Ours In Another Story

Ours In Another Story
27. Takut Ketinggian


__ADS_3

Hari ketiga Jevan dan Rere di Bali, Rere minta pada Jevan untuk mengajaknya ke Garuda Wisnu Kencana. Tadinya Pak Purnomo mau mengajak mereka berdua ke Pantai Kuta tapi dia menolak karena katanya di sana begitu ramai dan banyak wisatawan mancanegara yang sengaja datang hanya untuk mencari terik matahari. Rere tidak mau ribet dengan mencarikan dan memakaikan kacamata kuda untuk Jevan yang matanya pasti jelalatan.


Begitu sampai Rere masih baik-baik saja, tapi begitu melewati tebing tinggi menuju ke bawah, berangsur-angsur dia merasakan pusing. Katanya rasanya seperti dikepung oleh makhluk-makhluk besar membuat Rere selalu menggandeng Jevan dan tidak berani menjauh darinya. Tapi ketakutannya di bawah belum ada apa-apanya dibandingkan ketakutannya ketika berada di atas. Jevan mengajak Rere ke lantai tertinggi patung Garuda Wisnu Kencana yang begitu besarnya dan di sana dia habis-habisan menggoda Rere yang memang memiliki phobia pada ketinggian.


Di lantai itu ada beberapa titik yang lantai dan temboknya yang sengaja dibuat dari kaca dan memperlihatkan langsung bagian konstruksi dari patung itu. Jelas Rere langsung memeluk erat Jevan tanpa ampun Dia tidak berani melihat, bahkan berani membuka mata saja tidak. Satu-satunya spot yang bisa Rere nikmati hanyalah jendela yang membuat mereka bisa melihat keseluruhan Bali dari ketinggian. Itupun Jevan tidak melepaskan pelukannya dan terus melingkarkan tangan kanannya di pinggang Rere. Setelah sekitar 30 menit Rere melihat pemandangan, dia tiba-tiba ingat di mana letaknya berdiri sekarang.


“Ma, tanganku bisa keseleo lagi lo ini,” kata Jevan karena genggaman Rere terlalu erat dia rasakan.


“Bodo amat, lagian Mas jahat banget sih ngajakin aku kok ke tempat beginian,” kata Rere masih meringkuk dalam pelukan Jevan.


“Perasaan kamu yang ngajak kesini lo Ma, kan tadinya kita mau ke Pantai Kuta. Aku tadi di bawah juga udah nanyain loh kamu beneran berani naik atau nggak.”


"Ya kan perjanjiannya di bawah tadi kamu akan jagain aku. Tapi ini malah ngerjain habis-habisan gini. Sebel ih," kata Rere.


"Iya iya maaf cantik. Habis kamu kalau ngambek lucu sih makanya aku suka ngerjain kamu. Jangan marah ya sayang, aku nggak akan benar-benar ngebiarin kamu kok. Aku tetap jagain," kata Jevan.


“Tau ah udah bete, takut juga. Turun aja ayo,” Rere menyeret Jevan dan akhirnya mereka turun.

__ADS_1


Di pelataran patung, Rere duduk tanpa tenaga. Baru ini dia merasakan pengalaman se-ekstrem itu. Jangankan buat ke tempat setinggi ini, dia naik eskalator di Mall saja tidak berani. Ada-ada saja Cantiknya Jevan ini. Beruntungnya mereka, kedatangan Jevan dan Rere ke GWK tepat pada jadwal sebuah pertunjukan. Jevan tadinya mengajak Rere duduk di depan, tapi dia segera ingat kalau Rere takut dengan Barong. Jadi mereka pindah agak ke belakang walau masih mencari view di tengah. Di tengah-tengah pertunjukkan, beberapa penonton juga diajak untuk menari bersama. Untung kan mereka tidak jadi duduk di depan tadi.


Puas berjalan-jalan dan menghabiskan waktu di Garuda Wisnu Kencana, Jevan dan Rere melanjutkan perjalanan mereka menuju ke air terjun Sekumpul. Benar-benar hari yang melelahkan untuk Rere. Sudah diuji di ketinggian GWK sekarang dia harus menuruni tangga sempit yang terjal untuk menuju ke air terjunnya. Rere tidak berani berjalan di depan, dia hanya mengekor Jevan dan terus menarik baju bagian belakang Jevan agar suaminya yang hari ini agak menyebalkan ini tidak meninggalkannya.


