Ours In Another Story

Ours In Another Story
68. Berusaha Kuat


__ADS_3

Minggu ini menjadi minggu yang sibuk untuk seluruh anggota keluarga Kusuma. Mulai dari Monika yang harus menjalani persidangan atas tuduhan plagiarisme, hingga Lia yang masih harus menjalani pemeriksaan oleh polsek setempat. Jevan juga tidak kalah sibuknya. Dia bolak-balik ke rumah sakit untuk menemani istrinya juga mengurus kekacauan yang ada di butik pasca ditinggalkan Rere yang jatuh sakit.


"Tapi masih bisa ikut pamerannya kan walau tidak ikut catwalknya?"


"Masih bisa Mas Bos. Sudah diurus sama mbak Hanna dan Mas Cedar. Pihak panitia memaklumi jadi kita masih bisa mengikuti pameran tanpa ikut serta dalam catwalk. Cuma ya itu, yang kita masih bingung. Walaupun ikut pameran dan produk habis terjual paling keuntungannya hanya cukup untuk balik modal kostum yang rusak kemarin. Belum lagi saingan-saingan mbak Rere pasti cari celah untuk menjatuhkan Mbak," kata Doni membantu menjelaskan pada Jevan yang datang pagi ini.


"Tapi kalian masih sanggup bertahan kan? Saya tidak akan menuntut kalian bekerja sampai balik modal. Untuk kerugian ini urusan belakang. Sekarang kita fokus saja mengikuti pameran apa adanya. Kalian aku yang menggaji. Uang lembur kalian aku yang siapkan. Tapi maaf kalau tidak banyak paling tidak cukup lah untuk ganti beli bensin dan uang makan," kata Jevan.


"Nggak usah repot-repot Mas Bos, kami nggak papa kok nggak dapat uang lembur. Kami berdua ikhlas menjalaninya. Anak-anak saja kami berdua tidak usah, lagi pula kami ini kalau bukan karena mbak Rere juga tidak akan bisa jadi seperti sekarang. Kami baik-baik saja kok. Selama kami masih bisa kerja sama Mbak Rere ada atau tidak bayarannya kami nggak masalah," kata Dwi ikut diangguki oleh Doni.


"Makasih sekali kalian berdua sudah loyal sama mbak Rere. Tapi kalian tetap harus diapresiasi. Berapapun jumlahnya nanti diterima saja ya. Nggak baik menolak rejeki lho," kata Jevan sembari tersenyum. Walaupun terkadang karyawan Rere ini menyebalkan, tapi Jevan beruntung istrinya dianugerahi karyawan-karyawan yang begitu setia padanya. Dia jadi tidak perlu khawatir karena ada mereka yang akan membantu istrinya. Jadi istrinya itu tidak akan pernah berjuang sendirian.


Di tempat lain di waktu yang sama Monika bersama dengan pengacaranya datang ke persidangan untuk menyelesaikan kasus yang menyeret-nyeret namanya. Berbeda dengan Rere dan Lia, Monika tidak ada takutnya sama sekali. Dia menjadi kuat setelah kemarin mendampingi suaminya. Ternyata dia justru mendapatkan pengajaran yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Memiliki kekuatan dalam menantang bahaya demi keluarganya jauh lebih baik dibanding yang lainnya.


"Bunda, kamu nggak papa sendiri?"


"Nggak papa Ayah, aku sudah pernah mengalaminya. Dari kasusmu kemarin aku ternyata mendapatkan sesuatu yang sangat berharga yang tidak akan aku dapatkan dari orang lain. Aku jadi kuat Jov. Aku tidak terkalahkan sekarang. Kalau kemarin aku mampu menantang seluruh dunia demi kamu, apalagi sekarang. Masalah ini akan dengan mudah aku selesaikan. Apalagi aku tidak bersalah. Aku yakin aku akan baik-baik saja," kata Monika.

__ADS_1


"Hati-hati ya Bunda," kata Jovan.


"Aku akan berhati-hati," jawab Monika.


