
Tanpa mereka tahu, Jevan mendengarkan semua percakapan itu dari ambang pintu. Tadinya dia berniat untuk mengambil dompetnya yang tertinggal dalam saku jaket di gantungan tapi tepat ketika dia akan masuk, dia mendengar istrinya menangis juga suara Haikal yang berusaha menenangkan sepupunya. Andai bukan karena Nafiza yang berjalan naik mencari pamannya, Jevan pasti sudah menangis sekarang ini.
"Shtt, cantik sama papa dulu ya. Om Haikal lagi nemenin Mama," kata Jevan yang mencegah putrinya mendekati kamar.
"Emangnya Papa bisa main musik?" tanya Nafiza.
"Bisa dong. Papa juga jago main musik. Papa memang nggak bisa main biola tapi Papa bisa main piano. Sini kita main musik sama Papa dulu ya," ajak Jevan pada Nafiza.
Untung putrinya itu menurut dan segera kembali ke lantai satu. Dia dan Abi sudah bersiap di depan piano dan langsung mencoba memainkan apa yang sudah dia bisa. Pertama-tama Abi lebih dulu menekan-nekan jajaran tuts hitam dan putih itu kemudian di sebelahnya Nafiza bermain dengan biola yang dibelikan oleh om Haikal. Hadiah dari om katanya untuk Nafiza kecil yang sebentar lagi akan jadi kakak.
"Papa..., Papa coba main dong," kata Nafiza.
"Main apa?"
"Main piano. Om kan katanya bisa main piano. Mana Abi pengen lihat jangan-jangan om bohong ya kaya Ayah suka bohong," kata Abi.
"Dih enak aja. Om beneran bisa, sini om tunjukin," kata Jevan kemudian dia duduk.
Jari jemarinya mulai menari menciptakan harmoni yang lembut. Dia terus memainkan piano yang sudah ada sejak dia masih kecil itu. Tanpa terasa, mulutnya mulai melantunkan nada-nada yang lembut nan indah. Lagu ciptaannya yang pertama yang pernah ingin dia tunjukkan pada Rere namun gagal karena ulah Viona yang membuat Rere sempat hilang jejak di Eropa dulu.
Dari melodi-melodi itu, ingatan Jevan kembali pada hari di mana dia untuk pertama kalinya menjawab sapaan Rere. Hingga ke hari di mana keduanya mengikat cinta abadi mereka di pelaminan. Jevan juga melayang mengingat pertemuan pertama mereka dengan Nafiza. Dia ingat jika dia pernah begitu bahagia memandangi Rere yang selalu bergumam sambil menidurkan Nafiza putri kecilnya.
"Papa..., lagunya bagus. Judulnya apa Pa?" tanya Nafiza.
"Cantik," jawab Jevan singkat.
__ADS_1
"Melodinya indah Pa, ajari Nafiza dong."
"Tentu saja indah nak. Lagu ini Papa ciptakan untuk Mama. 3 tahun Papa garap lagu ini hingga sempurna. Tapi sayang Mama belum pernah mendengar lagu ini secara langsung," kata Jevan pada putrinya.
"Papa sayang banget sama Mama ya?" tanya Nafiza.
"Sangat. Papa sayang banget sama Mama. Papa juga sayang sama kamu. Kalianlah dunianya Papa. Tanpa kalian berdua, Papa bukan siapa-siapa," jawab Jevan yang kemudian memeluk putrinya dengan kasih sayang.
"Papa kenapa? Papa nggak papa kan?" tanya Nafiza lagi.
"Nggak papa sayang. Yuk, kita main lagi. Coba Papa mau dengar katanya kalian sudah bisa lagu Indonesia Pusaka," kata Jevan berusaha mengalihkan pikiran juga mengalihkan perhartian kedua anak yang ada di sebelahnya ini.
