
Putri Hanindya memberanikan diri untuk membalikkan tubuhnya dan melepaskan pelukan eratnya dari pangeran Candra saat mendengar banyak orang memberikan hormat pada mereka berdua.
Seketika ia menjadi malu karna ternyata banyak para prajurit disana yg melihatnya memeluk pangeran Candra dengan eratnya.
"Astagaa... cobaan apa lagi ini..?" pikir putri Hanindya yg sangat malu karna kepergok memeluk pangeran Candra.
"Silahkan pangeran.. putri..!" kata prajurit itu mempersilahkan mereka berdua untuk masuk ke dalam istana.
Pangeran Candra hanya menganggukkan kepalanya kepada para penjaga sambil menggandeng tangan kekasihnya untuk masuk ke dalam.
Sedangkan putri Hanindya hanya membalas para penjaga dengan senyuman ramahnya.
Putri Hanindya sebenarnya masih sangat heran kenapa mereka malah masuk ke dalam goa itu. Namun ia tetap mengikuti langkah kaki pria di sampingnya yg entah membawanya kemana.
Setelah junjungan mereka telah jauh dari pintu goa para penjaga sibuk membicarakan mereka berdua macam mak mak rempong yg sedang ngerumpi di tempat arisan.
"Bukankah gadis itu sangat mirip dengan ratu Pradita adik sepupu yg mulia raja yg menikah dengan raja kejam itu..?" kata penjaga 1.
"Ya kau benar..sangat mirip" ucap penjaga 2 membenarkan.
"Apa jangan-jangan gadis itu putri dari yang mulia ratu Pradita?? ucap penjaga 3.
"Tidak mungkin..! yg mulia ratu Pradita hanya memiliki dua putra semuanya seorang pangeran". Jawab penjaga lainnya.
"Benar juga.. tapi dia benar-benar seperti pinang di belah dua dengan yang mulia ratu Pradita" ucap penjaga 3 lagi.
Akhirnya mereka membicarakan junjungannya secara panjang kali lebar tanpa mereka sadari sampai ada penjaga lainnya yg mengingatkan kebodohan mereka semua.
"Sudah-sudah.. jika raja mengetahui ulah kalian entah apa yg akan kita alami,lebih baik kita segera merubah wujud kita menjadi seekor ular lagi..! Jangan sampai ada manusia yg mengetahui kita" ucap penjaga 11 menyadarkan mereka semua yg malah membicarakan junjungan mereka itu.
"Baiklah-baiklah.." ucap mereka serempak.
*******
Sedangkan di tempat pangeran Candra dan putri Hanindya yg masih memasuki lorong istana.
__ADS_1
"Kanda.. kenapa goa ini sangat panjang sekali.." tanya sang putri yg sedari tadi melihat sekeliling tempat itu.
"Ya.. ini adalah pintu masuk menuju istana ular putih dinda". jawab pangeran Candra.
"Owh.. ternyata seperti itu" jawab putri Hanindya mengerti.
"Kenapa di sini sama sekali tidak gelap kanda?? bukankah kita telah jauh dari mulut goa" tanya sang putri keheranan.
Mereka sudah berjalan jauh dari mulut goa,jika di pikir-pikir harusnya akan sangat gelap,dan tidak ada satu pun lilin atau lentera apapun atau juga cahaya matahari yg masuk ke dalam goa itu di sepanjang lorong goa itu. Tapi masih terlihat terang saja.
"Ini salah satu keistimewaan istana ular putih dinda.. di kerajaan ular putih walaupun tak ada celah untuk sinar matahari masuk,dan tanpa lilin atau lenterapun akan selalu terang" jawab pangeran Candra sekenanya.
"Sangat ajaib sekali" kata putri Hanindya lirih.
Kemudian mereka memasuki tempat yg sangat menakjubkan,tempat yg sangat indah, dengan banyak berbagai ornamen berlapis emas disana.
"Sangat indah" kata putri Hanindya lirih.
"Nah kita sudah sampai dalam istana,mari kita temui ayahanda dan ibunda di aula istara dinda.." kata pangeran Candra mengajak sang putri.
"kanda.. berhentilah sebentar..!" kata putri Hanindya tiba-tiba.
"Aku ingin bernafas sebentar.." katanya lagi.