Lebih dulu dia meminta restu pada suaminya. Tidak biasanya dia akan mencium tangan Jovan dan memeluknya sebelum pergi tapi kali ini rasanya dia harus melakukan itu. Dia ingin merasakan ada Jovan di sisinya walaupun secara fisik dia tidak bersamanya.


"Aku berangkat ya," pamit Monika diangguki oleh Jovan.


Lain Monika, lain pula Aprilia. Istri tercinta Junius Chandra itu tidak hentinya menangis sejak semalam. Dia sama seperti Rere yang masih syok. Belum pernah seumur hidupnya berurusan dengan polisi apalagi untuk sesuatu yang tidak dia lakukan. Dia sendiri juga heran dari manakah tangkapan layar berisi percakapannya dengan seorang siswa itu berasal. Dia tidak pernah melakukannya tapi polisi mengakuinya sebagai bukti itulah kenapa Lia terus diproses sesuai hukum.


Rama terus menangis, Krisna tidak mau makan, dan Abimanyu yang selama ini terkenal aktif hanya duduk diam saja di sofa sembari menonton tv. Lia seorang diri di rumah karena Junius sedang keluar mencari sesuatu untuk makan siang. Dia harus meng-cover semua pekerjaan rumah karena dia tidak tega Lia harus mengerjakannya padahal hatinya sedang tidak karuan.


"Ayo dong Kresna makan ya sedikit saja," kata Lia akhirnya kembali menangis.


"Bunda nangis terus kenapa?" tanya Abi.


"Abi, bantuin Bunda dong. Kamu pinter ya, jangan ikut rewel ya," kata Lia pada anak sulungnya.

__ADS_1


"Iya Bunda," Abi akhirnya semakin terdiam. Hanya tinggal Kresna dan Rama yang harus dia tenangkan.


Di punggungnya dia menggendong Rama yang tidak pernah mau diturunkan sedangkan kedua tangannya menggendong Kresna yang sama menangisnya. Tak lama kemudian, Kresna yang menangis muntah di pakaian Lia membuat dia semakin menangis. Dia panik bukan main karena setelah muntah Kresna bukannya diam malah semakin menjadi tangisannya. Di tambah lagi Lia melihat Abi jadi ikut panik walau dia tidak berani turun dari sofa.


Di waktu yang tepat itu Junius kembali langsung disambut suara tangisan dari dalam rumahnya. Dia bergegas melangkah masuk lalu mengambil alih Kresna dari gendongan istrinya sedangkan Lia sudah menangis karena bingung.


"Sayang kamu nggak papa?" tanya Junius.


"Mas Kresna muntah-muntah Rama juga nangis terus gini, tolong aku dong aku bingung," kata Lia.


Dengan segera Junius membawa Kresna ke rumah sakit bersama dengan Lia yang setia menggendong Rama dan menggandeng Abi. Mama sendiri yang memeriksa kondisi Kresna di UGD. Bayi kecil itu demam tinggi, Mama sudah memberinya penurun panas juga memberinya infus sementara agar dia bisa beristirahat. Saat ini Kresna mulai tertidur dengan pulas di bed UGD. Lia menangis, ketika dia menidurkan Rama yang akhirnya ikut tertidur juga di sebelah Kresna, dia menangis.


Junius baru saja kembali setelah menebus obat. Dia menemukan Lia melamun menatap kedua putranya yang tertidur. Junius tidak tega melihatnya dia tahu istrinya ini syok setengah mati ditambah harus mengurus anak mereka yang masih kecil-kecil sendirian. Junius sontak langsung meminta cuti pada bosnya selama satu minggu karena dia tidak tega jika harus meninggalkan istrinya sendirian.


"Kamu boleh cuti seminggu, tapi cutimu ini tidak akan aku potongkan dari jatah cuti tahunanmu. Lagi pula kantor lagi kosong job jadi kamu aku beri libur secara cuma-cuma. Syaratnya cuma satu, kamu harus segera menyelesaikan masalah di kantor Papamu. Karena masalah itu menyeret adikku juga. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan Rere, kamu paham kan?"


"Iya Mas, makasih banyak," jawab Junius.

__ADS_1


__ADS_2