Ours In Another Story

Ours In Another Story
12. Kisah Kelahiran Anak Kami


__ADS_3

“Dia harus melahirkan sekarang. Tapi masalahnya kita tidak memiliki pilihan. Jalan apapun yang diambil semuanya memiliki resiko tinggi. Kalau kita caesar panic attacknya bisa semakin besar dan itu akan sangat berbahaya untuk keduanya. Ancaman pecah pembuluh darah akan semakin besar karena tekanan darahnya juga tinggi. Jika kita mengambil jalan normal, dia harus benar-benar kuat bertahan hingga akhir.


“Tapi bayinya sehat kan?”


“Syukurlah bayinya sehat. Air ketubannya juga masih cukup jadi dia tidak dalam kondisi yang buruk, tapi masalahnya ada pada sang ibu.”


“Kalau kau yang mengoperasinya saja ragu, artinya resiko pada menantu dan cucuku tidak main-main. Menurutku melahirkan normal adalah jalan terbaik. Kita usahakan dulu sembari menunggu tekanan darahnya turun. Jika memang tidak bisa baru kita operasi,” kata Tiwi pada akhirnya.


“Mama mau biarin Rere kesakitan terus kaya gitu?” tanya Jevan yang ikut mendengarnya dari luar gorden.


Mama menghela nafas ketika mendengar suara putranya bergetar. Dia sedikit menyibakkan gorden di sekitar bed menantunya kemudian menemui Jevan dan menepuk kedua pundak putranya, “kamu diem aja Jev. Percaya sama Mama, kamu sekarang hapus air matamu terus temani istrimu. Apapun yang terjadi jangan ditinggal, ngerti?” kata Mama Tiwi pada Jevan. Mau tidak mau Jevan hanya bisa mengangguk mengiyakan. Dia sudah tidak bisa berpikir jernih. Dia kaget bukan main mendengar diagnosa dokter barusan ditambah Ibunya juga ikut berbicara hal yang sama.


Saat ini Jevan dan Rere hanya berdua, di salah satu bangsal di rumah sakit. Beberapa menit lalu dokter kembali memeriksanya dan menyampaikan kabar baik jika Rere memiliki cukup tenaga untuk melakukannya. Seharusnya Jevan senang mendengarnya tapi di saat dia melihat wajah pucat dan keringat dingin itu membasahi seluruh tubuh cantiknya sudah cukup membuat dia yakin jika Rere hanya pura-pura kuat.


“Mas, tanganmu kenapa?” tanya Rere pada Jevan.


“Nggak papa cantik, nggak usah pikirin aku. Kamu fokus aja ya,” kata Jevan sambil mengelap keringat di dahi Rere dengan sebuah handuk kecil.


“Nafiza baik-baik aja kan? Dia nggak kenapa-napa kan? Kok dia anteng banget ya nggak nendang-nendang kaya biasanya,” tanya Rere sembari mengelus perutnya.


“Kalian baik-baik aja. Kalian pasti baik-baik aja. Aku disini, temenin kamu,” jawab Jevan. Dia ikut meletakkan tangannya di atas perut Rere.

__ADS_1


Melihat perban elastis di tangan Jevan membuat Rere diselimuti perasaan bersalah, “Jevan…, maaf…,” kata Rere.


“Udah dong Reva stop. Fokus ya, jangan mikir yang lain, please,” kata Jevan yang akhirnya menangis juga. Sudah tidak kuasa dia menahannya melihat istrinya berusaha kuat seorang diri sedangkan dia tidak mampu melakukan apapun.


Jevan segera menghapus air matanya, kemudian kembali mencium kening Rere berusaha menyalurkan kekuatan padanya. Terus membisikkan doa yang terbaik untuk keduanya.


“Apa yang kamu rasain sekarang?” tanya Jevan yang sudah lebih tenang.


“Pusing banget Mas, perutku sakit banget juga,” kata Rere. Genggamannya kembali melemah setelah datangnya kontraksi barusan. Satu lagi air mata Rere lolos begitu saja, “Kalau bisa tidur diusahakan. Aku temenin kamu di sini,” kata Jevan pada Rere.


Jevan terus mengelus kepala Rere lembut, setidaknya dia ingin Rere merasa rileks dan tertidur barang sebentar. Biar dia melupakan rasa sakitnya. Sayangnya belum lama dia tertidur Nafiza sudah membangunkannya lagi. Kontraksinya datang bahkan terasa lebih sakit dari yang sebelumnya.