Rere sudah mulai tenang dan dia meminta Haikal untuk segera turun. Lamat-lamat dia mendengar suara dentingan piano sejak beberapa waktu yang lalu. Rere tidak mau menahan Haikal di dekatnya sedangkan sepupunya itu datang ke sini dengan niat untuk mengajari putrinya bermain biola. Keduanya juga sudah sepakat jika di hari perpisahan nanti keduanya akan tampil di hadapan teman-teman mereka untuk memainkan hasil latihan mereka dengan om Haikal.
Niat hati Rere ingin turun dari tempat tidurnya. Dia ingin menemani Nafiza yang tengah berlatih musik bersama Om Haikal di lantai 1. Walaupun tubuhnya terasa berat dan kepalanya pusing tidak karuan, dia masih memaksakan diri untuk bangkit berdiri. Satu tangannya dia pakai untuk menopang perut sedang tangan lainnya dia pakai berpegangan pada headboard untuk menopang tubuhnya sendiri.
"Mas? Sudah pulang?" tanya Rere.
"Aku belum jadi pergi," jawabnya dengan wajah sendu.
"Mas kenapa kok lemes gitu?" tanya Rere lagi.
"Harusnya aku yang tanya sama kamu. Kamu kenapa?"
"Aku nggak papa...," jawab Rere berbohong.
__ADS_1
"Jangan bohong cantik, aku nggak suka," kata Jevan membuat Rere terdiam.
Jevan melangkah menutup pintu kemudian kembali mendekati Rere. Kali ini dia berlutut di hadapan Rere sehingga dia bisa menatap Rere yang terus menunduk sambil menangis.
"Kenapa kamu menyembunyikan tangisanmu? Aku kan sudah bilang, kamu boleh pura-pura kuat di depan Nafiza, tapi di depan aku jangan. Kalau kamu capek ya istirahatlah, kalau kamu nggak kuat menyerahlah, jangan kaya gini," kata Jevan.
"Aku cuma nggak mau jadi bebanmu terus," kata Rere.
"Kapan aku pernah menganggap kamu bebanku sayang? Nggak pernah."
"Kamu sendiri pernah bilang kalau aku dan kedua saudaraku punya love language yang berbeda dan memang beginilah caraku menyayangimu. Aku nggak mau kamu melakukan semuanya sendirian. Aku mau kamu menggantungkan semuanya ke pundakku," kata Jevan.
"Tapi beban di pundakmu sudah berat Jevan aku nggak mau nambah-nambahin," kata Rere.
Belum sampai Jevan menjawab kalimat Rere, dia melihat cantiknya mengernyit seperti menahan sakit, "kenapa? Perutmu sakit? Bilang cantik."
Rere hanya menangis kemudian mengangguk sebagai jawaban, "perutku tiba-tiba sakit, Mas."
Jevan langsung meraih jaket Rere kemudian membantunya memakai jaket itu. Dengan perlahan Jevan membantu Rere berdiri. Tidak. Lebih tepat dibilang memaksa. Jevan memaksa Rere untuk berdiri dan menumpukkan tubuhnya ke tubuh Jevan yang perlahan memapahnya keluar dari kamar.
"Astagfirullah Rere kenapa?" tanya Jovan yang baru saja akan berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Jo titip anakku bentar. Aku mau bawa Rere ke rumah sakit. Aku yang nggak tahan lihat dia kesakitan," kata Jevan diangguki oleh Jovan yang ikut membantu memapah Rere karena dia melihat Jevan begitu kerepotan.
"Iya iya, tenang aja. Aku pasti jagain anak-anak kok. Eh Je hati-hati," kata Jovan ikut memapah Rere yang mulai kehilangan kesadaran.
__ADS_1
Jovan merasakan tubuh Rere tidak bertenaga sama sekali sedangkan saudara kembarnya ini sama paniknya. Mau bagaimanapun juga Rere istrinya dan dia memang kondisinya berbeda. Wajar kalau Jevan panik ketika istrinya sakit. Jovan pun sama. Dia selalu saja panik dan takut jika istrinya sakit sesepele apapun itu tapi naluri seorang suami memang akan cenderung untuk seperti itu.