
Tak terasa langkah kaki Dewi sudah berada di hutan. Tanpa ragu ia semakin masuk mengikuti kata hatinya entah membawanya sampai mana,dia sebenarnya tidak memiliki tujuan sama sekali selain tekatnya itu.
Pelan-pelan ia sudah berada dalam hutan itu,lalu ia berhenti sejenak.
"Tidak buruk..
...tidak ada yg mencurigakan di hutan ini,tapi semakin aku masuk semakin lebat dan semakin tinggi saja pepohonan dalam hutan ini". pikir gadis itu.
Karna di setiap perjalanan ia hanya melihat binatang liar biasa seperti kelinci,rusa dan lain sebagainya ia menghela nafas leganya.
Dewi semakin masuk dalam hutan,matanya melanglang buana entah kemana jatuhnya penglihatan gadis itu,yg ada dalam benaknya hanya penasaran.
Karna sudah membulatkan tekatnya dan juga karna penasarannya itulah yg membuatnya semakin berani dan hilanglah rasa takutnya yg pernah ada.
Dewi menyusuri hutan Kahiyasan dengan tenangnya tanpa kecurigaan apapun. Namun di perjalanannya itu, ia melihat sekelompok manusia ber jubah serba hitam melintas agak jauh di depannya.
"Ups.."
Gadis itu terkaget lalu buru-buru bersembunyi di belakang pohon besar terdekat namun tanpa sengaja kakinya menginjak ranting yg kering hingga membuat sekelompok orang itu kaget.
Kreek..
"Siapa disana??" kata salah satu orang itu.
"......."
"Uhhh.. kenapa harus bertemu bandit di hutan..? tidak mungkin.. apa mereka akan merampokku dan menjualku ke pasar budak jika aku tertangkap,oh tidakk,nenek tolonglah cucumu ini". dalam benak Dewi.
"Keluar kau.. jangan bersembunyi lagi..!!"
"......"
"Aduuuuhhh.. pergilah.. pergilahh ku mohon..!! huhuhu nenek maafkan cucumu ini yg terlalu ngeyel padamu..". Sesalnya dalam hati.
"Tidak.. aku harus melawan,disini tidak ada siapapun yg bisa aku mintai pertolongan,aku harus bergantung pada diriku sendiri sekarang,jika orang-orang itu menemukanku aku harus bisa melindungi diriku sendiri,atau nenek akan sedih nanti dan aku tidak bisa kembali lagi.. aku harus melewati semua kemungkinan terburuk itu. Demi nenek demi diriku sendiri dan demi mencari identitasku". tekat gadis itu. Ia menggenggam sebilah belati yg ada di pinggangnya.
Tanpa disadari gadis itu, para kawanan yg dikira bandit olehnya kini mencarinya dan semakin mendekatinya, dan menemukannya.
"Hmmmm... rupanya kau disini.."
__ADS_1
"Gadis kecil.. beraninya kau masuk hutan ini.. besar juga nyalimu ya.." teriak salah satu orang.
"Ya... kenapa memangnya? Aku hanya ingin lewat saja apakah tidak boleh? jawab gadis itu.
"Hahahaha,, untuk apa kau main di hutan? apakah ingin menyerahkan nyawamu yg tak berharga itu?" kata salah satunya lagi.
"Kalau begitu kemarilah akan ku wujutkan keinginanmu sekarang..!" kata bandit itu lagi.
"Tidak.. aku tidak ada urusan denganmu biarkan aku pergi aku masih ada urusan penting yg harus aku selesaikan" kata Dewi.
"Hahaha jangan harap... Kau adalah mangsaku sekarang" kata salah satu bandit dan sepertinya itu pemimpinnya.
"Jangan mimpi kalian..!" tolak Dewi sambil membuang mukanya.
"Ayolah... jangan keras kepala.. atau kau ingin kami memaksamu..?"
Seketika ketua bandit itu mengarahkan tangannya pada gadis itu keluarlah cahaya merah yg akan mengenai Dewi,namun seketika itu juga keluarlah cahaya putih dari kalung yg digunakan Dewi dan melindunginya dari cahaya merah yg menghampirinya itu.
"Apa ini..? jangan-jangan kalung ini yg bereaksi menghalangi ku dari marabahaya.. oh terimakasih ayah ibu.. yg telah menyertakan kalung ini bersamaku waktu kau meninggalkanku dulu,aku semakin yakin bahwa orang tuaku tidak sejahat yg aku kira sebelumnya. Buktinya ia masih memberiku kalung ini untuk melindungiku". Seketika Dewi sangat senang mengetahui itu.