Sudah lebih dari 10 jam Rere berusaha. Jevan memang ada di sana, tapi apa dayanya. Dia hanya bisa diam menyaksikan Rere terus merintih dari waktu ke waktu.


“Kamu kok bisa sampai sini sih Mon?” tanya Jevan.


“Kemarin Rere telpon aku sambil nangis-nangis. Aku nggak tega dengernya jadi ya aku langsung pesen tiket pulang, eh taunya kondisi Rere sudah kaya gini. Mama pulang sama Tirta, malam ini aku sama Jovan yang temenin kalian,” kata Monik.


“Je, ini di makan dulu,” kata Jovan sambil menyodorkan seporsi nasi goreng buatan Monika.


“Ntar aja, Rere nggak bisa ditinggal.”

__ADS_1


“Sudah kuduga. A…, cepet buka mulut. Ku suapin ya, biar kamu ada tenaganya barang sedikit,” Jovan lebih memilih menyuapinya. Sedikit demi sedikit hingga Jevan berhasil menghabiskan makan malamnya.


Semalaman Jevan tidak tidur dan Jovan menemaninya. Monik sudah tertidur meringkuk di sofa sedangkan Jovan memberikan pahanya untuk menjadi bantal tidur Monik dan jaketnya dia pakai untuk menyelimuti tubuh Monika. Agak khawatir juga dia sebenarnya mengingat Monika saat ini juga tengah berbadan dua.


“Jo, dulu waktu Monik lahiran kamu juga ngerasain kaya gini?”


“Hmm, kurang lebih sama. Tapi aku yakin kamu pasti bisa,” kata Jovan.


“Rasanya waktu kaya nggak jalan. Stuck aja," kata Jevan.


“Aku nggak tau Mama udah pernah bilang gini belum ke kamu. Kata Mama, setiap calon ibu dibuat merasakan sakit ketika akan melahirkan anaknya adalah sebagai tanda jika dia pernah mempertaruhkan nyawanya demi buah hati, jadi dia tidak akan pernah menyia-nyiakan anaknya dan untuk memastikan suaminya tidak menyia-nyiakan istrinya setelah melihat perjuangan itu,” kata Jovan.


“Tantangan pertamamu jadi orang tua Je. Kamu harus bisa, kalian berdua harus bisa lulus,” kata Jovan berusaha menguatkan.


Lambat laun rasa sakit Rere bertambah hingga mencapai klimaksnya. Jevan melihat langsung dengan kedua mata kepalanya seberat apa perjuangan Rere mendorong keluar putrinya. Rintihan Rere terdengar begitu perih dan menyakitkan, tapi juga penuh dengan tekad dan kekuatan. Dia bahkan sudah hampir menyerah hingga dipasang selang oksigen di hidungnya. Dia mencoba mengerahkan seluruh sisa tenaganya pada dorongan terakhir. Hingga....


11.24 WIB


Kei Nafiza Rhea telah lahir


Bayi itu sudah lahir tapi tidak kunjung menangis. Rere kini mulai meronta. Dia merasa gagal, bahkan kini dia kembali merasakan kesakitan. Pendarahannya tidak berhenti hingga dia kembali mendapatkan transfusi. Untung saja, ketika Nafiza yang terus berusaha dibangunkan itu akhirnya menangis Rere masih sanggup mendengarnya.

__ADS_1


Jevan menerima Nafiza dari seorang suster yang membantu tadi, kemudian dia duduk di samping Rere. Dia mendekatkan telinga kecil Nafiza yang masih menangis ke mulutnya dan dia mulai mengumandangkan adzan pertama untuk putrinya. Di sebelahnya Rere kembali menangis, tapi kali ini tangisannya berbeda. Tangisannya ini penuh dengan kebahagiaan, melihat putrinya yang menangis langsung diam mendengarkan merdu suara ayahnya.


Setelah itu Nafiza segera dibawa ke NICU karena kondisinya yang terlalu lemah. Rere juga mulai dipindahkan ke ruang rawatnya. Dokter memasanginya ventilator dan rekam jantung karena Rere berangsur melemah. Tidak lupa juga jarum infus yang menembus kulit guna membantu tubuh lemahnya mendapatkan asupan.


__ADS_2