Ours In Another Story

Ours In Another Story
34. Stalker


__ADS_3

Begitu lulus SMA Junius memperlihatkan satu ambisi yang belum pernah dia perlihatkan sebelumnya. Dia kata berkata pada kedua orang tuanya jika dia ingin kuliah di Eropa. Ya sudah Papa iyakan. Tidak ada salahnya juga, biar anak itu belajar dewasa dan menata dirinya sendiri. Mungkin saja pulang dari Eropa dia jadi berubah. Eh ternyata sama saja. Semester pertamanya dia habiskan bersama Hanna yang saat ini kita kenal sebagai istri tercintanya Cedar. Setelah itu dia sempat ganti pacar beberapa kali sampai akhirnya memiliki hubungan khusus dengan seorang temannya dari Tiongkok bernama Ning Ning.


“Baby Jun, where are you?” tanya Ning Ning sudah berdiri di depan pintu apartemennya.


“Baby, wake up.” Ning Ning kembali berteriak sambil menggedor pintu.


Hell, ini baru jam 8 pagi. Dia sudah berteriak-teriak menggedor pintu seperti itu. Bahkan ini bukan kali pertama. Junius sudah sering ditegur oleh tetangganya karena membuat kebisingan di pagi hari. Ok, Junius sudah lelah. Dia akan mengakhiri ini semua sekarang juga.


“This is the last time. Let’s break up.”


“What?! What are you talking about? You love me right?”


“Yeah, but I’m tired because you are annoying. I've told you from the beginning we will never be us.”


“Because what? Because your God? Because of your religion? Just let it go. What did you get from your God? No one Jun. You told me that your God is so kind, but did you know he took too much of your time. You need to pray 5x in a day. But you have nothing. You still here struggling with your study, working hard everyday, what he gives is not worth what you pay.”

__ADS_1


Junius murka. 2 hal miliknya yang tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun, pertama kepercayaannya dan yang kedua keluarganya. Ning Ning sudah mengatakan hal buruk tentang agamanya. Well Junius sudah tidak memiliki alasan apapun untuk mempertahankan gadis ini. Dia memilih pergi begitu saja. Meninggalkan Ning Ning yang masih bersungut-sungut tidak terima.


Dia langsung menuju ke bandara memesan tiket menuju ke Madrid saat itu juga. Tidak peduli apakah orang yang akan ditemuinya ini sedang sibuk atau tidak. Selama seminggu lebih dia tinggal bersama calon kakak iparnya yang satu ini. Reva Aulia, dengan penuh kesabaran hanya mampu menghela nafas ketika Junius lagi dan lagi membanting handphonenya begitu saja ke lantai ketika benda persegi itu kembali berdering untuk yang kesekian kalinya hari ini.


“Yus, kamu nggak mau pulang?” tanya Rere.


“Nggak. Aku di sini aja sampai wisudaku bulan depan.”


Baru Rere akan membuka mulut, bel berbunyi. Rere meninggalkan Junius begitu saja dan membukakan pintu untuk tamu yang entah siapa itu. Begitu Rere membuka pintu, dia langsung berhadapan dengan Ning Ning yang menyerobot masuk begitu saja dan langsung menerjang Junius dengan pelukan. Gadis yang tidak Rere kenal ini juga tidak lupa untuk menampar dan memaki Rere yang dia pikir sudah merebut Junius dari dirinya.


Sayangnya gadis itu tidak semudah itu pergi. Dia bahkan pernah beberapa kali berbuat gila dan hampir meniduri Junius. Dia seorang gadis yang begitu nekat, bagi Junius dia gila. Jika bukan karena Rere yang curiga dengan gelagat Ning Ning dan memilih ikut bersama Junius ke Perancis dengan alasan membantu persiapan wisudanya, mungkin Junius sudah ternoda sekarang karena kenekatan Ning Ning. Di saat hari wisudanya saja perempuan itu berani menyambar bibir Junius begitu saja di hadapan keluarga Junius. Gadis ini bahkan tidak melepaskan Junius begitu saja walau Junius sudah kembali ke Indonesia.


Gadis itu selalu berusaha menghubunginya dan menemuinya. TIdak peduli mereka sudah tidak di belahan bumi yang sama, terpisah lautan dan daratan yang begitu jauh, tapi Ning Ning berhasil mendarat di Indonesia dan mencari tahu di mana keberadaan Junius hanya dengan berbekal informasi yang dia dapatkan dari seorang teman Junius di Perancis dulu.


Ning Ning berhasil sampai di Jogja 1 hari kemudian. Dia mencari taksi dan meminta untuk diantar ke alamat yang tertera. Alamat rumah Junius. Dengan liciknya Ning Ning meminta bantuan seorang temannya yang salah satu teman Junius juga. Dengan alasan ingin mengirimkan kado, Junius dengan senang hati memberikan alamat rumahnya.

__ADS_1


Hari sudah malam ketika Ning Ning sampai di pelataran sebuah rumah yang cukup besar dan mewah di daerah Jogja bagian utara. Tanpa pikir panjang Ning Ning langsung mengetuk pintunya dan terus membunyikan bel. Mbak Monika yang membukanya. Kebetulan di rumah memang sedang tidak ada Papa dan Mama. Hanya ada Monika, Rere, Jevan, dan Junius di dalam rumah.


"Where is Jun?"


"Who are you?" tanya Monika yang bingung dia siapa.


"Ning Ning?" kata Rere yang ikut menyapa siapa yang datang.


"Ha. Here you are *****. Where is my Jun. Where is Junius? He's mine," kata Ning Ning.


Melihat gadis di hadapannya ini berusaha masuk dan mencakar Rere, Monika menghalangi pintu. Dia mengusir perempuan itu keluar dari rumah mereka dan meminta satpam perumahan untuk membantunya mengusirnya.


Ketika Junius sedang begitu terpuruk dan bingung harus bagaimana caranya dia lari dari Ning Ning, ada satu notifikasi masuk dari grup alumni SMA-nya. Besok akan diadakan lustrum SMA dan seluruh alumni diundang untuk ikut memeriahkan konser yang akan digelar sekaligus juga reunian. Junius datang bersama dengan kedua kakak kembarnya tanpa tahu jika malam ini hidupnya akan berubah.


Ning Ning masih seperti biasa membuntuti dirinya, dan kebetulan ketika itu Junius melihat ada salah satu temannya yang juga dia ketahui adalah fans beratnya dulu ketika SMA. Siapa lagi kalau bukan Julia Oktaviana, yang selalu berdiri paling depan dan berteriak paling keras ketika melihat Junius sedang manggung. Tanpa pikir panjang dia menyeret Lia ke dalam pelukannya dan berharap Ning Ning melihat itu dan memilih pergi.

__ADS_1


Nyatanya tidak juga, bukannya pergi gadis itu malah mendekatinya dan menampar Lia begitu saja. Suasananya agak panas, tapi di luar dugaan Lia bisa memukul mundur Ning Ning. Gadis itu berubah. Dia begitu menakutkan jika marah. Wajar sih, tidak ada angin tidak ada hujan dia tiba-tiba ditampar begitu saja. Selain menyalahkan Ning Ning, Junius yakin Lia juga pasti sedang murka padanya. Sudah lama tidak bertemu bukannya menyapa dengan cara yang baik malah membuatnya ditampar perempuan tidak dikenal begini.


__ADS_2