Disisi lain orang yg akan mencelakai dewi merasa kesal.
Ternyata sekelompok orang itu adalah Pangeran Wiraka dari kerajaan ular hitam dan para pengikutnya atau bisa dibilang kawan-kawannya.
"Tidak mungkin,bunda masih memakai kalung itu,siapa gadis kecil ini? tunggu.. wajahnya sedikit mirip ibunda.. apakah mungkin..? bunda tidak pernah menceritakan memiliki seorang putri.. tidak..tidak mungkin".
Seketika fikiran Pangeran Wiraka berkecamuk.
"Siapa kamu?? Dari mana kamu mendapatkan kalung itu?? Kembalikan padaku benda itu sekarang". bentak pangeran Wiraka.
"Kenapa pria itu tau tentang kalung ini? apa dia tau di mana orang tuaku.. tidak boleh terkecoh.. siapa tau dia salah satu musuh orang tuaku,aku tidak boleh membongkar ini semua". batin Dewi.
"Tidak... ini milikku kau tidak berhak mengambilnya. Darimana aku dapatkan benda ini bukan urusanmu,apa hakmu memintanya??"
Gadis itu berlalu pergi tanpa menghiraukan sekelompok orang itu,ia dengan santainya melangkah.
"Hei... siapa yg mengizinkanmu pergi? kembali kau..!" teriak pangeran Wiraka yg hendak menggapai tangan Dewi. Namun tiba-tiba ada seseorang yg menghantam tubuhnya hingga mundur menjauh beberapa meter dari tempat Dewi berdiri.
Baam..
__ADS_1
"Sial... siapa yg memukulku??" Teriak pangeran Wiraka.
Dewi yg tadinya hendak pergi lalu membalikkan tubuhnya lagi melihat ke asal suara pukulan itu.
"Apa kalian tidak punya kerjaan selain mengganggu orang lain?" kata seseorang yg perlahan berada di hadapan Dewi.
"Dia...". batin Dewi.
"Pangeran Chandra ternyata..!" kata pangeran Wiraka.
"itu bukan urusanmu kan?" imbuhnya
"Apa..? orang ini adalah seorang pangeran ternyata" . batin Dewi lagi.
"Siapa bilang? Dia milikku,jadi jika kau menyakitinya,aku tidak akan tinggal diam". kata pangeran Candra.
deg..
"Dewi yg mendengarnya kaget dan jantungnya tiba-tiba berdetak dgn kencangnya.
"Apa katanya? aku miliknya?. dalam benak gadis itu lagi-lagi.
"Hahaha.. apa katamu? gadis keras kepala ini milikmu... hahaha seleramu buruk sekali rupanya". namun dalam hatinya berkata lain"Yah walaupun dia memang sangat cantik".
"Hah kejam sekali,aku yg seimut ini dikatakan buruk olehnya". Batin Dewi lagi dan lagi.
"Terserah..tapi jika kau menyakitinya aku tak segan-segan lagi padamu".
"Kau ingin menantangku rupanya? apa belum puas dengan luka yg ku berikan kemarin-kemarin itu..??
"ohhh jadi begitu rupanya,pangeran Candra saat ku temukan hari itu berkelahi dengan orang yg di katakan adalah pangeran Wiraka ini dan terluka karnanya,sungguh tidak kusangka.. jangan sampai ia terluka lagi karna ulah orang bodoh ini". batinnya lagi.
"Jangan banyak bicara lagi tinggalkan gadis ini.. untuk apa kau mengganggunya? jika katamu ia sangat buruk".
"Aku hanya menginginkan kalung yg ia pakai".
Dewi yg sedari tadi diam saja mendengar pangeran Wiraka menyebutkan kalung itu lagi ia segera angkat bicara.
"Omong kosong.. sebelum kau tau aku menggunakan kalung ini kau sudah menggangguku dan menyerangku. Dan kalung ini milikku, kau tidak boleh mengambil sesuatu dari pemiliknya.. Benda ini sudah bersamaku sejak aku masih bayi jadi kau tidak boleh berharap untuk memilikinya..! Dewi yg kesal pun keceplosan. Seketika ia menarik tangan pangeran Candra untuk pergi.
__ADS_1
Pangeran Candra yg tau gadisnya sedang kesal ber inisiatif membawanya ke suatu tempat dengan teleportasi agar klan hitam tidak dapat mengejarnya.