"Kenapa harus berhenti hanya untuk bernafas saja.. sambil berjalan pun bisa kok" tanya pangeran Candra heran.
"Ini sangat berbeda,,,dan membutuhkan konsentrasi yg cukup kanda.." kata putri Hanindya menggerutu pada pangeran Candra yg tidak tau maksudnya itu.
Kemudian Putri Hanindya memejamkan matanya dan menarik nafasnya dalam-dalam kemudian ia keluarkan sampai tiga kali.
"Segitu gugupnya kah dinda sekarang..?" kata pangeran Candra yg melihat tingkah gadis kecilnya itu.
"Astaga Kanda... ini seperti menghadapi antara hidup dan mati tau.." jawab putri Hanindya sambil cemberut.
"Entah mengapa aku sangat gugup sekali hari ini" batin sang putri.
__ADS_1
"Hahaha baiklah.. ayo kita temui ibunda dan ayahanda, sekarang sudah tenang kan?? harusnya sudah dong..! jurus penangkalnya saja sudah di pakai" kata pangeran Candra menggoda.
"Ya.. ya.. mari kita bertemu mereka"
Sampailah mereka di aula istana. Di sana ada sang raja dan ratu yg sedang bercengkrama berdua. Pangeran Candra dan putri Hanindya memberi hormat pada mereka.
"Hormat kami ayahanda,ibunda.. Kata pangeran Candra.
"Bangunlah putraku dan.. dinda Pradita.. apakah itu kamu..?" kata sang raja dan saat ia memandang gadis kecil di samping putranya ia tersentak kaget.
Sedangkan putri Hanindya hanya terbengong karna bingung.
"Ya kanda memang sangat mirip". Kata ratu Anjani yg seketika melihat intens ke arah gadis kecil itu setelah suaminya mengatakan tentang adik sepupunya atau ratu Pradita.
Beda lagi dengan pangeran Candra yg seketika itu juga memasang segel pelindung untuk meredam pembicaraan mereka berempat,ia takut nyawa kekasihnya akan terancam jika sampai pembicaraan ini bocor keluar istana.
"Siapakah ratu Pradita itu..? rasanya sangat menenangkan hati saat mendengar nama itu" Batin Putri Hanindya.
"A-ayahanda.. dya bukan bibi ratu Pradita. lihatlah bukankah dia masih terlihat lebih muda dari bibi ratu??" kata pangeran Candra,dia tidak menyangka jika ayahandanya akan langsung mengenali wajah putri dari adik sepupunya itu. Memang tidak bisa di pungkiri wajah putri Hanindya memang sangat mirip dengan ratu Pradita.
"Siapa ratu Pradita itu kanda??" Tanya putri Hanindya lirih karna sangat penasaran.
"Emmm.. itu.." pangeran Candra belum sempat mengatakannya. dan ayahnya sudah menyela.
"Tapi kalung mustika itu milik dinda Pradita,.. ayahanda tidak mungkin salah mengenal kalung itu,benda itu adalah mustika turun-temurun sejak raja-raja terdahulu,,,"Jelas sang raja seraya menunjuk kalung permata hijau yg dikenakan putri Hanindya.
"dinda kau juga harusnya tau tentang benda itu dan tidak ada yg memiliki mustika itu selain dinda Pradita". Kata sang raja meminta pendapat istrinya itu.
"Iya kanda.. aku sangat tau tentang mustika itu.. dinda Pradita selalu mengenakan kalung itu saat dia pergi kemanapun" kata sang ratu membenarkan.
"Tunggu kenapa kau memasang segel ini..?" tanya sang raja heran dengan tingkah putranya yg tidak seperti biasanya.
"Iya ayahanda.... Ananda mohon jangan sampai ada yg mendengar pembicaraan ini,,. Ayahanda pasti pernah mendengar tentang sebuah ramalan tentang putri dari bibi Pradita kan..? Sebenarnya gadis kecilku ini adalah putri dari bibi Pradita yg terpaksa bibi buang untuk menghindarkannya dari rencana pembunuhan yg akan dilakukan oleh paman raja Darma,namanya adalah putri Hanindya". kata pangeran Candra menjelaskan,karna tidak mungkin ia bisa menyembunyikannya lagi.
** Sekian dulu update hari ini ya..
__ADS_1
** Moga terhibur,,jangan lupa like and coment.
** Makasih yg udah mampir 😘😘