkan putrinya di rumah bahkan terbilang sering dia menitipkan Nafiza kepada kakek nenek atau kepada pamannya.

__ADS_1


Akibatnya Jevan semakin merasa bersalah pada Mamanya. Selain karena dia melihat sendiri bagaimana berat perjuangan seorang perempuan dalam membesarkan anaknya, Jevan juga melihat sendiri bagaimana putrinya itu selalu menuntut kedua orang tuanya ada dekat dengannya. Dulu dia membelot dan menjadi begitu nakal sebagai bentuk protes dan kini Jevan berdoa agar anak dan keponakan-keponakannya tidak ada yang mengikuti langkahnya atau mungkin langkah Junius sebagai seorang yang suka gonta ganti pacar.


__ADS_2