“Cantik, aku foto dari bawah ya mau nggak?” tanya Jevan.


“Ha? Jadi kamu duluan turun gitu?”


“Cuma beberapa langkah sayang, nggak akan ditinggal jauh. Bagus banget nih viewnya,” kata Jevan. Dasar maniak fotografi.


“Yaudah sana, tapi janji jangan ditinggal.”


“Mas Jev~~,” rengek Rere sambil memukul punggung Jevan tanpa ampun.


“Iya ampun cantik, nggak lagi deh,” kata Jevan.


Setelah turun beberapa meter, Jevan mengeluarkan handphonenya dan memotret Rere. Dia sengaja tidak membawa kameranya, takut pacarnya itu rusak karena kena air. Wah Reva Aulia, dia sekarang sudah berubah. Tadinya dia cuma pede dengan foto candid atau yang faceless sekalian, tapi sekarang dia sudah pintar berpose. Ya hanya untuk Jevan sih, kalau foto dengan orang lain dia tidak akan berani berpose macam-macam. Ini pun dia bisa bergaya di depan kamera karena sudah bertahun-tahun dia menjalin hubungan dengan seorang fotografer. Jika tidak mungkin dia tidak akan bisa bergaya seumur hidupnya.

__ADS_1


"Udah Mas?"


“Udah, sini aku tunggu. Pelan-pelan kamu turun,” kata Jevan.


"Ha? Yang bener aja Mas. Masa aku turun sendirian. Mas sini aku takut," kata Rere.


"Nggak papa cantik, nggak akan jatuh. Kamu pegangan dan turun pelan-pelan. Mas tunggu di sini," kata Jevan.


Rere terlihat memegang pegangan tangga dengan kedua tangannya dan menuruni anak tangga itu satu per satu dengan sangat hati-hati. Kaki kanan melangkah, diikuti kaki kiri, kanan melangkah, kiri menyusul terus seperti itu hingga dia sadar jika dia sudah berada tepat di hadapan Jevan yang tersenyum padanya.


“Ini bisa, nggak usah takut. Tangga ini kokoh. Kamu nggak akan jatuh. Aku juga di sini jagain kamu,” kata Jevan membuat Rere tersenyum. Ketakutannya kali ini mampu dikalahkan oleh dukungan dari Jevan.


Langkah demi langkah mereka jalani, akhirnya mereka sampai juga di air terjun yang begitu indah ini. Awal begitu sampai, Rere hampir menangis karena terharu dia berhasil. Sedangkan Jevan kini tersenyum bangga pada cantiknya karena dia mampu melawan ketakutannya sendiri dan mendapatkan sebuah hadiah yang begitu cantik dan indah seperti pemandangan air terjun ini.


Rere sempat memejamkan matanya sembari duduk di sebuah batu besar. Membiarkan air membasahi kakinya dan memberikan ketenangan penuh padanya. Dia tidak bergerak. Dia hanya diam, mengatur nafasnya untuk menjernihkan pikiran.


Benar-benar Reva Aulia yang hanya bisa ditenangkan dengan air. Mau tidak percaya pun ini nyata dan benar-benar terjadi di hadapannya sendiri. Sudah bertahun-tahun Jevan mengamati cantiknya ini. Mau sebesar apapun masalahnya, semua itu bisa lepas dan hilang jika Rere terkena air. Jika mandi keramas tidak cukup, dia pasti akan mengajak Jevan ke air terjun atau ke laut. Pokoknya dia harus dikepung air dan mendengar aliran air yang deras. Dia akan diam, mengatur nafas, dan menenangkan pikiran, barulah setelah itu dia akan baik-baik saja.

__ADS_1


Gadis hujan ini memang unik, dia dengar cerita dari Papa Dirga tentang kisah kelahiran Rere. Dulu, tepat bersamaan dengan tangisan Rere yang pertama, hujan mengguyur kota Jogja dengan begitu deras. Mas Reno juga menambahkan jika dari kecil Rere ini senang sekali dengan hujan. Setiap kali rintik-rintik air itu turun, Rere akan duduk di teras rumah dan menengadahkan tangan membiarkannya basah dengan air hujan. Dari situlah Jevan mengerti seerat apa ikatan batin Reva Aulia dan Hujannya.


__ADS_2